Vietnam Incar Indonesia Ekspor Beras
Vietnam Incar Indonesia Ekspor Beras.--Sceenshot
koranrm.id - Presiden Indonesia Prabowo Subianto saat menghadiri KTT BRICS di Brazil pekan lalu bertemu langsung dengan Perdana Menteri (PM) Vietnam, Pham Minh Chinh, Di sela-sela pertemuan kelompok negara berkembang tersebut, presiden Prabowo dan PM Vietnam juga berbincang untuk meningkatkan pengiriman beras untuk jangka panjang.
Untuk Menanggapi hal tersebut Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan kerja sama antara Indonesia dengan Vietnam tesebut secara tidak langusng juga dapat membuka peluang Indonesia serta Vietnam untuk mencari Pangsa pasar secara bersama-sama untuk ekspor beras, tidak hanya sebatas impor semata. Tetapi ada dampak positif dan celah untuk mencari pangsa pasar, baik itu ekspor maupun untuk Impor.
Menurut Amran, ekspor beras itu akan dilakukan ke negara-negara yang membutuhkan. Dia menilai kerja sama ini bagus karena dapat membuka pangsa pasar ke depan. "Bukan, maksudnya contoh nih kalau kita suatu hari Insya Allah ya, kelihatan stok kita lumayan besar. Nah, mungkin bisa jadi kita cari pasar bersama, ya kan negara mana itu kita tuju, kita ekspor ke mana gitu. Kalau kita lebih, kita sama-sama mengekspor mungkin ya, pandangan saya kita ekspor ke negara yang butuh. Kolaborasi lah, itu sangat bagus," kata Amran seperti dikutip detikFinance dan beberapa sumber lain.
BACA JUGA:Membongkar Rahasia Motor Listrik: Komponen Utama dan Fungsinya
Saat ditanya terkait perjanjian dagang tersebut, Amran menerangkan hal itu ranahnya Kementerian Perdagangan. Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi mengatakan keputusan tersebut diambil Prabowo pastinya telah melalui kajian dan pertimbangan banyak hal. Arief menegaskan Prabowo mementingkan kepentingan petani Indonesia.
"Tugas kita nih sebagai kepala lembaga, menteri dan lain-lain itu ikut perintah Presiden. Karena Pak Presiden udah memikirkan, pasti ada hubungan bilateral, pasti ada trade-off, pasti ada banyak hal. Tapi yang jelas Pak Presiden itu mementingkan petani Indonesia," kata Arief.
Saat ditanya lebih lanjut mengenai arah kerja sama itu berupa ekspor beras ke Indonesia, Arief menerangkan pemerintah tengah menyiapkan produksi dalam negeri dengan lebih baik. Kendati begitu, menurut dia, kondisi ke depan tidak dapat diprediksi sehingga Indonesia bisa saja membuka peluang impor beras.
"Kita nggak pernah tahu, kadang ada banjir, kadang ada gunung meletus, kadang El Nino, kadang La Nina. Di saat kondisi kayak gitu, terus nanti nyari-nyari beras susah disalahin lagi, kan enggak. Jadi kita kan nggak pernah tahu yang ke depan itu seperti apa. Tapi you have to prepare for the worst," terang Arief.
BACA JUGA:Motor Listrik: Mengaspal Menuju Gaya Hidup Hijau yang Lebih Berkelanjutan
Terkait mencari pangsa ekspor beras dengan Vietnam, Arief menyebut hal tersebut bisa saja dilakukan asalkan stok beras dalam negeri telah melimpah. Kendati begitu, dia menegaskan produksi dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.
Melansir dari Reuters, Vietnam dikabarkan akan menandatangani perjanjian dengan Indonesia untuk meningkatkan pengiriman beras jangka panjang. Perjanjian ini muncul usai ekspor beras Vietnam ke Indonesia anjlok 97 persen menjadi 19.000 metrik ton pada semester I-2025.
Pemerintah Vietnam mengatakan perjanjian perdagangan beras akan berkontribusi pada ekspor beras jangka panjang dan berkelanjutan bagi Vietnam. Perjanjian tersebut juga memastikan ketahanan pangan untuk Indonesia
Dihimpun dari beberapa sumber, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia masih impor beras dengan nilai mencapai US$43,2 juta atau setara Rp700,66 miliar (asumsi kurs Rp16.220 per dolar AS) pada Januari 2025. Namun, nilai impornya lebih rendah dibandingkan periode yang sama ditahun 2024 yang pernah mencapai US$278,03 juta, atau turun 84,46 persen secara tahunan.
BPS mengungkap adapun volume impor beras mencapai 79.361 ton pada Januari 2025. Kendati demikian, volumenya turun 82,05 persen, dibandingkan periode yang sama ditahun 2024 lalu sebanyak 442.112 ton. Berdasarkan data BPS, impor beras pada Januari 2025 yang diterima Indonesia mayoritas berasal dari negara tetangga, seperti Thailand, Vietnam, dan Myanmar.
Untuk Thailand, misalnya, impor beras yang diterima Indonesia sebanyak 13.984 ton beras dengan nilai US$8,06 juta pada Januari 2025. Jika dibandingkan dengan periode yang sama impor beras tahun 2024, volumenya mencapai 235.840 ton dengan nilai US$151,88 juta.
BACA JUGA:Kelezatan Rawon Surabaya, Sebuah Perjalanan Kuliner yang Menggoda Selera
Selain dari Thailand, Indonesia juga mengimpor 15.050 ton beras dari Vietnam atau nilainya mencapai US$8,27 juta pada Januari 2025. Sementara pada Januari 2024 lalu volume impor beras dari negara ini adalah 32.342 ton atau senilai US$21,04 juta. Kemudian dari Myanmar sebanyak 6.680 ton atau bernilai US$3,64 juta pada Januari 2025. Sedangkan pada periode yang sama di tahun lalu nilai impornya mencapai US$23,96 juta atau 41.640 ton beras.
Kemudian pemerintah juga mengimpor sebanyak 16.876 ton beras dari Pakistan atau senilai US$8,98 juta pada Januari 2025. Pada Januari 2024, Indonesia menerima 129.781 ton beras asal Pakistan dengan nilai US$79,33 juta.