Qatar, Negara Tanpa Sungai Melawan Krisis Air
Qatar, Negara Tanpa Sungai Melawan Krisis Air--screnshoot dari web
KORANRM.ID - Qatar dikenal sebagai negara kaya raya dengan pendapatan yang melimpah dari industri minyak bumi yang luar biasa.
Qatar juga terkenal ketika dipilih sebagai tuan rumah Piala Dunia Fifa Tahun 2022.
Dimana piala dunia ini disebut-sebut sebagai turnamen sepak bola yang termahal di sepanjang sejarah Piala Dunia.
Selain itu Qatar secara resmi menyambut gelar sebagai negara terkaya nomor 1 di dunia berdasarkan pendapatan perkapita.
BACA JUGA:Termasuk Megawati, 3 Pemain Ini Batal Tampil di AVC Women's Nations Cup 2025
BACA JUGA:Kesadaran Masyarakat Terhadap Vaksinasi Rabies Meningkat
Menurut data Bank Dunia pada Tahun 2022 pendapatan per individu di Qatar mencapai $125.240 per tahun atau sekitar satu miliar 935 juta.
Prestasi ekonomi yang mengesankan ini menjadikan Qatar sebagai juara pertama dalam daftar negara-negara dengan pendapatan per individu yang tertinggi di dunia.
Kendati demikian, dibalik kemewahan yang dimilikinya serta ekonomi yang telah mencapai kemajuan yang signifikan.
Qatar dihadapkan pada tantangan yang serius terkait akses terhadap air bersih.
Laporan tinjauan populasi dunia mencatat bahwa Qatar menempati peringkat teratas dalam daftar negara yang paling membutuhkan pasokan air bersih.
Kurangnya sumber air alami dan iklim gurun yang panas serta curah hujan yang rendah menjadi hambatan utama bagi Qatar untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi penduduknya.
Laporan dari sumber daya dunia Amerika Serikat, menunjukkan bahwa Qatar berada di peringkat teratas dari 17 negara yang menderita tekanan air yang sangat tinggi akibat perubahan iklim faktor utama yang menyebabkan tekanan air yang tinggi di Qatar adalah iklim gurun yang panas yang menjadi ciri khas wilayahnya.
Dimana sebagian besar wilayah Qatar adalah gurun dan hanya 1,64% dari wilayahnya yang merupakan tanah subur kondisi ini diperparah oleh curah hujan yang rendah.
Dan kenyataan bahwa Qatar tidak memiliki sungai permanen yang bisa menyediakan sumber air tawar.
Dalam konteks ini Qatar menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap krisis iklim dan menghadapi masalah yang serius terkait kekurangan air tawar.
BACA JUGA:Italia, Negara yang Menjadi Tempat Lahirnya Mafia
Ironisnya Qatar merupakan salah satu negara dengan tingkat konsumsi air domestik yang tertinggi di dunia Menurut data yang dirilis oleh Bank Dunia pada Tahun 2022.
Konsumsi air domestik perkapita di Qatar mencapai angka yang luar biasa, yaitu 430 liter per harinya.
Angka ini jauh melebihi rata-rata Global yang hanya sekitar 120 liter per hari.
Selain itu berbagai penelitian ilmiah yang menganalisis penggunaan air di Qatar telah mengungkapkan fenomena yang mengkhawatirkan, yaitu kecenderungan sebagian penduduk Qatar untuk membuang-buang air yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.
Fenomena ini terutama berkaitan dengan penggunaan air untuk irigasi tanaman serta ladang.
Dimana mereka cenderung terus-menerus mengeluarkan air dibandingkan menerapkan metode penyiraman secara massal dan berkala.
Ajang Piala Dunia Fifa Tahun 2022 dimana Qatar menjadi tuan rumah telah mendorong negara ini untuk meningkatkan pasokan airnya sebesar 10% upaya peningkatan pasokan Air ini bertujuan untuk mengakomodasi sebanyak 1,2 juta penggemar yang datang ke Qatar untuk mengikuti turnamen sepak bola tersebut.
Selain itu peningkatan pasokan air juga penting guna memelihara ribuan hektar rumput yang ditanam pada lapangan di setiap stadion.
Setidaknya Qatar memerlukan sekitar 10.000 liter air setiap harinya untuk mengairi setiap lapangan stadion di samping persiapan piala dunia, pertumbuhan ekonomi dan populasi yang pesat di Qatar telah menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam kebutuhan akan air.
Kebutuhan air untuk konsumsi rumah tangga, seperti minum, memasak dan mandi diperkirakan mencapai 150 juta meter kubik per tahunnya.
Sementara itu kebutuhan air untuk keperluan irigasi, industri dan energi diperkirakan mencapai 350 juta meter kubik per tahunnya.
Tetapi sayangnya meskipun kebutuhan akan air di Qatar sangat tinggi tetapi negara ini menghadapi keterbatasan sumber daya air yang signifikan dengan hanya 0,03 km³ air perkapita dan merupakan salah satu yang terendah di dunia.
Karena itu Qatar terpaksa mengimpor air dari negara-negara tetangga, seperti Arab Saudi, Oman, Uni Emirat Arab dan negara-negara Timur Tengah lainnya.
Pada tahun 2017 Qatar menghadapi krisis air yang signifikan sebagai akibat dari Embargo yang diberlakukan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir serta Bahrain.
Embargo ini mengakibatkan Qatar kehilangan akses pada sumber air impornya yang merupakan salah satu sumber utama pasokan air negara ini.
Embargo tersebut dipicu oleh serangkaian perselisihan politik antara Qatar dan negara-negara tetangganya tersebut.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menuduh Qatar mendukung terorisme dan mengacaukan stabilitas regional sementara itu Qatar membantah tuduhan tersebut dan mengklaim bahwa Embargo tersebut merupakan pelanggaran terhadap kedaulatannya.
Namun setelah beberapa tahun Embargo tersebut akhirnya dicabut pada tahun 2021 dan Qatar kembali menerima pasokan air impor dari negara-negara tetangganya.
Kendati demikian Qatar tetap berkomitmen untuk mengurangi ketergantungannya pada impor air karena itu negara ini mengembangkan 3 sumber utama yang menjadi tulang punggung pasokan air, yaitu desalinasi air tanah dan pengolahan limbah air.
Proses desalinasi yang berarti menghilangkan garam dari air laut untuk menghasilkan air bersih, merupakan metode utama yang digunakan oleh Qatar.
Dimana negara ini memiliki lebih dari 20 pabrik desalinasi yang berperan penting dalam memenuhi sekitar 70% dari total kebutuhan airnya.
Kendati demikian desalinasi adalah proses yang sangat mahal, baik dalam hal biaya maupun konsumsi energi.
Tetapi beruntungnya Qatar memiliki sumber daya finansial yang melimpah untuk menangani biaya yang sangat tinggi tersebut.