Kisah Hidup Sahili, Dari Dagang Pisang ke Kursi Kepala Desa
Kisah Hidup Sahili.-AI-Meta Ai
Di Desa Nagasari, sebuah perkampungan sederhana yang dikelilingi hamparan sawah dan kebun, lahirlah seorang anak lelaki bernama Sahili.
Anak kedua dari pasangan Mat Suri dan Halimah ini tidak pernah tumbuh dalam kemewahan. Kehidupan keluarganya diwarnai peluh dan kerja keras. Sejak kecil, Sahili sudah terbiasa melihat ayahnya berdagang hasil bumi dari desa ke desa, dari pekan ke pekan.
Ayahnya, Mat Suri, adalah sosok pekerja keras. Ia bukan orang berpendidikan tinggi, tetapi ia paham betul cara bertahan hidup.
Setiap pekan, Mat Suri membawa pisang, ubi kayu, jengkol, ikan asin, hingga sayur-mayur ke pasar di sekitar daerah seperti Pekan Kemambang, Pekan Muarakuang, Pekan Lubuk Keliat, dan Pekan Tambang Rambang. Dari pasar ke pasar, dari satu keranjang ke keranjang lain, ia mencari rezeki halal untuk keluarga.
Sahili kecil tumbuh menyaksikan semua itu. Di saat kawan-kawan sebayanya masih sering bermain bola di lapangan desa atau memancing di sungai, Sahili lebih senang ikut ayahnya berdagang.
Ia menikmati hiruk pikuk pekan yang penuh warna, mendengar suara tawar-menawar, melihat ibu-ibu membawa keranjang, hingga merasakan kepuasan ketika dagangan ludes terjual.
Tamat MTS, Jalan Hidup Berbeda
Ketika tiba masanya untuk melanjutkan sekolah, Sahili hanya mampu menamatkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (MTS) Serikembang.
Bukan karena ia tidak cerdas, tetapi ekonomi keluarga tidak mendukung. Ia mengerti, membiayai sekolah tinggi memerlukan dana yang besar, sementara keluarganya masih harus bertahan dari hasil dagang yang pas-pasan.
“Sekolah itu penting, Nak,” kata ibunya suatu hari, “tapi kalau tidak bisa, kau harus pintar mencari usaha untuk jalan hidup.”
Ucapan itu melekat dalam hati Sahili. Ia tidak merasa minder. Justru dari keterbatasan itu, ia belajar melihat peluang. Setelah tamat MTS, ia tidak meneruskan sekolah. Ia memilih ikut jejak ayahnya. Ia turun ke pasar, mengangkat karung berisi pisang, memikul ikatan ubi kayu, dan menjajakan jengkol serta ikan asin.
Di usia remaja, keringatnya sudah sama pekatnya dengan keringat pedagang-pedagang dewasa. Ia tidak malu, bahkan bangga. Karena dari situlah ia belajar bahwa dunia usaha penuh tantangan, tetapi juga menjanjikan.
Menikah Muda, Berdua Mengukir Hidup
Kerja keras dan kesungguhan membuat Sahili cepat matang. Usianya masih muda ketika ia menikah dengan seorang gadis desa yang usianya lebih muda darinya, bernama Seri. Gadis ini tidak hanya cantik, tetapi juga rajin dan memiliki hobi yang sama: berdagang.
Pernikahan mereka sederhana, tetapi penuh semangat. Bagi mereka, kebahagiaan tidak diukur dari besar kecilnya pesta, melainkan dari kesediaan untuk saling mendukung. Dan benar saja, setelah menikah, mereka menjadi pasangan dagang yang serasi.
Setiap pekan, mereka bersama-sama membawa hasil bumi dari desa: pisang kuning segar, ubi kayu yang baru dicabut dari tanah, jengkol beraroma khas, ikan asin yang gurih, hingga sayur-mayur segar.
Mereka berangkat pagi buta, menempuh jalan berdebu atau kadang berlumpur, menuju pasar-pasar di sekitar.
Keuletan itu berbuah hasil. Sedikit demi sedikit, pundi-pundi mereka bertambah. Dari keuntungan berdagang, mereka bisa membangun rumah permanen di desa, membeli kendaraan untuk mempermudah berdagang, serta menanamkan sebagian penghasilan dalam bentuk kebun.
Yang membuat mereka lebih bahagia, pernikahan itu segera dikaruniai anak-anak. Karena menikah muda, anak-anak mereka cepat besar ketika usia Sahili dan Seri masih terbilang muda. Seolah hidup memberi mereka dua keberuntungan sekaligus: kemapanan ekonomi dan keluarga yang utuh.
Kawan-Kawan Sebaya: Lain Jalan, Lain Hasil
Namun hidup selalu menyimpan perbandingan. Kawan-kawan sebaya Sahili dulu, banyak yang melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi. Mereka tersebar, ada yang bekerja sebagai pegawai negeri, ada yang menjadi guru, bahkan ada yang berhasil meniti karier di kota besar.
Di mata masyarakat, mereka tampak sukses. Tetapi jika dibandingkan secara finansial, ternyata Sahili lebih unggul.
Hasil berdagang dari tahun ke tahun membuat kehidupan ekonominya mapan. Ia bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan baik, memiliki aset tanah dan kebun, serta tidak pusing soal biaya sehari-hari.
Perbedaan inilah yang kemudian membuat banyak orang tua di Desa Nagasari berpikir ulang. Mereka sering berkata, “Sekolah tinggi itu memang bagus, tapi tidak menjamin hidupmu mapan. Lihatlah Sahili, hanya tamat MTS, tapi sekarang hidupnya makmur.”
Ucapan itu menyebar dari mulut ke mulut, menjadi cerita inspirasi yang membuat nama Sahili semakin harum.
Belajar Lagi, Demi Masa Depan
Meski hidupnya sudah mapan, Sahili tidak berhenti di situ. Ia sadar bahwa ilmu tetap penting. Ketika anak-anaknya sudah beranjak besar, ia memutuskan untuk mengikuti sekolah Paket C. Ia ingin setidaknya menyelesaikan pendidikan yang setara SMA.
Semangat belajarnya menginspirasi banyak orang. Bayangkan, seorang pedagang yang sibuk ke pasar, masih meluangkan waktu untuk belajar di malam hari. Dari sana, ia menunjukkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu.
Keputusan ini ternyata membuka jalan lain. Dengan bekal pendidikan dan pengakuan dari masyarakat atas kerja kerasnya, Sahili kemudian dipercaya untuk **mencalonkan diri sebagai Kepala Desa (Kades).
Dari Pedagang ke Pemimpin
Pemilihan kepala desa di Nagasari waktu itu cukup ramai. Ada beberapa calon dengan latar belakang berbeda. Namun nama Sahili mencuat karena ia dikenal luas oleh masyarakat. Hampir setiap orang pernah membeli dagangannya, hampir setiap keluarga mengenalnya.
Bagi masyarakat, Sahili bukan orang asing. Ia bukan hanya pedagang, melainkan juga sosok yang sering membantu. Jika ada tetangga kekurangan sayur atau ikan asin, ia rela memberi tanpa pamrih. Jika ada hajatan, ia selalu hadir, ikut menyumbang meski sederhana. Semua itu menanamkan kepercayaan.
Hasilnya, Sahili terpilih menjadi Kepala Desa Nagasari. Dari pedagang pekan, ia kini duduk di kursi pemimpin desa. Tetapi ia tidak berubah. Kesederhanaannya tetap melekat. Ia memimpin dengan hati, mengutamakan kebersamaan, dan tetap rajin turun tangan jika ada kegiatan gotong royong.
Inspirasi yang Hidup
Kisah hidup Sahili menjadi cermin bagi masyarakat desa . Ia membuktikan bahwa kesuksesan tidak hanya datang dari bangku sekolah tinggi, tetapi dari kerja keras, tekad, dan keberanian untuk mengambil jalan hidup sendiri.
Namun, ia juga tidak menafikan pentingnya pendidikan. Justru dengan mengikuti Paket C, ia ingin memberi contoh bahwa pendidikan tetap bernilai, meski ditempuh di usia dewasa.
Anak-anak muda desa kini punya dua teladan: sekolah tinggi untuk meniti karier, atau tekun bekerja keras di jalur usaha. Sahili telah membuktikan keduanya bisa berjalan seiring, asal disertai keikhlasan dan kerja keras.
Kini, di usia yang lebih matang, Sahili menikmati buah perjuangannya. Ia memiliki keluarga yang rukun, anak-anak yang sudah besar, rumah yang layak, kebun yang menghasilkan, dan posisi terhormat sebagai pemimpin desa.
Masyarakat melihatnya bukan sekadar sebagai seorang pedagang atau kepala desa, melainkan sebagai sumber inspirasi bahwa hidup akan selalu memberi jalan bagi mereka yang berani berusaha.**