Suku Gipsi, Kisah Panjang Pengembaraan dan Diskriminasi

Suku Gipsi, Kisah Panjang Pengembaraan dan Diskriminasi.-Deni Saputra-Screenshot

koranrm.id - Di antara bayang sejarah yang panjang dan berliku, terdapat sebuah narasi yang tidak terikat oleh batas-batas geografis. Sebuah perjalanan hidup tentang orang-orang romani atau juga sering disebut sebagai orang Gipsi.

Dilansir dari channel youtube "Kendati Demikian", mereka adalah para penjelajah yang melegenda kelompok minoritas yang nomaden yang secara tradisional. Hidup mengembara di berbagai negara, terutama di kawasan eropa selama berabad-abad. Mereka telah menghadapi diskriminasi dan pengucilan di banyak negara yang kemudian mempengaruhi akses mereka terhadap pendidikan, pekerjaan rumahan serta layanan kesehatan. Karenanya para pria kaum Gipsi biasanya menjadi pedagang ternak, pelatih hewan, tukang perbaiki logam dan reparasi perkakas dan musisi yang melantunkan nada-nada kehidupan.

Sementara itu kaum perempuan menjadi peramal nasib, penjual ramuan ajaib, pengemis dan bekerja sebagai wanita penghibur. Pada abad modern ini, orang-orang Gipsi telah menyebar di hampir semua negara di Eropa. Membawa cerita dari masa lalu, mereka yang sangat kaya dengan populasi yang signifikan di Eropa Timur seperti Rumania, Bulgaria serta hongaria. Namun orang-orang Gipsi tidak berhenti sampai di sana. Sebab mereka juga telah menyebar di Rusia, Jerman, Prancis dan Spanyol total populasi orang-orang Gipsi di dunia saat ini diperkirakan antara du hingga 5 juta jiwa secara keseluruhan. Mereka adalah simbol dari keberagaman dan ketahanan. Sebuah komunitas yang melintasi zaman dan peradaban sambil tetap menjaga energi dari warisan mereka yang tidak lekang oleh waktu. Pada setiap api unggun yang mereka kobarkan, orang-orang Gipsi berkumpul dan bercerita tentang cinta yang telah hilang. Kebebasan yang dicari-cari serta abad-abad perjalanan yang mengandung kisah-kisah yang melegenda secara historis. Bangsa Gipsi memulai perjalanan mereka dari tanah yang kini kita kenal sebagai negara bagian rajastan punjap dan haryana. Bukti-bukti linguistik genetik dan catatan sejarah di halaman-halaman buku semuanya menunjukkan bahwa mereka memulai perjalanan dari India sekitar abad keenam.  invasi yang mengguncang fondasi tanah air mereka, perubahan politik yang tidak terduga serta pencarian akan peluang ekonomi yang lebih baik. Semuanya menjadi faktor-faktor yang mendorong mereka unuk meninggalkan jejak kaki.  Berlayar melintasi padang pasir, menyeberangi lautan dan menapaki pegunungan membentuk jalur-jalur migrasi yang menjadi urat nadi bagi peradaban dari dataran-dataran India yang subur. Kaum Gipsi mengambil langkah pertama dalam odisei mereka yang legendaris bergerak ke barat melintasi Persia yang misterius atau yang kini kita kenal sebagai Iran. Mereka adalah penjelajah dari masa lalu yang jauh menyebar ke Timur Tengah dan Afrika Utara membawa harapan dan secercah kehidupan yang berbeda. Dalam perjalanan yang panjang ini, mereka terpecah menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil menyerap budaya dan bahasa lokal. Namun tetap mempertahankan inti dari identitas mereka yang sangat unik. Pada kisaran abad pertengahan ketika sebagai bagian besar orang Eropa menganggap bahwa dunia hanya seluas desa atau kota. Oang-orang Gipsi tiba-tiba datang dalam kelompok kelompok yang sangat besar bagaikan hantu di siang bolong yang mengejutkan serta membingungkan penduduk setempat. Orang Gipsi dengan warna kulit mata dan rambut yang lebih gelap. Pakaian berwarna-warni, tata krama yang unik serta bahasa yang asing menjadi pendatang baru yang sama sekali berbeda. Selain itu kaum Gipsi juga tidak suka berbaur dengan orang-orang Eropa. Mempertahankan jarak dengan masyarakat yang tidak mengerti bahwa kebiasaan kaum Gipsi adalah warisan dari masa lalu di tanah India. 

Dimana masyarakatnya terbagi-bagi berdasarkan kasta. Kendati demikian seiring waktu yang berlalu rasa ingin tahu yang semula muncul di hati orang-orang Eropa. Perlahan-lahan menjadi rasa curiga. Orang Gipsi yang semula dilihat sebagai pengembara yang eksotis, akhirnya menjadi simbol ketidakpastian serta ketakutan. Dimana mereka tidak lagi disambut dengan tangan terbuka. Akibatnya kaum Gipsi mulai dikucilkan. Dalam makna yang harfiah dipaksa mendirikan kemah hanya di luar perkampungan dan dilarang masuk bahkan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Jika terdapat orang-orang Gipsi yang mencuri makanan untuk bertahan hidup, menghadapi bada diskriminasi. 

Berpindah-pindah ini bukan hanya pilihan biasa, tetapi telah menghasilkan berbagai keterampilan seperti kerajinan logam, jual beli dan hiburan dengan menawarkan beragam jasa yang dibutuhkan paling tidak mereka dapat memenuhi kelangsungan hidup keluarga mereka. Wanita-wanita Gipsi memanfaatkan reputasi bahwa mereka memiliki kekuatan supranatural berpura-pura memilikinya untuk tujuan komersial yang menguntungkan. Selain itu kebiasaan berpindah-pindah ini juga meminimalkan risiko pencemaran budaya atau moral akibat terlalu banyak kontak dengan orang-orang gaje. Gaje merupakan sebuah istilah yang dibuat oleh kaum Gipsi untuk menyebut orang-orang di luar kelompok mereka dengan konotasi merendahkan yang secara harfiah berarti orang udik atau orang barbar. Bi bawah bayang-bayang prasangka yang negatif kaum Gipsi menghadapi badai penganiayaan yang tidak kenal ampun. Mereka diusir dari tanah-tanah Eropa. Dimana mereka pernah bermain dan tertawa meninggalkan jejak-jejak kenangan yang telah mereka ukir.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan