Capaian Setahun Kemendikdasmen: Membangun Fondasi Pendidikan Bermutu, Inklusif, dan Berkeadilan
Renci, Praktisi Pendidikan.-Deni Saputra-Radar Mukomuko
Oleh: Renci, M.Pd. (Praktisi Pendidikan)
Di bawah payung kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pembangunan pendidikan selama satu tahun terakhir semakin menunjukkan dampak positif dan dinilai telah berjalan sesuai dengan koridornya. Upaya perluasan dan pemerataan kualitas pendidikan mulai didorong melalui berbagai terobosan.
Ditegaskan oleh Suharti, Sekertaris Jenderal Kemendikdasmen, bahwa terdapat perbaikan signifikan dalam implementasi program prioritas Pendidikan Bermutu selama rentang waktu Oktober 2024-September 2025. Hal ini disampaikan oleh Suharti bukan sekadar capaian secara angka statistik, melainkan bukti komitmen pemerintah pusat dalam memastikan layanan pendidikan yang merata, inklusif dan bermutu yang telah dirasakan oleh masyarakat.
Terdapat beberapa indikator yang dapat dijadikan tolak ukur dalam menakar keberhasilan program Kemendikdasmen. Wulandari (2013) menyampaikan bahwa indikator keberhasilan sebuah program dilihat dari pelaksanaan yang selesai secara tepat waktu, anggaran yang digunakan sesuai dengan kualitas baik, serta memberikan kepuasan tinggi.
Indikator keberhasilan merupakan komponen utama dalam menilai sejauh mana suatu program pendidikan mencapai tujuannya. Keberhasilan tersebut tidak hanya dapat diukur dari hasil akhir, tetapi juga dari proses, pengelolaan, serta dampak jangka panjang yang ditimbulkannya (Iqbal, Marpaung, Maulida, Oktaviani, & Widyana, 2024, hal. 39).
Dalam kurun waktu yang terhitung singkat, Kemendikdasmen menunjukkan bahwa program yang disampaikan tidak hanya sekadar wacana. Hal ini dibuktikan melalui aksi nyata yang dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat.
Menakar Keberhasilan Kemendikdasmen
Secara pelaksanaan, Kemendikdasmen berhasil mencatat kemajuan signifikan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Memakan waktu satu tahun, terdapat 7 program prioritas Pendidikan Bermutu dijalankan dengan optimal. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah pusat untuk menyelesaikan tantangan pendidikan tanpa menghabiskan waktu yang lama.
Penyerapan anggarannyapun berjalan sesuai dengan kualitas yang baik. Anggaran sebesar Rp.181, 72 triliun ditujukan untuk enam program antara lain; Revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pendidikan, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru, Program Indonesia Pintar (PIP), Program Bantuan Operasional Sekolah Pendidikan (BOSP) yang dialokasikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), dan tunjangan bagi guru ASN yang juga dialokasikan melalui DAK.
Selain 6 program yang ditopang dengan anggaran, terdapat 1 program prioritas yang menjadi pondasi kemajuan pendidikan di Indonesia dan tonggak ujung pembentukan generasi emas 2045 yakni 7 kebiasaan anak indonesia hebat. Program ini oleh tim kerja data (2024) disebutkan sebagai gerakan yang tidak hanya berfokus pada akademik tetapi juga kepribadian, kepekaan sosial dan aspek spiritual.
Program prioritas yang dijalankan oleh Kemendikdasmen dalam rangka mengoptimalkan mutu pendidikan tidak hanya dijalankan dengan efektif dan efisien, tetapi juga memberikan kepuasan tinggi untuk masyarakat. Setiap program yang telah dijalankan mendapat tanggapan positif dengan indeks kepuasan yang cukup baik.
Mengulik Capaian Program Prioritas Pendidikan
Melalui Kemendikdasmen, Indonesia tengah menatap masa depan dengan membangun fondasi yang lebih mendasar, pendidikan. Kita tentu sepakat, bangsa yang besar dimulai dari karakter warganya.
Program Prioritas Pendidikan 2025 beri dampak positif langsung di dunia pendidikan. Suharti selaku Selertaris Jenderal Kemendikdasmen menyebutkan bahwa program yang memiliki capaian paling menonjol adalah program revitalisasi satuan pendidikan. Menghabiskan anggaran Rp. 16,9 triliun, pemerintah berhasil melampaui target -dari 10.440 menjadi 15.523 satuan pendidikan yang memeroleh kebijakan revitalisasi, mulai PAUD hingga SMA/SMK dan SLB.
Program ini tidak hanya berpangku pada perbaikan gedung secara fisik, melainkan juga fokus pada penguatan kualitas pembelajaran dan pemerataan layanan. Oleh karenanya, satuan pendidikan yang direvitalisasi akan melakukan pembangunan mencakup perbaikan kelas, laboratorium, perpustakaan, toilet, hingga UKS. Dampak positifnya tentu jelas; memastikan seluruh anak Indonesia mengenyam pendidikan secara merata, dari kota sampai didaerah 3T. Memperoleh fasilitas pendidikan yang aman, nyaman, dan layak.
Revitalisasi satuan pendidikan sebagaimana yang dipaparkan tidak hanya berhenti pada tatanan fisik gedung, menjangkau itu, Kemendikdasmen juga turut menghadirkan program prioritas pendidikan berupa digitalisasi. Melalui intruksi Presiden Nomor 7 tahun 2025, pemerintah komitmen akan mempercepat digitalisasi.
Lebih dari 285.000 sekolah kini difasilitasi akses pembelajaran digital, mulai dari smart classroom hingga jaringan internet dan konten interaktif. Hal ini dilakukan untuk memastikan teknologi hadir menjadi alat pemerataan. Selain dirancang untuk mendorong pemerataan kualitas pendidikan berbasis teknologi, program ini juga dimaksudkan memperkuat pembelajaran berbasis digital gang menyeluruh dan inklusif.
Direktue Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto menyampaikan bahwa digitalisasi pembelajaran ini berangkat dari intruksi Presiden yang merupakan media untuk membangun pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan zaman. Nantinya sekolah yang akan menerima IFP akan dilatih dalam bentuk bimbingan teknis agar lebih optimal dalam penggunaan fitur-fitur yang ada. Program ini sudah berlangsung, pengiriman IFP dilakukan sengan konfirmasi kepada sekolah terkait untuk memastikan kesiapan dan sasaran yang tepat.
Kemendikdasmen juga tidak melupakan guru agar sebagai ring satu pelaksanaan pendidikan, guru tetap mendapatkan fasilitas untuk meningkatkan kompetensi dan kesejahteraanya. Sebesar Rp.13, 2 triliun anggaran ditujukan untuk program ini antara lain; memberi tunjangan profesi bagi guru non-asn 2 juta masing-masing untuk 785 ribu guru, menghadirkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) 300 ribu bagi 253 ribu guru PAUD non-formal non-ASN, memberikan fasilitas pengembangan karir S1/D4 menjangkau 16.197 guru dan sertifikasi Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi 804 ribu guru dan insentif guru Non-ASN 300.000 perbulan.
Dibalik megahnya bangunan sekolah, Kemendikdasmen tidak luput memperhatikan pengembangan guru dan siswa. Dalam hal ini, pemerintah juga memastikan siswa dari beragam latar belakang terakomodasi untuk memperoleh hak yang setara dalam pendidikan. Melalui PIP, sebanyak 18,5 juta siswa menerima bantuan dengan total anggaran Rp.13,5 triliun juga beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) senilai Rp. 127 miliar yang akan diberikan kepada 4.679 siswa dari daerah 3T dan daerah konflik.
Disamping itu, Kemendikdasmen juga mengoptimalkan BOSP yang dialokasikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik telah menyalurkan Rp59,3 triliun untuk 50.463.212 peserta didik dan 422.106 satuan pendidikan. Memastikan kegiatan belajar tetap berjalan tanpa beban tambahan bagi keluarga. Kemendikdasmen juga memastikan tunjangan bagi guru ASN melalui DAK Nonfisik dengan anggaran Rp70 triliun telah dialokasikan untuk; Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi 1.522.722 guru, Dana Tambahan Penghasilan (DTP) untuk 332.170 guru, dan Tunjangan Khusus Guru (TKG) untuk 62.536 guru.
Sebagai pondasi dari karakter yang akan terbentuk di lingkungan sekolah, Kemendikdasmen memiliki program pendidikan prioritas 7 kebiasaan anak hebat. Bangun pagi, Beribadah, Berolahraga, Makan sehat dan bergizi, Gemar belajar, Bermasyarakat dan Tidur cepat menjadi formulasi untuk menguatkan kualitas generasi. Inisiatif ini dirancang sebagai bagian dari strategi besar untuk menyiapkan generasi emas Indonesia menuju 2045. Kebiasaan-kebiasaan tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan cerminan dari pendidikan karaker yang tumbuh dari lingkungan keluarga dan sekolah.
Tujuh program yang telah terlaksana tersebut menjadi bukti komitmen Kemendikdasmen dalam memastikan pendidikan di Indonesia bisa berjalan dengan mengedepankan prinsip setara, adil dan inklusif. Setahun terakhir ini, pendidikan menunjukkan wajah dan arah baru. Sekolah yang semula rapuh, dapat berdiri kokoh, ruang belajar dilengkapi fasilitas digital, guru mendapat ruang layak untuk berkembang. Keberhasilan Program Pendidikan Berdampak 2024-2025 ini tentu menuai banyak tantangan, tetapi fondasi menuju pendidikan yang adil dan berkualitas mulai terbentuk.