Mukomuko, Ujung Utara Bengkulu dan Sejarah yang Menyertainya

Gapura Perbatasan Mukomuko- Sumatera Barat.-Ahmad Kartubi-Sceenshot

koranrm.id - Dari garis pantai barat Sumatera yang membentang panjang, ada sebuah wilayah yang menjadi penanda batas paling utara Provinsi Bengkulu. Kabupaten Mukomuko, dengan luas daratan lebih dari empat ribu kilometer persegi, bukan sekadar titik geografis yang jauh dari ibu kota provinsi. Ia menyimpan jejak panjang sejarah, pertemuan budaya, dan dinamika ekonomi yang terus berkembang hingga kini. 

Letaknya yang berada di persimpangan jalur Sumatra menjadikannya unik: jauh dari pusat pemerintahan Bengkulu, tetapi dekat secara emosional dengan denyut nadi daerah tetangga.

Perjalanan ke Mukomuko sering digambarkan sebagai perjalanan lintas batas. Dari Kota Bengkulu, pengunjung mesti menempuh lebih dari 270 kilometer melewati jalanan berkelok dengan hamparan hutan tropis, perkebunan, dan garis pantai Samudra Hindia yang sesekali muncul di kejauhan.

 Waktu tempuh bisa mencapai delapan hingga sembilan jam perjalanan darat. Keterpencilan inilah yang kemudian melekatkan citra Mukomuko sebagai kabupaten terjauh di Bengkulu. Namun justru jarak itu pula yang menjadikan daerah ini istimewa, karena ia tumbuh dengan karakter kuat yang berbeda dari daerah-daerah lain di provinsi ini.

Sejarah Mukomuko tidak bisa dilepaskan dari arus migrasi manusia dan perdagangan yang sejak lama melintas di pantai barat Sumatra. Nama "Mukomuko" diyakini berasal dari kata “Muko” yang berarti “wajah” atau “muka”, merujuk pada letaknya di bagian depan jalur perdagangan laut masa lampau. 

Menurut catatan lisan para tetua adat, kawasan ini sejak dahulu kala menjadi persinggahan para pelaut Minangkabau dan pedagang dari wilayah lain. Hubungan kekerabatan dengan Minangkabau masih terasa hingga kini, baik dalam bahasa maupun adat istiadat, meski masyarakat Mukomuko memiliki identitas sendiri yang khas.

Secara administratif, Mukomuko dulunya merupakan bagian dari Kabupaten Bengkulu Utara. Namun, aspirasi masyarakat yang ingin memiliki daerah otonom sendiri semakin kuat seiring bertambahnya jumlah penduduk dan luasnya wilayah yang sulit dijangkau oleh pusat pemerintahan di Argamakmur. 

Pada 25 Februari 2003, melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2003, Kabupaten Mukomuko resmi terbentuk sebagai daerah otonom baru. Sejak itu, Mukomuko berdiri dengan pemerintahan sendiri, membawa harapan baru untuk percepatan pembangunan.

Pembentukan kabupaten ini menjadi momentum penting. Masyarakat yang selama bertahun-tahun merasa berada di pinggiran kini memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun wilayahnya. 

Pemerintah pusat pun memberikan perhatian, termasuk melalui alokasi Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang lebih proporsional. Kehadiran pemerintah daerah mempercepat pembangunan infrastruktur dasar, seperti jalan, sekolah, dan fasilitas kesehatan, yang sebelumnya tertinggal dibanding wilayah lain.

Dari sisi sosial-budaya, Mukomuko adalah rumah bagi beragam suku. Selain masyarakat asli Mukomuko yang masih menjaga adat dan tradisi, banyak pula transmigran dari Jawa, Bali, dan daerah lain yang datang sejak era program transmigrasi besar-besaran tahun 1980-an. 

Perpaduan ini menciptakan dinamika sosial yang unik: antara tradisi lokal yang kental dengan gotong royong khas pendatang. Desa-desa transmigran menjadi pusat produksi pangan, sementara desa adat mempertahankan sistem kekerabatan dan upacara tradisi.

Ekonomi Mukomuko tumbuh pesat terutama karena perkebunan kelapa sawit. Hampir setiap jengkal lahan yang subur dimanfaatkan untuk komoditas ini. 

Data Badan Pertanahan Nasional menunjukkan bahwa alih fungsi lahan pertanian ke perkebunan sawit meningkat signifikan sejak awal 2000-an. 

Perusahaan besar hadir, tetapi perkebunan rakyat tetap mendominasi. Sawit menjadi sumber utama pendapatan, sekaligus tantangan karena ketergantungan yang tinggi pada satu komoditas membuat daerah ini rentan terhadap fluktuasi harga global.

Selain sawit, sektor perikanan laut juga menjadi tulang punggung. Garis pantai Mukomuko yang panjang menawarkan potensi besar tangkapan ikan. Di pelabuhan-pelabuhan kecil, nelayan tradisional menggantungkan hidupnya pada laut. 

Hasil tangkapan seperti tongkol, tuna, dan udang sebagian dipasarkan lokal, sebagian lagi dikirim ke luar daerah. Pemerintah Kabupaten Mukomuko berupaya memperkuat sektor ini dengan membangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI) serta memperbaiki armada dan sarana nelayan.

Kondisi geografis Mukomuko yang jauh dari pusat provinsi memunculkan tantangan tersendiri. Keterbatasan infrastruktur jalan membuat biaya logistik lebih tinggi dibanding daerah lain. Barang-barang kebutuhan sehari-hari yang masuk dari Sumatra Barat atau dari Kota Bengkulu sering kali dijual dengan harga lebih mahal. 

Namun masyarakat setempat menanggapi kondisi ini dengan kearifan: mereka mengandalkan produk lokal untuk memenuhi kebutuhan hidup, dari pangan hingga kerajinan.

Keberadaan Mukomuko di perbatasan menjadikannya lebih dekat secara fisik dan sosial dengan Sumatra Barat. Banyak aktivitas ekonomi dan perdagangan justru lebih terhubung ke Padang ketimbang ke Kota Bengkulu. Hal ini memunculkan identitas ganda yang menarik: secara administratif Mukomuko adalah bagian dari Bengkulu, tetapi secara budaya dan interaksi sehari-hari, pengaruh Minangkabau begitu kental. Fenomena ini membuat Mukomuko menjadi daerah yang kaya akan percampuran tradisi.

Dari segi sejarah pemerintahan, Mukomuko juga memiliki kisah panjang interaksi dengan kerajaan-kerajaan di Sumatra. Catatan kolonial Belanda menyebut wilayah ini sebagai bagian dari rantai perdagangan lada dan rempah pada abad ke-17. 

Setelah itu, Mukomuko sempat menjadi wilayah administratif di bawah kontrol pemerintah kolonial, sebelum akhirnya masuk dalam sistem kabupaten di era Indonesia merdeka. Jejak sejarah itu masih dapat ditemukan dalam bentuk situs-situs lama, seperti rumah adat dan peninggalan kolonial.

Pendidikan dan kesehatan menjadi perhatian penting sejak Mukomuko berdiri sebagai kabupaten. Jarak yang jauh dari pusat membuat daerah ini perlu memiliki fasilitas sendiri agar masyarakat tidak perlu ke luar daerah untuk mendapatkan layanan dasar. 

Sejumlah sekolah menengah dan rumah sakit dibangun, meski kualitas pelayanan masih menjadi pekerjaan rumah. Namun semangat masyarakat untuk maju terlihat jelas dari banyaknya anak muda Mukomuko yang melanjutkan pendidikan tinggi ke kota-kota besar di luar Bengkulu.

Mukomuko juga menyimpan kekayaan alam yang potensial untuk pariwisata. Pantai Abrasi, Danau Nibung, hingga Air Terjun Arai Manau adalah sebagian kecil dari destinasi yang mulai dikenal. 

Keindahan alam ini menjadi modal besar untuk pengembangan sektor pariwisata yang dapat mengurangi ketergantungan pada sawit. Sayangnya, keterbatasan akses transportasi membuat potensi ini belum tergarap maksimal.

Keunikan lain dari Mukomuko adalah keberadaan adat istiadat yang masih terjaga, seperti sistem perkawinan, hukum adat, dan ritual tradisi. Peran ninik mamak atau pemuka adat masih kuat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di desa-desa tua. 

Kearifan lokal ini menjadi perekat sosial di tengah masyarakat yang heterogen. Ia juga menjadi identitas yang membedakan Mukomuko dari daerah lain di Bengkulu.

Menjadi kabupaten terjauh bukan berarti terisolasi. Justru letak geografis Mukomuko menuntut warganya untuk lebih mandiri. Banyak inisiatif lokal tumbuh dari masyarakat, baik dalam bidang ekonomi maupun sosial. 

Misalnya, koperasi tani dan kelompok nelayan yang dikelola secara swadaya mampu memperkuat ekonomi keluarga. Jaringan komunikasi antarwarga juga sangat kuat, menjadikan solidaritas sebagai modal sosial utama.

Kini, lebih dari dua dekade setelah terbentuk sebagai kabupaten, Mukomuko terus berbenah. Pemerintah daerah berupaya menata tata ruang, memperkuat pembangunan infrastruktur, dan membuka peluang investasi baru. Harapan masyarakat sederhana: agar Mukomuko tidak lagi dipandang sebagai wilayah terjauh semata, melainkan sebagai daerah dengan potensi besar yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi Provinsi Bengkulu.

Sumber berita:

- Kompas: “Mukomuko, Wajah Utara Bengkulu yang Kental Jejak Minangkabau,” edisi nasional, 2024.

- Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia: Data Alih Fungsi Lahan Pertanian dan Perkebunan di Bengkulu, 2023.

- Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara: Arsip Pembentukan Kabupaten Mukomuko, 2003.

- Media Indonesia: “Potensi Perikanan Mukomuko dan Tantangan Infrastruktur,” 2025.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan