Prospek Menjanjikan, TPKK Sido Makmur Kembangkan Usaha Kambing Perah

Proses pembuatan kandang kambing perah.-Sahad-Radar Mukomuko

koranrm.id – Upaya pengembangan sektor peternakan di Kabupaten Mukomuko terus dilakukan, salah satunya melalui inovasi yang digagas Tim Pelaksana Kegiatan Khusus (TPKK) Program Ketahanan Pangan Desa Sido Makmur, Kecamatan Air Manjuto. Tahun ini, TPKK mengambil langkah berbeda dengan mulai membudidayakan kambing perah—jenis ternak yang masih jarang dipelihara masyarakat setempat.

Selama ini, sebagian besar warga Mukomuko memelihara kambing lebih sebagai tabungan jangka panjang ketimbang sumber penghasilan harian. Kambing dipilih karena mudah dirawat dan bisa dijual sewaktu-waktu, terutama anakan yang dianggap memiliki nilai ekonomi stabil. Namun, pola ini dinilai belum memberikan penghasilan rutin bagi masyarakat.

Melihat peluang tersebut, TPKK Sido Makmur mencoba terobosan dengan menghadirkan usaha kambing perah. Ketua TPKK Sido Makmur, Rudi Santoso, menjelaskan bahwa kambing perah menawarkan potensi pendapatan yang lebih menjanjikan dibandingkan kambing pedaging. Selain nilai ekonominya tinggi, kambing perah dapat menghasilkan susu setiap hari sehingga memberikan pemasukan yang bersifat rutin.

“Keuntungan utama memelihara kambing perah adalah pendapatan harian dari penjualan susu. Susu kambing memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan susu sapi dan sangat diminati pasar karena manfaatnya bagi kesehatan,” ujar Rudi.

Selain susu, lanjutnya, peternak juga bisa mendapatkan keuntungan tambahan dari penjualan anakan hasil program perkembangbiakan. Hal ini memberikan nilai ganda karena setiap indukan tidak hanya menghasilkan susu, tetapi juga keturunan yang bisa dijual untuk memperkuat pendapatan.

“Ini menjadi peluang besar bagi warga untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Kami berharap program ini berjalan sukses dan memberikan manfaat sesuai tujuan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan desa,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Rudi menerangkan bahwa usaha kambing perah juga menghasilkan produk sampingan berupa kotoran yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Pupuk tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan pertanian warga atau dijual kembali kepada petani lain. Sementara itu, kambing yang sudah tidak produktif lagi sebagai penghasil susu tetap memiliki nilai jual melalui penjualan daging.

Meski demikian, Rudi mengakui bahwa memelihara kambing perah memiliki tantangan tersendiri karena membutuhkan perawatan lebih telaten dibandingkan kambing lokal yang biasa dipelihara masyarakat. Beruntung, Desa Sido Makmur memiliki beberapa warga yang sudah berpengalaman membudidayakan kambing dengan metode pemeliharaan yang baik.

“Kami terbantu karena ada warga yang sudah terbiasa merawat kambing dengan standar yang lebih baik. Jenis kambing yang mereka pelihara selama ini pun berbeda dengan kambing yang umum dipelihara masyarakat,” ungkap Rudi.

Melalui program ini, TPKK Sido Makmur optimistis dapat membuka peluang ekonomi baru serta mendorong masyarakat untuk beralih pada pola peternakan yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan