Musim Ini, Petani Sawah Tadah Hujan Mulai Manfaatkan Sumur Bor Raksasa

Pengerjaan sumur bor untuk lahan sawah tadah hujan di Desa Medan Jaya Ipuh masih dalam pengejaran.-Dedi Sumanto-Radar Mukomuko

koranrm.id - Pembangunan sumur bor raksasa khusus untuk sawah tadah hujan di Desa Medan Jaya Kecamatan Ipuh Mukomuko, yang dibangun oleh Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VII Bengkulu saat ini masih dalam proses pengerjaan.

Dimana sekarang pengerjaan sumur bor raksasa tersebut sudah selesai lebih kurang 45 persen, dengan kedalaman pengeboran Baru mencapai 52 meter. Jika tidak ada halangan, sumur bor tersebut ditargetkan selesai 100 persen paling lambat awal September mendatang. Sehingga dalam musim tanam tahun ini para petani sudah bisa memanfaatkan sumur bor tersebut, untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman padinya. Karena itu para petani berharap pengerjaan sumur bor tersebut, bisa selesai tepat waktu sesuai dengan target yang sudah ditetapkan.

Kepala Desa (Kades) Medan Jaya, Afrizal (Akang), mengatakan, setalah tim BWSS VII turun sosialisasikan pembangunan sumur bor awal Agustus lalu, mereka langusng turun bergerak malaksanakan pekerjaan. Hingga saat ini pengerjaan sumur bor raksasa khusus untuk lahan persawahan tadah hujan tersebut, masih dalam proses pengerjaan. BWSS VII Bengkulu menargetkan pembangunan sumur bor tersebut bisa dimanfaatkan oleh petani pada saat turun menggarap lahan persawahan musim ini.

"Ya, kalau target mereka akhir Agustus ini sumur bor tersebut sudah selesai dan sudah bisa dimanfaatkan. Sekarang pengerjaan baru selesai 45 persen. Kita harap tidak ada halangan, sehingga sumur bor ini bisa sesuai sesuai target," ungkap Akang.

Ditambahkan Akang, pembangunan sumur bor atau pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) ini, salah satu bentuk keseriusan dan upaya pemerintah terkait dalam mendukung swasembeda pangan di Provinsi Bengkulu khususnya di Kabupaten Mukomuko tahun 2025 ini. Bangunan jaringan irigasi air tanah atau sumur bor raksasa ini, dibangun khusus untuk persawahan tadah hujan. Para petani memang sudah lama berharap ada solusi untuk mengatasi cuaca yang tidak menentu pada saat mereka turun garap sawah. Selama ini, para petani harus mengeluarkan biaya yang besar untuk menyedot air menggunakan mesin agar bisa mendapatkan air.

"Program ini sangat membantu para petani dalam mengolah lahan sawah. Karena sekarang cuaca sudah tidak menentu, tidak bisa diprediksi. Petani memprediksi musim hujan, ternyata musim kemarau yang terjadi seperti tahun lalu, petani harus rugi karena tanaman padinya tidak tumbuh dengan baik karena kekeringan," imbuhnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan