Harga Pinang Naik, Petani Mulai Bergairah Kembali
Harga Pinang di Kabupaten Mukomuko mulai beranjak naik.-Sahad-Radar Mukomuko
koranrm.id - Harga komoditas pinang terus menunjukkan tren kenaikan pada awal hingga pertengahan 2025. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan ekspor, terutama dari India, serta kebutuhan industri kosmetik, obat-obatan, hingga bahan perekat cat.
Di beberapa daerah, seperti Aceh dan Jambi, kenaikan harga cukup signifikan. Namun, tidak jarang terjadi fluktuasi tajam, misalnya di Jambi pada Mei 2025 ketika harga tiba-tiba merosot.
Sejumlah faktor memengaruhi pergerakan harga pinang tahun ini. Permintaan ekspor yang melonjak di awal 2025 membuat harga jual di tingkat petani terdongkrak. Selain itu, pasokan pinang di beberapa wilayah menurun akibat serangan hama dan belum masuknya musim panen, sehingga ketersediaan bahan baku terbatas.
Di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, harga pinang pada tingkat petani kini mencapai Rp8 ribu per kilogram pada awal September 2025. Meski demikian, sebagian petani masih mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan karena produksi menurun.
Salah seorang warga Desa Sido Makmur, Kecamatan Air Manjuto, Manisem (65), mengaku baru kembali mengumpulkan buah pinang setelah mendengar kabar harga mulai naik.
“Hampir setahun tidak jual pinang karena yang biasa beli nggak datang. Sekarang baru mengumpulkan lagi. Harganya Rp8 ribu. Lumayan,” ujar Manisem, Jumat (5/9).
Sementara itu, seorang pengepul pinang, Darmanto (55), mengatakan harga pinang sebelumnya sempat anjlok hingga Rp4 ribu per kilogram. Kondisi tersebut membuat ia enggan berkeliling membeli dari petani.
“Kemarin-kemarin harga pinang hanya Rp4 ribu. Untuk upah kupas saja nggak cukup,” ungkap Darmanto.
Dengan kenaikan harga saat ini, para petani dan pengepul berharap tren positif dapat bertahan lebih lama. Namun, ketersediaan pasokan tetap menjadi tantangan utama yang harus diantisipasi.