Pasar Koto Jaya Mukomuko Tak Seramai Dulu, Ini Faktor yang Membayangi
Pasar Koto Jaya Mukomuko.-Ahmad Kartubi-Radar Mukomuko
koranrm.id - Suasana pasar hiruk pikuk tawar-menawar, aroma sayur mayur yang masih segar, hingga ramainya pengunjung yang berdesakan, gambaran betapa pentingnya ruang ekonomi rakyat ini.
Namun, gambaran tersebut kini tidak lagi sama di Pasar Minggu Koto Jaya, Kabupaten Mukomuko. Pasar yang dulunya ramai, kini terlihat lebih lengang. Kursi pedagang yang sepi, jalanan pasar yang longgar, dan deretan lapak yang tidak dipadati pembeli, menjadi potret baru yang mulai mencemaskan banyak pihak.
Hendri, seorang pedagang sayuran asal Kerinci yang sudah bertahun-tahun berjualan di pasar itu, merasakan langsung perubahan yang terjadi. Ia menyebutkan bahwa belakangan ini Pasar Minggu Koto Jaya tidak lagi seramai dulu. “Sekarang suasana di sini berbeda, pembeli berkurang.
Diduga karena banyak pasar lain yang juga buka pada hari Minggu, seperti pasar pagi di Lubuk Sanai dan pasar pagi di SP 5.
Selain itu, ada pula pasar sore di SP 2 dan Tanah Rekah yang membuat masyarakat punya banyak pilihan untuk berbelanja,” ujarnya.
Menurut Hendri, para pembeli yang biasanya datang dari berbagai desa dan SP (satuan pemukiman transmigrasi) kini tersebar ke pasar-pasar tersebut, sehingga Koto Jaya kehilangan daya tariknya.
Ima, seorang ibu rumah tangga yang kerap mengunjungi pasar, membenarkan kondisi tersebut. “Memang benar pasar Koto Jaya tidak seramai dulu. Banyak kawan-kawan saya dari SP-SP yang dulu biasa belanja di sini, sekarang lebih memilih ke pasar lain.
Selain karena lebih dekat, harga kebutuhan pokok dan ikan di pasar lain, khususnya pasar pagi Lubuk Sanai, justru lebih murah dibanding di sini,” kata Ima dengan nada jujur. Pernyataan ini menggambarkan dinamika harga dan jarak sebagai faktor yang memengaruhi pergeseran minat masyarakat.
Kondisi pasar yang sepi tentu memiliki dampak berantai. Bagi pedagang, berkurangnya pembeli membuat omzet menurun. Tidak hanya pedagang sayuran, para penjual ikan, daging, hingga kebutuhan pokok lainnya juga ikut terdampak. “Kalau dulu, sekali buka lapak, barang cepat habis. Sekarang kadang sisa banyak.
Akhirnya sebagian sayuran terpaksa dibawa pulang atau dijual murah di tempat lain,” tutur Hendri dengan nada pasrah. Baginya, perubahan ini bukan hanya persoalan ramainya pasar, tetapi juga menyangkut keberlangsungan usaha kecil yang menggantungkan hidup pada interaksi di ruang publik ini.
Secara sosial, pasar yang sepi juga mengurangi fungsi pasar sebagai pusat pertemuan masyarakat.
Dahulu, Pasar Minggu Koto Jaya menjadi titik temu orang dari berbagai desa untuk sekadar berbincang, bertukar informasi, atau menjaga tali silaturahmi. Ima menuturkan, “Kalau dulu, pasar itu bukan cuma tempat belanja, tapi juga tempat ketemu teman.
Sekarang kalau saya ke sana, rasanya agak sepi, tidak seperti dulu yang ramai dan hangat.” Suasana yang kehilangan keakraban ini menandakan berkurangnya nilai sosial pasar akibat persaingan dengan pasar lain.
Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Salah satu jawabannya ada pada keterjangkauan dan fleksibilitas pasar lain yang kini lebih diminati. Pasar pagi di Lubuk Sanai, misalnya, dianggap lebih murah dan mudah dijangkau oleh warga sekitar.
Sementara pasar sore di SP 2 dan Tanah Rekah memberi opsi bagi masyarakat yang tidak sempat berbelanja di pagi hari. Persaingan antar pasar tradisional ini menciptakan situasi di mana masyarakat bebas memilih waktu dan tempat belanja sesuai kebutuhan, tanpa harus terikat pada satu pasar tertentu.
Meski demikian, keberadaan pasar Koto Jaya tetap memiliki nilai historis. Pasar ini pernah menjadi ikon perekonomian rakyat di daerah Mukomuko. Banyak pedagang yang tumbuh bersama pasar tersebut, dan banyak pula keluarga yang hidup dari aktivitas di sana.
Untuk itu, mencari solusi agar pasar ini kembali bergairah adalah langkah penting. Beberapa pihak menilai perlu adanya inovasi dalam pengelolaan pasar, seperti penataan fasilitas yang lebih nyaman, promosi pasar mingguan, hingga menjaga stabilitas harga agar tidak kalah bersaing dengan pasar lain.
Lebih jauh, pasar yang sepi juga bisa menjadi refleksi perubahan zaman. Masuknya pola belanja modern melalui toko kelontong, warung, hingga belanja online turut memengaruhi mobilitas masyarakat ke pasar tradisional.
Namun, pasar tradisional sejatinya menyimpan kelebihan: interaksi langsung antara penjual dan pembeli, kualitas barang segar, serta harga yang bisa dinegosiasikan. Hal-hal inilah yang masih menjadi daya tarik pasar Koto Jaya, meskipun kini harus berjuang keras untuk bersaing dengan pasar lain yang bermunculan.