Sebanyak 200 Ekor Kerbau Mati di Teramang Jaya, Ini Penyebabnya
Pitriyani Ilyas, S.Pt, Kadis Pertanian.-Venty -Radar Mukomuko
koranrm.id - Peternak kini dilanda musibah, adanya kasus yang menarik perhatian di lapangan di mana banyaknya kerbau terkena penyakit ngorok atau Septicaemia Epizootica (SE), adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida. Bakteri Pasteurella multocida, bersifat menular dan lebih mematikan pada kerbau dibanding sapi, dimana sapi lebih kuat terhadap serangan SE. Kadis Pertanian Ir. Pitriyani Ilyas, S.Pt saat ditemui di kantornya pada tanggal 28 Juli 2025 yang beralamat di Jl. Imam Bonjol, Kompleks Perkantoran Bandaratu, menanggapi hal ini dengan serius.
“Sekarang kita sedang menghadapi wabah SE, awalnya muncul di Teramang Jaya, dan kini sudah menyebar ke wilayah Pasar Sebelah,” ungkapnya.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, sejak April hingga Juli 2025, jumlah kerbau yang mati akibat SE mencapai 200 ekor di Teramang Jaya. Petugas lapangan terus berupaya melakukan pengobatan dan menyosialisasikan kepada peternak agar tidak memindahkan ternak dari daerah terjangkit.
Namun, kendala lain muncul dari rendahnya kesadaran peternak dalam melakukan vaksinasi ternak. Padahal, pemerintah sudah menyediakan stok vaksin melalui Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan). Namun, minat peternak untuk vaksin sangat minim.
BACA JUGA:Perjuangan DLH Mengatasi Sampah, Inilah Langkah yang Dilakukan
BACA JUGA:Membersihkan Noda Membandel di Lantai Keramik
“Kita sudah imbau peternak untuk vaksin sejak lama, tapi karena sebagian besar ternak dibiarkan liar, peternak jadi kesulitan bahkan tidak mau melakukan vaksinasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, seharusnya saat wabah SE muncul di kabupaten lain beberapa waktu lalu, peternak di Mukomuko sudah melakukan vaksinasi sebagai langkah pencegahan. Kini, ketika wabah sudah masuk, upaya vaksinasi tidak bisa lagi dilakukan.
“Kalau ternak sudah terjangkit, vaksin sudah tidak bisa diberikan. Makanya idealnya vaksin dilakukan sebelum ada kasus, tapi ya bagaimana mau vaksin, kalau ternaknya liar semua dan kesadaran peternaknya rendah,” tutupnya.
Kerjasama antara petugas dan peternak sangat dibutuhkan di sini, baik dalam mencegah penyebaran penyakit menular seperti SE. Tanpa kesadaran penuh dari para peternak, upaya peningkatan kualitas dan kesehatan ternak akan mengalami kendala dan sulit tercapai.