Iran dan Israel: Bayangan Pengaruh di Kebijakan Luar Negeri Negara-Negara Islam
Iran dan Israel Bayangan Pengaruh di Kebijakan Luar Negeri Negara-Negara Islam--screenshot dari web.
KORANRM.ID - Persaingan antara Iran dan Israel telah lama menjadi faktor penentu dalam lanskap geopolitik Timur Tengah dan sekitarnya. Namun, pengaruh kedua negara ini melampaui konflik langsung mereka, menjangkau dan membentuk kebijakan luar negeri negara-negara Islam lainnya dengan cara yang kompleks dan seringkali berlawanan. Pemahaman tentang bagaimana Iran dan Israel menjalankan pengaruh mereka sangat krusial untuk memahami dinamika politik yang rumit di dunia Islam.
Iran, sebagai kekuatan regional dengan ideologi Syiah dan ambisi regional yang kuat, mencoba mempengaruhi negara-negara Islam melalui berbagai jalur. Dukungan finansial dan militer kepada kelompok-kelompok proksi, seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas dan Jihad Islam di Palestina, serta berbagai milisi Syiah di Irak dan Suriah, merupakan strategi kunci. Dengan mendukung kelompok-kelompok ini, Iran membangun jaringan pengaruh yang luas, memungkinkan mereka untuk memperluas jangkauan dan mempromosikan agenda politiknya di berbagai negara. Dukungan ini seringkali dikaitkan dengan kepentingan ideologis dan keamanan nasional Iran, yang melihat kelompok-kelompok proksi sebagai benteng pertahanan terhadap pengaruh Barat dan Israel.
Namun, strategi ini juga menimbulkan konsekuensi. Dukungan kepada kelompok-kelompok yang terlibat dalam konflik bersenjata dapat memperburuk ketidakstabilan regional dan menimbulkan kecaman internasional. Selain itu, pendekatan Iran yang seringkali dianggap sebagai campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain, menimbulkan ketegangan dengan negara-negara tetangga dan negara-negara Arab Sunni. Meskipun Iran mengklaim bahwa tindakannya bertujuan untuk melindungi kepentingan komunitas Syiah dan melawan penindasan, banyak negara melihatnya sebagai upaya untuk memperluas pengaruh dan hegemoni regional.
Di sisi lain, Israel, sebagai negara dengan teknologi militer canggih dan hubungan erat dengan Amerika Serikat, menggunakan pendekatan yang berbeda. Israel cenderung fokus pada kerjasama keamanan dan ekonomi dengan negara-negara Islam moderat, terutama negara-negara Arab Sunni. Mereka menawarkan teknologi militer canggih, pelatihan, dan intelijen untuk melawan ancaman bersama, seperti ekstremisme dan pengaruh Iran. Kerjasama ini seringkali dibangun berdasarkan kepentingan bersama dalam melawan terorisme dan menjaga stabilitas regional.
Kesepakatan Abraham, yang menormalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab, merupakan contoh nyata dari strategi ini. Kesepakatan ini menunjukkan kemampuan Israel untuk membangun hubungan dengan negara-negara Arab Sunni yang sebelumnya memiliki hubungan yang tegang atau bahkan bermusuhan. Kesepakatan ini didasarkan pada kepentingan bersama dalam melawan pengaruh Iran dan mengamankan kepentingan ekonomi dan keamanan. Namun, kesepakatan ini juga menimbulkan kontroversi, dengan banyak pihak Palestina dan kelompok-kelompok pro-Palestina mengkritiknya karena mengabaikan masalah Palestina.
BACA JUGA:Dukungan Iran terhadap Palestina dan Kelompok Hamas dalam Konflik dengan Israel
Pengaruh Israel juga terlihat dalam dukungannya kepada kelompok-kelompok oposisi di beberapa negara Islam. Meskipun pendekatan ini lebih terselubung daripada dukungan Iran kepada kelompok-kelompok proksi, Israel secara aktif terlibat dalam upaya untuk mendukung kelompok-kelompok yang sejalan dengan kepentingannya, terutama dalam melawan pengaruh Iran. Dukungan ini dapat berupa pelatihan militer, bantuan finansial, dan penyebaran informasi. Namun, strategi ini juga berisiko, karena dapat memicu reaksi balik dan memperburuk ketidakstabilan di negara-negara yang terlibat.
Persaingan antara Iran dan Israel juga memengaruhi kebijakan luar negeri negara-negara Islam dalam hal hubungan mereka dengan kekuatan global. Beberapa negara Islam cenderung bersekutu dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat untuk melawan pengaruh Iran, sementara yang lain lebih dekat dengan Iran dan Rusia, membentuk poros kekuatan yang berlawanan. Hal ini menciptakan dinamika yang kompleks dan dinamis dalam kebijakan luar negeri negara-negara Islam, di mana negara-negara ini harus menyeimbangkan kepentingan mereka sendiri dengan tekanan dari kedua kekuatan regional tersebut.
Selain itu, persaingan antara Iran dan Israel juga mempengaruhi kebijakan luar negeri negara-negara Islam dalam hal isu-isu regional, seperti konflik Palestina-Israel dan perang saudara di Suriah. Posisi negara-negara Islam dalam isu-isu ini seringkali mencerminkan keseimbangan antara pengaruh Iran dan Israel, serta kepentingan nasional mereka sendiri. Beberapa negara cenderung mendukung Palestina, sementara yang lain lebih dekat dengan Israel, menciptakan perpecahan di antara negara-negara Islam.
Interaksi antara Iran dan Israel di ranah kebijakan luar negeri negara-negara Islam merupakan fenomena yang terus berkembang dan kompleks. Kedua negara menggunakan berbagai strategi untuk mempengaruhi kebijakan luar negeri negara-negara Islam, dengan tujuan untuk memperluas pengaruh dan mengamankan kepentingan mereka. Pemahaman yang mendalam tentang dinamika ini sangat penting untuk memahami lanskap politik yang rumit di dunia Islam dan memprediksi perkembangan masa depan di kawasan tersebut. Persaingan ini tidak hanya membentuk kebijakan luar negeri negara-negara Islam, tetapi juga membentuk dinamika regional yang lebih luas, yang berdampak pada stabilitas dan keamanan internasional. Ketegangan yang terus berlanjut menunjukkan bahwa persaingan ini akan terus menjadi faktor penting dalam dinamika geopolitik regional dan internasional.