Antisipasi Banjir, Warga Dusun Dua Ujung Padang Minta Normalisasi Parit Sepanjang 4 Kilometer

Drainase tersumbat akibat tumbuhan liar.-Ahmad Kartubi-Radar Mukomuko

koranrm.id - Hujan yang turun hampir setiap hari dalam beberapa pekan terakhir membawa kegelisahan tersendiri bagi warga Jalan Pulau Berantai, Dusun 2, Desa Ujung Padang, Kecamatan Kota Mukomuko. 

Ketika curah hujan di berbagai wilayah seperti Sumatra Barat, Sumatera Utara, dan Aceh menimbulkan  bencana dahsyat, hal ini membuat warga merasa mulai cemas. 

Mereka mengenang apa yang pernah terjadi tahun lalu: banjir yang datang cepat dan meninggalkan jejak air hingga ke belakang rumah-rumah warga dan bahkan mencapai jalan raya di samping Hotel Madiara.

Di tengah kekhawatiran itu, Syukran tokoh agama yang sudah lama tinggal di jalan Pulau Berantai Dusun 2 kembali mengingat detail peristiwa 2024 tersebut. 

Dengan suara tenang namun penuh tekanan makna, ia menyampaikan bahwa kejadian itu terjadi ketika parit di kiri dan kanan jalan masih dalam kondisi bersih. Tidak ada gulma yang menghalangi aliran air, dan endapan lumpur pun tergolong tipis. 

 Kalau dibandingkan dengan sekarang, kondisinya jauh berbeda. Parit sepanjang empat kilometer itu sudah tertutup rumput liar dan lumpur tebal yang dibawa hujan,  ujarnya. Ia menggambarkan bagaimana setiap kali hujan deras mengguyur, air meluap cepat karena tak menemukan jalur untuk mengalir.

Syukran menegaskan bahwa situasi ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut keamanan warga. Dengan intensitas hujan yang diperkirakan terus tinggi hingga akhir tahun, risiko banjir bisa lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. 

Karena itu, ia menyampaikan permohonan atas nama seluruh warga agar pemerintah daerah dapat segera melakukan normalisasi parit, terutama sebelum puncak musim hujan benar-benar tiba.  Kami hanya ingin air bisa mengalir dengan lancar, sehingga luapannya tidak terlalu tinggi dan tidak bertahan lama,  ucapnya.

Nada serupa datang dari Guntur, salah satu warga yang juga tinggal di kawasan tersebut. Ia menegaskan bahwa kebutuhan untuk membersihkan parit kiri dan kanan jalan tidak bisa ditunda. 

Menurutnya, bila pengerjaan dilakukan sebelum Desember 2025 ketika puncak hujan diperkirakan terjadi risiko genangan dan banjir dapat ditekan. Ia menilai parit yang dibiarkan tertutup seperti sekarang ibarat jalan buntu bagi air, yang pada akhirnya mencari jalur tidak semestinya dan menerjang permukiman.

Guntur juga mengingatkan bahwa Jalan Pulau Berantai bukan hanya akses bagi warga setempat, tetapi juga jalur evakuasi ketika bencana terjadi. 

Jalan tersebut menjadi pintu penghubung menuju kebun plasma yang sering dilalui kendaraan warga, sekaligus jalur menuju fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit Albara.  Karena itu kami sangat berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat mengabulkan permohonan warga,  katanya dengan nada penuh harap. Baginya, normalisasi parit bukan hanya untuk kenyamanan, tetapi juga terkait fungsi vital jalan dalam situasi darurat.

Kekhawatiran warga beralasan. Beberapa kajian tentang mitigasi bencana menyebutkan bahwa daerah dengan sistem drainase buruk lebih rentan terhadap banjir meskipun curah hujan tidak ekstrem. 

Dalam konteks Ujung Padang, kondisi parit yang tertutup rumput liar dan tertimbun sedimentasi dapat mempercepat proses luapan air, menyebabkan genangan bertahan lama di permukiman, dan mengganggu aktivitas warga.

Di tengah situasi cuaca yang semakin sulit diprediksi, langkah antisipatif menjadi kebutuhan mendesak. Normalisasi parit sepanjang empat kilometer di Dusun 2 tidak hanya akan memberikan manfaat langsung berupa lancarnya aliran air, tetapi juga menghadirkan rasa aman bagi warga setiap kali langit mulai menggelap. 

Harapan warga kini tertuju kepada pemerintah daerah baik kecamatan maupun kabupaten untuk mengambil langkah cepat. Masyarakat berada pada batas kecemasan yang wajar, dan mereka telah mengungkapkan suara mereka dengan jelas. 

Di Dusun 2 Desa Ujung Padang, kerapuhan parit yang tersumbat itu seolah menjadi simbol betapa pentingnya perhatian terhadap infrastruktur kecil yang sering diabaikan. 

Namun bagi warga, parit itu bukanlah sekadar saluran air; ia adalah garis pertahanan pertama terhadap banjir. Ketika hujan turun tanpa jeda, parit itulah yang menentukan apakah air akan mengalir, atau menegelamkan jalan dan kediaman mereka.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan