PPL Dorong Petani Gunakan Organik
PPL Air Manjuto, Dwi Maryani bersama petani binaanya.-Sahad-Radar Mukomuko
koranrm.id – Gerakan Tani Pro Organik (Genta Organik) yang telah dilaunching Kementerian Pertanian (Kementan) menjadi salah satu solusi menjaga produktivitas tetap meningkat di tengah bayang-bayang krisis pangan dunia dan harga pupuk serta pestisida yang mahal.
Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) menjadi ujung tombak menyukseskan Genta Organik ini. Namun demikian, kondisi di lapangan banyak kendala yang dialami. Upaya pemerintah untuk mendorong sistem pertanian berkelanjutan melalui padi organik masih menghadapi tantangan di Kabupaten Mukomuko. Hingga kini, sebagian besar petani di wilayah tersebut memilih bertahan dengan pola tanam konvensional menggunakan pupuk dan pestisida non organik.
Menurut Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Air Manjuto, Dwi Maryani, SP, terdapat ribuan petani yang enggan mencoba pola organik. Salah satu alasan utama adalah rendahnya tingkat produksi padi organik dibandingkan dengan padi non organik.
“Kalau tanam padi organik, hasilnya lebih sedikit. Sedangkan harga gabahnya sama saja dengan non organik. Jadi banyak petani merasa tidak ada keuntungan tambahan,” jelas Dwi, Minggu (5/10).
Selain faktor hasil panen, sistem organik juga dianggap lebih merepotkan. Petani dituntut meracik sendiri pupuk dan pestisida dari bahan alami, sementara pada pola konvensional kebutuhan tersebut bisa langsung dibeli di kios pertanian. Praktis dan cepat menjadi alasan utama petani tetap bertahan dengan cara lama.
Masalah harga turut memperkuat keraguan petani. Selama ini, gabah organik tidak memiliki perbedaan harga yang signifikan dengan gabah non organik di tingkat petani. Padahal, beralih ke pola organik membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya lebih banyak.
Meski demikian, para penyuluh pertanian tidak menyerah. Edukasi terus diberikan kepada petani mengenai dampak jangka panjang penggunaan pupuk dan pestisida non organik. Dwi menegaskan bahwa meski produksi organik saat ini cenderung lebih sedikit, manfaatnya bagi tanah dan lingkungan akan terasa di masa depan.
“Kami selalu mengingatkan dampak negatif penggunaan pupuk non organik secara terus-menerus. Selain itu, kami mengedukasi petani untuk memanfaatkan jerami pascapanen menjadi pupuk alami,” tambahnya.
Ia berharap seiring meningkatnya kesadaran petani terhadap pentingnya kesehatan tanah dan kualitas pangan, lambat laun masyarakat Mukomuko mau beralih ke sistem organik.
“Ke depan, pertanian bukan hanya soal hasil, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat,” pungkas Dwi.