Rasa Buah Durian yang Tumbuh di Kebun Sawit?
Pesta Durian di Kebun Desa Banyumas: Merayakan Panen, Menikmati Kelezatan Lokal--screenshot dari web.
koranrm.id - Di banyak pelosok Sumatera dan Kalimantan, pemandangan kebun sawit yang menaungi deretan pohon durian bukan lagi hal langka.
Di sela hamparan tanaman industri itu, durian-durian lokal tumbuh dengan kokoh, memanjangkan akar dan menanti musim berbuah.
Namun yang menarik, kualitas buah dari kebun semacam ini kerap memicu perbincangan bukan saja di kalangan petani, tetapi juga para pemerhati hortikultura yang menilai perubahan ekologi sebagai faktor penting penentu rasa dan tekstur.
Ada cerita tentang cita rasa lebih pahit, ada pula yang menyebut justru lebih manis. Di sinilah kisah durian kebun sawit menemukan relevansinya: sebuah persilangan antara alam, pengalaman petani, dan dinamika lahan yang terus berubah.
Petani durian asal Mukomuko, Sabriman, menggambarkan pengalamannya selama puluhan tahun merawat pohon durian yang tumbuh berdampingan dengan sawit. Di lahan seluas dua hektare miliknya, durian sudah ada jauh sebelum sawit masuk pada awal 2000 an.
“Awalnya kami khawatir, jangan-jangan durian jadi tidak bagus karena kalah nutrisi,” tuturnya. Kekhawatiran itu tidak sepenuhnya salah, karena pohon sawit memang dikenal rakus menyerap unsur hara, terutama nitrogen dan kalium. Tetapi hasil panen beberapa musim terakhir justru menunjukkan pola yang lebih kompleks.
Menurut Sabriman, buah durian dari kebunnya memiliki aroma yang tetap kuat, tetapi teksturnya cenderung lebih lembut dan warnanya sedikit lebih pucat. Hal ini ia amati sejak populasi sawit di kebunnya bertambah dan tajuknya makin rimbun.
Kondisi cahaya yang berkurang, katanya, membuat durian lebih lambat matang namun lebih tahan jatuh. “Rasanya tetap enak, hanya saja tidak setegas durian dari kebun campuran atau hutan,” ujarnya sembari menegaskan bahwa sensasi manis-pahit khas durian lokal tetap terjaga.
Pengamatan itu sejalan dengan penjelasan Hendro Wibowo, agronomis dari sebuah lembaga penelitian pertanian di Jambi. Ia menyebutkan bahwa kualitas buah durian sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya, ketersediaan nutrisi, dan kompetisi akar.
Ketika pohon durian tumbuh di bawah naungan sawit yang tinggi dan rapat, proses fotosintesisnya sedikit terhambat. “Durian membutuhkan cahaya cukup selama fase pembentukan rasa.
Jika terlalu teduh, kadar gula bisa turun sedikit,” jelas Hendro. Meski begitu, ia menekankan bahwa penurunan kualitas tidak selalu signifikan dan sangat bergantung pada jarak tanam, umur pohon, serta kesuburan tanah.
Hendro menambahkan bahwa akar sawit yang agresif memang dapat mengurangi ketersediaan hara bagi pohon lain, tetapi kondisi itu dapat diatasi dengan manajemen pemupukan yang tepat.
Banyak petani, katanya, sudah mulai menerapkan pola pemupukan terpisah antara durian dan sawit, serta melakukan pembersihan gulma di sekitar pohon durian agar kompetisi nutrisi lebih seimbang.
Ia menilai bahwa selama petani memahami kebutuhan spesifik masing-masing tanaman, keberadaan durian di kebun sawit justru dapat menjadi diversifikasi ekonomi yang menjanjikan.
Sementara itu, kondisi ekologis di kebun sawit turut memberi karakter tersendiri pada durian. Curah hujan tinggi, kelembapan lahan yang stabil, serta struktur tanah yang relatif gembur di area yang sering dibersihkan membuat durian lebih mudah beradaptasi. Namun ada juga tantangan berupa serangan hama yang meningkat ketika durian tumbuh di area yang tidak memiliki keragaman vegetasi.
“Monokultur itu membuat hama tertentu berkembang lebih cepat,” kata Sabriman, yang mengaku lebih sering melihat ulat pemakan daun dan kumbang kecil menyerang saat musim hujan.
Di sisi lain, pasar lokal memiliki pandangan unik terhadap durian yang tumbuh di kebun sawit. Beberapa pengepul menilai kualitasnya sedikit di bawah durian hutan karena aromanya tidak terlalu menyengat.
Tetapi pembeli umum justru menyukai rasa yang lebih lembut dan tidak terlalu pahit. Permintaan pun terus ada, apalagi di musim panen antara November hingga Januari. “Sepanjang buah jatuh alami dan tidak dipaksa jatuh, orang tetap mau,” ungkap Fahrizal, seorang pedagang durian di Bengkulu.
Pada akhirnya, kualitas durian kebun sawit bukan sekadar perkara bagus atau tidaknya rasa. Ia adalah hasil dari interaksi rumit antara lahan, iklim, pemeliharaan, dan jenis varietas yang tumbuh.
Di banyak tempat, durian dari kebun sawit hadir sebagai bentuk adaptasi petani terhadap perubahan ekonomi dan tata guna lahan.
Pohon durian tetap memberikan ruang untuk nostalgia rasa, sementara sawit menjamin penghasilan harian yang lebih pasti. Keduanya hidup berdampingan, saling berebut ruang namun tetap menghasilkan cerita yang layak diceritakan kembali.
Dengan pengelolaan yang tepat mulai dari jarak tanam, pemangkasan tajuk, pemupukan, hingga pengendalian hama durian kebun sawit dapat menghadirkan kualitas yang kompetitif.
Tidak selalu lebih unggul dari durian hutan, namun bukan pula varietas kelas dua seperti stigma yang sering muncul.
Dalam lanskap pertanian modern yang terus berubah, keberadaan mereka adalah bukti bahwa kualitas rasa sering kali tidak hanya ditentukan oleh tempat tumbuh, tetapi juga oleh tangan-tangan yang merawatnya.
Sumber berita:
Aziz, S. A., et al. (2021). Environmental Influence on Durian Fruit Quality. Journal of Tropical Agriculture.
Wibowo, H. (2022). Tree Competition and Nutrient Dynamics in Mixed Plantations. Indonesian Journal of Agroforestry.