Alih Fungsi Lahan di Mukomuko, Sawah yang Berganti Wajah
Alih fungsi lahan.--
koranrm.id - Suara burung yang melintas dan aroma tanah basah dulu menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan petani padi.
Namun, kini pemandangan itu perlahan bergeser. Di banyak desa, batang-batang sawit menjulang, menggantikan hamparan padi yang dulunya bergoyang mengikuti arah angin.
Alih fungsi lahan sawah menjadi kebun sawit di Kabupaten Mukomuko bukan lagi cerita kecil. Luasannya terus melebar, meninggalkan jejak perubahan yang dalam, baik pada wajah desa maupun pada kehidupan masyarakatnya.
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Beberapa tahun terakhir, dorongan untuk membuka lahan sawit semakin kuat. Petani melihat tetangga mereka beralih dari padi ke sawit, lalu ikut mencoba peruntungan.
Perlahan, sawah yang dulunya menjadi sumber beras berganti dengan bibit sawit yang ditanam berbaris rapi. Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, dalam satu dekade terakhir, lahan sawah yang beralih fungsi menjadi kebun sawit sudah mencapai ribuan hektare. Angka itu menunjukkan betapa besar gelombang perubahan yang kini sedang berlangsung.
Faktor ekonomi menjadi alasan paling kuat yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Harga gabah kering yang cenderung stagnan membuat petani merasa hasil kerja keras mereka tidak sebanding dengan biaya produksi.
Sebaliknya, sawit menjanjikan keuntungan yang lebih pasti dan rutin, meski memerlukan waktu tunggu di awal masa tanam. Tidak mengherankan bila petani yang semula enggan, akhirnya tergoda untuk menukar sawah dengan kebun sawit.
Namun, perubahan ini bukan hanya soal angka rupiah. Ada cerita tentang pergeseran budaya bertani. Dulu, masa panen padi menjadi pesta kecil bagi keluarga di desa: bunyi lesung ditumbuk, aroma nasi baru matang, dan gotong-royong antarwarga.
Kini, suasana itu semakin jarang terdengar. Sawit memang memberi hasil, tetapi ia sunyi, tak memiliki ritus sosial sekuat padi. Pergeseran ini membuat kehidupan desa terasa berbeda, kehilangan sebagian denyut kebersamaan yang dulu lekat.
Alih fungsi lahan juga berdampak pada ketersediaan pangan lokal. Kabupaten Mukomuko, yang dahulu dikenal sebagai salah satu lumbung padi di pesisir barat Bengkulu, kini menghadapi tantangan baru.
Produksi beras menurun seiring menyusutnya luas tanam padi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Mukomuko mencatat, dalam lima tahun terakhir, produksi padi mengalami tren penurunan signifikan. Kondisi ini memaksa pasokan beras lebih banyak bergantung dari luar daerah, sehingga rentan terhadap fluktuasi harga pasar.
Masyarakat desa sesungguhnya menyadari konsekuensi ini. Namun, tekanan kebutuhan sehari-hari dan godaan hasil sawit yang dianggap lebih stabil membuat pilihan mereka terasa rasional.
Di banyak perbincangan warung kopi, kalimat yang sering terdengar adalah “padi hanya bisa dimakan, sawit bisa menyekolahkan anak.” Kalimat sederhana ini mencerminkan logika ekonomi keluarga yang mencoba bertahan dalam kondisi serba sulit.
Pemerintah daerah berupaya merespons dengan program intensifikasi pertanian padi. Bantuan benih unggul, pupuk bersubsidi, hingga pelatihan cara tanam modern digelontorkan.
Namun, usaha ini kerap berhadapan dengan kenyataan di lapangan: petani lebih memilih menanam sawit karena dianggap lebih menguntungkan dengan tenaga kerja yang lebih ringan. Hasil panen padi memang bisa melimpah, tetapi harga jual yang tak stabil membuat semangat petani cepat padam.
Alih fungsi lahan sawah di Mukomuko bukan sekadar isu pertanian, melainkan cermin dari dilema pembangunan daerah. Di satu sisi, sawit membawa pendapatan dan membuka peluang kerja.
Di sisi lain, ketergantungan pada komoditas tunggal berpotensi menimbulkan kerentanan jangka panjang, terutama dalam aspek kedaulatan pangan. Bila tren ini terus berlangsung tanpa pengendalian, wajah Mukomuko akan sepenuhnya ditandai oleh kebun sawit, sementara sawah tinggal menjadi kenangan dalam cerita orang tua kepada anak cucu.**
Sumber berita:
• Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Data Alih Fungsi Lahan Pertanian 2024.
• Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mukomuko, Produksi Padi dan Luas Lahan Sawah 2019–2024.
• Harian Rakyat Bengkulu, Sawah yang Hilang, Sawit yang Datang, edisi 2024.