Tren Makanan Fermentasi Sehat, Lezat, dan Mendunia
Tren Makanan Fermentasi Sehat, Lezat, dan Mendunia--screnshoot dari web
KORANRM.ID - Di tengah maraknya kesadaran akan pola makan sehat, tren makanan fermentasi kembali mencuri perhatian dunia. Fermentasi, yang merupakan metode kuno untuk mengawetkan makanan dan meningkatkan nutrisinya, kini menjelma menjadi gaya hidup baru bagi mereka yang ingin tetap sehat tanpa mengorbankan kenikmatan rasa. Dari tempe, kimchi, kefir, kombucha, hingga sauerkraut—hidangan-hidangan ini tak hanya menyehatkan pencernaan, tetapi juga telah menjadi bagian dari gelombang kuliner global yang disukai banyak kalangan.
Fermentasi adalah proses biokimia di mana mikroorganisme seperti bakteri, ragi, atau jamur memecah zat organik seperti gula dan pati menjadi asam, gas, atau alkohol. Proses ini bukan hanya membuat makanan lebih awet secara alami, tapi juga menciptakan rasa unik serta meningkatkan kandungan gizi. Misalnya, tempe yang dibuat dari fermentasi kedelai menjadi sumber protein nabati yang tinggi dan mudah dicerna, sementara kimchi yang berasal dari Korea mengandung probiotik yang mendukung kesehatan usus.
BACA JUGA:Keanekaragaman Sawit Nusantara, Mengenal Jenis-jenis Kelapa Sawit di Indonesia
BACA JUGA:Menuju Kemakmuran, Menggali Keunggulan dan Potensi Pertanian Sawit
Tren ini bukan sekadar gaya hidup sementara. Riset ilmiah telah menunjukkan bahwa makanan fermentasi dapat mendukung mikrobioma usus, memperkuat sistem imun, dan bahkan memengaruhi kesehatan mental. Studi dari Harvard Medical School (2021) mengungkapkan bahwa konsumsi makanan fermentasi secara rutin dapat meningkatkan keberagaman bakteri baik di saluran pencernaan, yang berperan penting dalam proses metabolisme dan pengurangan peradangan. Tak heran jika dalam dunia wellness, fermentasi dianggap sebagai “superfood alami”.
Fenomena makanan fermentasi juga merefleksikan perpaduan antara kearifan lokal dan inovasi modern. Di Indonesia sendiri, fermentasi telah menjadi bagian dari budaya kuliner sejak lama, baik dalam bentuk tempe, tape, peuyeum, atau dadih. Kini, dengan berkembangnya industri makanan sehat dan meningkatnya jumlah konsumen sadar gizi, produk-produk fermentasi lokal kembali mendapatkan tempat istimewa. Bahkan, banyak pelaku UMKM mulai memodifikasi rasa atau menambahkan cita rasa kekinian seperti tempe smoked, tape brownies, atau kombucha dengan berbagai varian buah lokal.
BACA JUGA:Rahasia Simpan Buah Potong di Kulkas: 3 Cara Mudah Agar Tidak Cepat Kering
BACA JUGA:Es Krim Buah Segar 2 Bahan, Manjakan Lidah Tanpa Ribet!
Sementara itu, di luar negeri, makanan fermentasi terus meraih popularitas. Kombucha, minuman teh fermentasi yang mengandung kultur bakteri dan ragi, kini tersedia dalam berbagai rasa dan dikemas dalam botol estetik yang cocok untuk gaya hidup urban. Kimchi dan miso dari Jepang dan Korea bahkan menjadi bahan pokok dalam berbagai resep modern, termasuk dalam menu fusion di restoran bintang lima. Di Eropa dan Amerika, yogurt probiotik dan kefir semakin banyak dicari karena manfaatnya yang telah terbukti dalam meningkatkan sistem pencernaan.
Yang menarik, tren ini tak hanya berkembang di kalangan dewasa atau pegiat diet saja. Anak muda juga mulai tertarik dengan makanan fermentasi karena hadir dalam bentuk kreatif, lezat, dan estetik. Kombinasi antara manfaat kesehatan dan estetika penyajian membuat makanan ini populer di media sosial. Banyak content creator kuliner yang membuat video tutorial mengolah makanan fermentasi rumahan seperti membuat kimchi sendiri, membuat yogurt tanpa mesin, atau bereksperimen dengan starter kombucha.
Namun, di balik tren yang berkembang ini, ada tantangan edukasi masyarakat tentang proses fermentasi yang aman. Karena melibatkan mikroorganisme, kebersihan dan takaran bahan menjadi sangat penting agar makanan yang dihasilkan tidak justru membahayakan. Oleh karena itu, pemerintah melalui BPOM dan Dinas Kesehatan turut mendorong edukasi serta sertifikasi bagi produsen makanan fermentasi, khususnya UMKM, agar dapat bersaing di pasar lokal maupun ekspor.
BACA JUGA:Rahasia Simpan Buah Potong di Kulkas: 3 Cara Mudah Agar Tidak Cepat Kering
Dari sisi ekonomi, tren fermentasi membuka peluang bisnis yang cukup luas. Permintaan terhadap produk-produk sehat terus meningkat. Produk lokal seperti tempe dan tape kini dikemas secara modern dan diekspor ke berbagai negara. Bahkan, tempe telah dinobatkan sebagai salah satu pangan masa depan karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan ramah lingkungan.
Dengan semakin meluasnya akses terhadap informasi gizi dan kesadaran akan pentingnya kesehatan jangka panjang, makanan fermentasi diyakini akan tetap menjadi tren kuat di tahun-tahun mendatang. Ia tidak hanya menjadi bagian dari sejarah kuliner dunia, tapi juga solusi masa kini untuk gaya hidup sehat, lezat, dan berkelanjutan.
BACA JUGA:Jarang Disadari, Ternyata Baby Oil Punya 5 Manfaat Ajaib untuk Ketiak
Referensi:
• Harvard Medical School. (2021). “The Gut Microbiome and Probiotics.”
• WHO. (2023). “Traditional Fermented Foods and Their Health Benefits.”
• Kompas.com. (2024). “Tempe Indonesia Kini Diekspor ke Lebih dari 20 Negara.”
• CNN Indonesia. (2023). “Kombucha dan Probiotik Lokal: Peluang Pasar di Tengah Gaya Hidup Sehat.”
• FAO. (2022). “Fermentation: A Key to Food Preservation and Nutritional Value.”