Bau Mulut Busuk Akar Dari Sini, Ini Kata Dokter

Terungkap! Ini Penyebab Bau Mulut Saat Puasa Menurut Sains dan Cara Ampuh Mengatasinya--ISTIMEWA

koranrm.id - Aroma tak sedap yang keluar dari mulut kerap muncul tanpa disadari, namun pengaruhnya bisa memengaruhi hubungan sosial, kepercayaan diri, hingga kenyamanan dalam berkomunikasi. 

Di balik kondisi yang tampak sederhana itu, para ahli menyebut ada rangkaian proses biologis yang saling terkait mulai dari karang gigi yang mengeras, aktivitas bakteri di rongga tenggorokan, hingga produksi gas dari lambung dan usus. Kesemuanya bekerja dalam senyap, lalu bermuara pada satu hal: bau mulut yang mengganggu.

Dr. Andini Prameswari, dokter gigi yang berdinas di sebuah klinik kesehatan di Bengkulu, menjelaskan bahwa karang gigi adalah pemicu paling umum. Ia menggambarkannya sebagai lapisan plak yang mengeras akibat sisa makanan yang tidak terangkat dengan baik.

“Ketika karang menumpuk, bakteri anaerob akan berkembang biak di sela-selanya dan menghasilkan senyawa sulfur. Senyawa inilah yang menimbulkan aroma tidak sedap,” ujarnya. 

Menurutnya, banyak pasien baru menyadari masalah itu setelah karang gigi cukup parah hingga tampak jelas di sepanjang garis gusi.

Di ruangan yang sama, Andini pernah menangani pasien remaja yang mengeluhkan bau mulut persisten meski rutin menyikat gigi. Dari pemeriksaan sederhana, ditemukan karang gigi tipis yang menumpuk di area gigi belakang wilayah yang sering sulit dijangkau. 

Ia menekankan bahwa penyikatan gigi dua kali sehari tidak selalu cukup. Perilaku makan, gaya hidup, serta jarak pemeriksaan gigi menjadi faktor yang menentukan keberhasilan menjaga kebersihan mulut.

Namun persoalan bau mulut tidak hanya berhenti pada gigi dan gusi. Dr. Rama Yudhistira, seorang THT spesialis infeksi rongga mulut dan tenggorokan, menyebutkan bahwa peradangan ringan di area tersebut dapat menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri penghasil bau. 

“Pasien dengan amandel yang sering meradang atau terdapat ‘tonsil stone’ biasanya mengalami bau mulut meski mereka rajin menjaga kebersihan mulut,” jelasnya. 

Ia menambahkan bahwa celah-celah kecil pada amandel dapat menyimpan sisa makanan mikro yang membusuk dan menghasilkan aroma khas yang sulit hilang hanya dengan sikat gigi atau obat kumur biasa.

Dalam beberapa kasus, bau mulut muncul dari tempat yang lebih jauh: lambung dan usus. Ketika saluran cerna menghasilkan gas berlebih terutama pada individu yang mengalami refluks asam atau gangguan pencernaan kronis aroma dari dalam tubuh dapat terdorong naik melalui kerongkongan. 

Dr. Halim Pranoto, ahli gastroenterologi, menjelaskan bahwa kondisi ini lebih sering dialami oleh mereka yang pola makannya tidak teratur atau terlalu banyak mengonsumsi makanan pemicu gas.

 “Gas berlebih bisa naik dan memberi efek seperti ada aroma tidak sedap dari mulut, meskipun area oral sedang dalam kondisi baik,” katanya. Ia menganjurkan pasien untuk memperbaiki manajemen makan dan menghindari makanan tertentu sebagai langkah awal pengendalian.

Meski sumbernya beragam, pola yang terlihat dari kasus bau mulut mengarah pada satu pemicu utama: aktivitas bakteri. Baik di rongga mulut, tenggorokan, maupun saluran cerna, mikroorganisme memecah sisa makanan dan menghasilkan senyawa volatil yang tidak ramah bagi indera penciuman. 

Kombinasi antara kebiasaan yang kurang baik, imunitas yang menurun, dan konsumsi makanan tertentu membuat bakteri berkembang lebih cepat. Di titik itulah bau mulut bisa muncul secara tiba-tiba dan cenderung menetap.

Konsistensi perawatan menjadi kunci untuk meredamnya. Dr. Andini menekankan pentingnya scaling atau pembersihan karang setiap enam bulan sebagai langkah dasar menjaga kesehatan gigi. 

Sementara Dr. Rama menganjurkan pemeriksaan THT jika bau mulut tak kunjung reda meski kebersihan mulut sudah optimal. 

Untuk kasus yang melibatkan lambung dan usus, Dr. Halim mengingatkan bahwa penanganan harus menyentuh pola makan, bukan hanya mengandalkan obat penyegar napas.

Di banyak wilayah, kasus bau mulut kerap dianggap persoalan sepele sehingga pasien baru berobat ketika kondisinya semakin mengganggu. 

Padahal langkah-langkah kecil mulai dari memperbaiki cara menyikat gigi, mengatur konsumsi makanan, hingga memeriksakan diri secara berkala dapat mencegah bakteri berkembang tanpa kendali. Dengan memahami sumber masalah, penanganan menjadi lebih tepat sasaran dan hasilnya dapat dirasakan secara bertahap.

Kesadaran akan pentingnya kesehatan mulut dan pencernaan kini semakin meningkat, seiring banyaknya edukasi kesehatan yang beredar. Namun para ahli mengingatkan bahwa edukasi tanpa tindakan hanya akan berakhir pada pengulangan masalah yang sama. 

Napas segar tidak hanya mencerminkan kebersihan, tetapi juga keseimbangan proses biologis dalam tubuh. Di balik napas yang nyaman, terdapat kerja yang konsisten antara perawatan diri dan kesehatan organ dalam.

Sumber Berita:

• Tonzetich, J. (1977). Production and origin of oral malodor: A review of mechanisms and methods of analysis. Journal of Periodontology.

• Porter, S.R., & Scully, C. (2006). Oral malodour. BMJ.

• Tangerman, A. (2002). Halitosis in medicine: A review. International Dental Journal.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan