Kisah Nyata Penumpang Grab Motor Listrik Jadi Incaran Copet

koranrm.id - Di tengah arus kendaraan yang saling mengejar waktu, Via Novita pegawai negeri sipil asal Bengkulu yang kini bertugas di Bappenas Pusat tidak menyangka rutinitasnya menuju kantor akan berubah menjadi kisah yang sulit ia lupakan. 

Dari rumah kontrakannya di kawasan Salemba menuju kantornya di Jalan Taman Suropati, Menteng, ia hanya ingin tiba tepat waktu seperti hari-hari biasanya. Namun kenyataan pagi itu berbelok tajam, meninggalkan jejak pengalaman pahit namun penuh pelajaran.

Via bercerita dengan nada yang masih menyimpan kejutan ketika mengingat kembali setiap detik kejadian tersebut. Ia memesan layanan ojek daring seperti biasa, kali ini motor listrik yang menurutnya “lebih sunyi dan nyaman untuk mengawali hari.

” Awalnya, perjalanan berlangsung wajar. Lalu lintas padat, suhu udara lembap, dan pikiran yang sudah mulai tersusun untuk pekerjaan pagi. “Tidak ada firasat apa pun. Jalan juga tidak terlalu macet,” ujarnya sambil menekankan bahwa semuanya terasa normal hingga sebuah motor mendekat terlalu rapat dari sisi kanan.

Motor itu menyalip dengan gerakan yang terlampau agresif, namun masih dalam batas yang sering ditemui di jalanan ibu kota. Via dan pengemudi ojek yang ditumpanginya tidak langsung curiga. 

Namun pada sepersekian detik ketika motor asing itu sejajar dengan mereka, tangan seseorang menyambar tas kerja Via tas berisi laptop kantor, dompet, serta beberapa berkas penting. Tarikan itu begitu cepat, hampir tanpa suara, membuat Via hanya sempat merasakan beban tasnya terlepas dari genggamannya.

“Saya spontan teriak, kaget sekali. Langsung bilang ke abang grab, ‘Bang, kejar! Itu tas saya!’,” tutur Via. Namun harapannya untuk mengejar sirna seketika mendengar jawaban pengemudi. 

Dengan nada menyesal, sang pengemudi menjelaskan bahwa motor listrik yang ia gunakan memiliki batas kecepatan hanya sekitar 65 kilometer per jam. “Nggak bisa ngejar, Mbak. Motor listrik ini mentok segitu,” begitu kata pengemudi, yang membuat Via terdiam di tengah deru kendaraan lain yang terus melaju.

Sementara sang copet melesat menjauh, Via hanya bisa melihat titik siluet pengendara itu menghilang di kejauhan. Perasaan antara marah, takut, dan tak percaya berbaur menjadi satu. 

Bagaimana bisa pagi yang dimulainya dengan ringan berubah menjadi peristiwa yang membuatnya kehilangan barang berharga? Bagaimana bisa tindakan secepat itu terjadi di ruang publik yang penuh orang?

Di kantor, setelah melaporkan kejadian tersebut dan berupaya menenangkan diri, Via mendapat cerita dari rekan-rekannya yang membuatnya semakin memahami duduk perkara. 

Ternyata, pengguna motor listrik sebagai kendaraan ojek memang lebih rentan menjadi sasaran copet berkendara. “Katanya, kasus seperti ini pernah terjadi. Pelaku tahu motor listrik tidak punya akselerasi tinggi, jadi memang mereka incar,” jelas Via, mengulang perkataan seorang rekannya yang mengaku pernah mendengar pola kejahatan serupa.

Kisah Via menjadi gambaran nyata bagaimana dinamika mobilitas di Jakarta menyimpan tantangan tak terduga. 

Di tengah kemajuan transportasi berbasis teknologi dan meningkatnya kebutuhan bekerja secara cepat, risiko kriminalitas masih mengintai setiap sudut. Perjalanan yang tampak rutin bisa berubah dalam hitungan detik hanya karena satu momen lengah.

Kini, Via lebih berhati-hati saat membawa barang berharga, terutama ketika menggunakan moda transportasi roda dua. Ia selalu memastikan tas ditempatkan di bagian depan tubuh, dirapatkan, dan tidak dibiarkan menggantung. “Saya tidak ingin kejadian itu terulang. Cukup sekali mengalami hal seperti itu,” katanya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan