Lebih Dua Dekade, Syamsu Anuar Petani Arah Tiga Melawan Tumpukan Sampah Disaluran Irigasi
Samsu Sahri membersihkan saluran irigasi yang dipenuhi sampah -Deni Saputra-Radar Mukomuko
koranrm.id - Lebih dari 2 dekade, Syamsu Anuar, petani di Desa Arah Tiga, Kecamatan Lubuk Pinang, bertarung melawan sampah yang hampir setiap hari menutupi saluran irigasi. Saluran irigasi itu tepatnya berada di area BLP 2 M Bukit Mayan Desa Arah Tiga. Jika tidak dibersihkan, sampah tertumpuk dipintu irigasi sehingga air tidak bisa mengalir ke persawahan petani. Kondisi itu terjadi akibat kebiasaan buruk sebagian warga yang sengaja membuang sampah rumah tangga ke saluran air. Akibatnya, air yang seharusnya mengalir lancar ke lahan sawah justru tersumbat dan menggenang.
Syamsu Anuar, menyampaikan, ketika musim tanam padi dirinya sejak 2004 sampai sekarang hampir setiap hari membersihkan sampah di saluran irigasi. Sampah-sampah tersebut menumpuk dipintu irigasi yang mengakibatkan aliran air tersumbat dan menggenang. Sehingga jika tak dibersihkan, air tidak bisa mengalir ke lahan persawahan petani. Kondisi ini terjadi akibat kebiasaan buruk mayoritas warga dengan sengaja membuang sampah ke saluran irigasi. Terlebih mereka yang tinggal didekat saluran irigasi.
“Saya membersihkan sampah yang menyumbat di saluran irigasi sudah lebih dari 20 tahun, sejak 2004. Kalau tidak dibersihkan air tidak bisa mengalir ke sawah petani,”pungkasnya.
Masih disampaikannya, bahkan jika melihat kebelakang, jumlah sampah di saluran irigasi kian tahun terus bertambah. Sebab di bawah tahun 2010, sampah di irigasi terbilang masih sedikit. Seiring berjalan waktu penumpukan sampah disaluran irigasi semakin menjadi-jadi. Ketika musim tanam padi, satu hari sampah tidak dibersihkan, sawah petani sudah kering. Hal itu karena banyaknya sampah yang tersangkut dipintu irigasi sehingga air tidak bisa mengalir.
“Kami perhatikan, jumlah sampah setiap tahun terus meningkat. Kalau dulu memang ada sampah, tapi sedikit,”tambahnya.
Berbagai bentuk sampah sudah pernah ditemukannya dalam irigasi tersebut. Mulai dari limbah rumah tangga, beragam bangkai hewan, seperti anjing, kepala babi, ayam, bulu ayam dan lainnya. Bahkan yang tak habis fikir, sampah buah kelapa, pohon pisang dan sejenisnya juga dibuang warga ke saluran irigasi. Padahal sampah organik seperti itu bisa cepat terurai tanpa dibuang.
“Semua bentuk sampah sudah pernah saya temukan, ibarat kata hanya mayat manusia saja belum pernah saya temukan ketika membersihkan sampah di irigasi,”lanjutnya.
Kemudian, Samsu juga menjelaskan, dirinya bersama para petani sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak soal kondisi yang telah lama mereka hadapi. Mulai dari pemerintah daerah, Balai Wilayah Sungai, dinas-dinas terkait, pemerintah desa, Polsek Lubuk Pinang, bahkan dewan sudah pernah dihubungi. Tapi sampai sekarang belum ada solusi untuk permasalahan ini.
“Kami tetap berharap ada solusi dari pemerintah dan pihak terkait serta kesadaran warga. Karena selama ini berbagai upaya telah kami lakukan. Untuk saat ini sedang pengeringan irigasi, coba kalau air sudah masuk nanti, pihak manapun mau lihat tumpukan sampah ini saya ajak ke lokasi,”demikian Syamsu Anuar.