Dinas Pertanian Dorong Petani dari Budidaya Menjadi Budaya Tanam Bawang Merah
Bawang Merah.-Sahad-Radar Mukomuko
koranrm.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mukomuko dalam hal ini Dinas Pertanian, terus mengupayakan pengembangan budidaya bawang merah sebagai langkah strategis untuk mengendalikan inflasi daerah sekaligus meningkatkan perekonomian petani. Program ini dilaksanakan secara konsisten melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pertanian (Kementan).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman, SP, MP, mengatakan pembinaan terhadap petani bawang merah terus dilakukan oleh pemerintah daerah. Pada 2025, Pemkab Mukomuko telah menyalurkan bantuan bibit bawang merah kepada petani di Kecamatan Selagan Raya. Ia berharap, petani yang awalnya budidaya, menjadi budaya tanam bawang merah.
Namun, pada 2026 pemerintah daerah dipastikan tidak mengalokasikan bantuan bibit bawang merah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Meski demikian, Dinas Pertanian tetap mengupayakan dukungan melalui pengajuan bantuan ke pemerintah pusat.
“Tahun ini tidak ada bantuan bibit bawang merah dari APBD, tapi kami upayakan bantuan dari APBN,” ujar Hari Mustaman, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah langkah konkret telah dilakukan Pemkab Mukomuko dalam pengembangan bawang merah. Di antaranya pemberian bantuan benih bawang merah varietas Bima Brebes kepada kelompok tani di beberapa kecamatan, seperti Selagan Raya dan Air Manjuto, yang disertai pendampingan intensif dari petugas lapangan.
Selain itu, pemerintah daerah juga melakukan perluasan areal tanam melalui optimalisasi lahan, termasuk uji coba penanaman di lahan gambut guna menemukan metode budidaya yang sesuai dengan kondisi lokal Mukomuko. Pada 2024, penanaman bawang merah berhasil dilakukan di lahan seluas 6 hektare dengan pembiayaan dari APBD dan Bank Indonesia.
Upaya lain yang didorong adalah pengembangan penangkar benih lokal. Kementerian Pertanian mendukung Mukomuko untuk menjadi sentra produksi benih bawang merah di wilayah Sumatera. Program ini bertujuan agar petani tidak lagi bergantung pada pasokan benih dari luar daerah serta menjamin ketersediaan benih bermutu secara berkelanjutan.
Hari menambahkan, hasil panen dari program pengembangan bawang merah juga dimanfaatkan untuk menekan inflasi daerah. Pada akhir 2024, produksi bawang merah di Mukomuko mencapai sekitar 14,7 ton dan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Langkah ini dinilai efektif menjaga stabilitas pasokan dan harga bawang merah di daerah tersebut.
“Dengan berbagai upaya ini, kami optimistis Mukomuko bisa mewujudkan swasembada bawang merah dan menjadi salah satu daerah penyangga pangan strategis di Provinsi Bengkulu, bahkan di Sumatera,” pungkasnya.