Banjir Jakarta 2025 Jadi yang Terparah dalam Sejarah

Banjir Jakarta 2025 Jadi yang Terparah dalam Sejarah--screenshot dari web.

KORANRM.ID - Awal tahun 2025 mencatatkan peristiwa yang akan dikenang sebagai salah satu bencana terbesar dalam sejarah ibu kota. Banjir yang melanda Jakarta pada Januari 2025 bukan hanya menenggelamkan ribuan rumah, tetapi juga memporak-porandakan sendi kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan kota megapolitan ini. Curah hujan ekstrem yang mencapai rekor tertinggi dalam dua dekade terakhir, diperparah dengan penurunan muka tanah dan pasang laut tinggi, menjadikan banjir kali ini sebagai yang terparah sepanjang sejarah Jakarta.

 

Sejak awal Januari, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan peringatan dini akan datangnya potensi hujan ekstrem. Namun, skala curah hujan yang mencapai lebih dari 400 mm dalam sehari membuat berbagai infrastruktur pengendali air tak mampu menampung volume yang datang serentak. Kali Ciliwung, Pesanggrahan, hingga Sunter meluap bersamaan, menenggelamkan wilayah padat penduduk seperti Kampung Melayu, Cipinang, dan Pluit. Bahkan, kawasan bisnis Sudirman-Thamrin yang biasanya menjadi simbol ketahanan kota ikut lumpuh terendam air setinggi pinggang orang dewasa.

 

Dampaknya tidak hanya soal ribuan rumah yang rusak, tetapi juga kerugian ekonomi yang ditaksir mencapai triliunan rupiah. Aktivitas perkantoran berhenti total selama lebih dari seminggu, logistik tersendat, pusat perbelanjaan tutup, dan ribuan kendaraan terendam. Lebih dari 150 ribu warga terpaksa mengungsi, sementara rumah sakit kewalahan menerima korban dengan penyakit bawaan banjir seperti diare, leptospirosis, dan infeksi saluran pernapasan.

 

Pemerintah pusat dan daerah segera menetapkan status darurat bencana. Ribuan personel TNI, Polri, dan relawan dikerahkan untuk evakuasi, distribusi logistik, hingga pelayanan kesehatan. Namun, banjir ini kembali membuka luka lama: persoalan tata kota Jakarta yang sejak lama diperingatkan para ahli. Urbanisasi tak terkendali, alih fungsi lahan resapan, penurunan muka tanah hingga 20 cm per tahun di wilayah utara, serta sistem drainase yang tak sebanding dengan pertumbuhan kota menjadi bom waktu yang akhirnya meledak di 2025.

 

Lebih jauh, banjir ini menunjukkan betapa Jakarta kian rapuh di tengah perubahan iklim. Peningkatan intensitas hujan ekstrem akibat fenomena iklim global semakin memperparah risiko bencana. Dalam laporan IPCC, kota-kota pesisir seperti Jakarta berada di garis depan ancaman banjir rob dan kenaikan permukaan laut. Situasi ini diperburuk oleh fakta bahwa Jakarta merupakan salah satu kota dengan tingkat penurunan tanah tercepat di dunia, yang membuat sebagian wilayahnya kini berada di bawah permukaan laut.

 

BACA JUGA:Pemdes Teras Terunjam Tuntaskan Pembangunan Los Pasar dari Dana Desa 2025

Di balik bencana, muncul pula solidaritas warga. Sejumlah komunitas lokal bergerak cepat membangun dapur umum, menggalang donasi, hingga memanfaatkan teknologi digital untuk mempercepat informasi evakuasi. Di media sosial, warganet berbagi peta genangan banjir secara real-time, membantu masyarakat mencari jalur aman, hingga menyuplai kebutuhan bagi pengungsi. Solidaritas ini menunjukkan bahwa meski kota lumpuh, semangat gotong royong tetap hidup di tengah krisis.

 

Pasca banjir, muncul desakan kuat agar pemerintah tidak lagi menunda solusi jangka panjang. Proyek raksasa seperti Giant Sea Wall atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) kembali menjadi sorotan, meskipun menimbulkan pro dan kontra. Relokasi penduduk di bantaran sungai dianggap sebagai langkah mendesak, meski sensitif secara sosial dan politik. Sementara itu, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi beban Jakarta, meski tidak serta-merta menyelesaikan masalah banjir bagi 11 juta penduduk yang masih bertahan di ibu kota lama.

 

Banjir Jakarta 2025 adalah alarm keras: kota ini tidak bisa terus bergantung pada solusi tambal sulam. Dibutuhkan strategi radikal yang menggabungkan infrastruktur modern, restorasi ekosistem, dan penataan ruang yang manusiawi. Tanpa itu semua, banjir serupa bahkan yang lebih parah bisa kembali menghantam di masa depan.

 

Tragedi ini menyisakan pesan penting: Jakarta tidak hanya berhadapan dengan air, tetapi juga dengan pilihan politik, ekonomi, dan sosial yang akan menentukan apakah kota ini akan bertahan atau tenggelam di abad ke-21.

 

Referensi:

 

BMKG. (2025). Laporan Cuaca Ekstrem Januari 2025.

 

IPCC. (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report.

 

Deltares. (2024). Jakarta Flood Risk and Land Subsidence Study. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan