Petani di Lubuk Pinang Mulai Ketagihan Tanam Padi Organik
Panen padi organik di Kecamatan Lubuk Pinang.-Sahad-Radar Mukomuko
koranrm.id – Minat petani di Kecamatan Lubuk Pinang, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, terhadap budi daya padi organik terus meningkat. Keberhasilan panen percontohan (demplot) serta dukungan kuat dari pemerintah daerah membuat lebih banyak petani mulai melirik metode tanam ramah lingkungan ini, meski sebagian besar masih mengandalkan cara konvensional.
Salah satu petani yang sukses mencoba metode organik adalah Sukawi, Ketua Kelompok Tani Harapan Karya di Desa Ranah Karya. Dari lahan seluas 0,25 hektare, ia berhasil mendapatkan hasil panen yang jika dikonversi mencapai 7,8 ton per hektare, setara dengan produktivitas padi nonorganik.
“Tanam padi organik biayanya lebih murah dibandingkan nonorganik. Dari segi hasil sudah meningkat dibandingkan sebelumnya,” ujar Sukawi dalam sebuah kegiatan bedah buku baru-baru ini. Ia menambah, pada musim tanam berikutnya ia kembali akan menerapkan metode organik karena kini telah memiliki bahan produksi sendiri, mulai dari pupuk kandang hingga formula organik lainnya.
“Saya memelihara sapi, kotorannya dijadikan kompos. Kalau beli mahal,” ungkap Sukawi.
Keberhasilan demplot yang diterapkan Dinas Pertanian (Distan) Mukomuko bersama Bank Indonesia (BI) melalui integrasi teknologi MA-11 menjadi pemicu utama meningkatnya minat petani. Hasil panen yang tinggi dan potensi peningkatan pendapatan membuat metode ini mulai dilirik banyak petani.
Pemerintah daerah juga aktif mendorong pengembangan pertanian organik sebagai solusi jangka panjang menghadapi kelangkaan pupuk kimia serta mendukung pertanian berkelanjutan. Distan saat ini sedang melakukan pendataan petani yang telah atau ingin beralih ke sistem organik. Tujuannya untuk menyusun kebijakan tepat sasaran, termasuk membuka akses pasar khusus dengan harga jual lebih tinggi bagi produk organik.
Selain itu, petani di Mukomuko telah menerima bantuan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) dari pemerintah pusat, sehingga mereka bisa memproduksi pupuk organik secara mandiri.
Meski tren positif mulai terlihat, sebagian petani masih ragu beralih karena beberapa hambatan. Kekhawatiran utama adalah efektivitas bahan organik dalam mengendalikan hama dan penyakit. Selain itu, proses transisi dari sistem konvensional ke organik membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang belum merata di kalangan petani.
Kendati menghadapi kendala, geliat pertanian organik di Lubuk Pinang dan wilayah Mukomuko secara umum terus tumbuh. Dukungan pemerintah, keberhasilan demplot, serta pengalaman petani seperti Sukawi menjadi modal penting untuk memperluas praktik pertanian organik di masa mendatang.
Dengan minat petani yang kian meningkat, Mukomuko berpotensi menjadi salah satu sentra padi organik baru di Provinsi Bengkulu.