Catatan Serajah Kerajaan Sriwijaya Masa Kekayaan Hingga Keruntuhan
Catatan Serajah Kerajaan Sriwijaya Masa Kekayaan Hingga Keruntuhan.-Dedi Sumanto-Sceenshot
koranrm.id - Masyarakat Indonesai tentu tidak asing lagi dengan sejarah, mulai dari sejarah penjajahan hingga sejarah kemerdekaan negara republik Indonesai, termasuk sejarah kerajaan yang pernah berdiri di Indonesia sebelum merdeka. Salah satu sejarah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah Indonesia, yaitu kerjaan Sriwijaya. Sejarah kerajaan Sriwijaya tentu sudah tak asing di telinga masyarakat Indonesia, diketahui kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke-7 Masehi oleh seorang bernama, Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Nama pendiri kerajaan ini tercantum dalam beberapa prasasti yang ditemukan di wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. Kerajaan yang bercorak Budha ini, berperan sebagai pusat agama, budaya, dan perdagangan Asia Tenggara dan Asia Timur. Kerajaan Sriwijaya juga memiliki sejarah panjang mulai dari awal berdiri hingga dimasa keruntuhannya.
Hingga saat ini, letak Kerajaan Sriwijaya masih banyak diperdebatkan. Namun, ada satu pendapat yang populer dikemukakan oleh G. Coedes pada tahun 1918. Dalam pendapatnya Sriwijaya disebutkan berada di Palembang. Hingga saat ini, Palembang masih dianggap sebagai pusat Sriwijaya. Beberapa ahli berkesimpulan bahwa Sriwijaya yang bercorak maritim memiliki kebiasaan untuk berpindah-pindah pusat kekuasaan. Lebih spesifiknya, kerajaan ini terletak di tepi Sungai Musi. Hal tersebut membuat Kerajaan Sriwijaya memiliki lokasi yang strategis. Karena keberadaannya di jalur perdagangan utama antara India dan China kala itu. Masa keemasan Kerajaan Sriwijaya terjadi pada abad ke-9 masehi, ketika Raja Balaputradewa memerintah. Dimana kala itu, Sriwijaya berhasil untuk menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara barat, termasuk Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, dan sebagian wilayah Jawa.
Selain itu, Sriwijaya juga menjadi pusat agama Buddha yang dihormati oleh banyak negara lain. Banyak biksu dan pelajar dari India, China, dan Tibet yang datang ke Sriwijaya untuk belajar agama dan ilmu pengetahuan. Salah satu yang terkenal dari Sriwijaya kala itu adalah kekuatan maritimnya. Ditambah lagi dengan dukungan berbagai komoditas perdagangan mahal macam emas, perak, perunggu, kain, rempah-rempah, dan kayu cendana, yang semakin mendukung majunya peradaban tersebut. Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya Meskipun memiliki banyak wilayah kekuasaan, hal tersebut tak lantas membuat Sriwijaya bertahan selamanya. Salah satu yang membuat kerajaan ini runtuh adalah kurangnya aktivitas kapal dagang yang singgah sehingga membuat perekonomian kerajaan Sriwijaya kian menurun.
Hal ini disebabkan oleh semakin jauhnya Kota Palembang dari posisi laut sehingga menyebabkan daerah tersebut tidak lagi strategis untuk pusat perdagangan. Hal tersebut membuat kapal-kapal dagang lebih tertarik untuk singgah di tempat lain. Mulai menurunnya perekonomian berpengaruh juga pada kekuatan kerajaan Sriwijaya di sektor militer kala itu. Hal ini membuat beberapa wilayah yang telah ditaklukkan memilih memberontak atau melepaskan diri dari Sriwijaya. Terlebih saat itu, perkembangan penyebaran Agama Islam telah berkembang pesat di abad ke-12. Pengaruh Islam juga semakin luas menggerus kerajaan-kerajaan Hindu Budha yang tersisa. Dari beberapa penyebab itu, akhirnya Kerajaan Sriwijaya mulai runtuh di abad ke-13 Masehi, yaitu saat adanya serangan dan pendudukan yang dilakukan oleh Kerajaan Majapahit atas seluruh wilayah Kerajaan Sriwijaya
Selanjutnya, peninggalan kerajaan Sriwijaya beberapa prasasti yang telah ditemukan dan dipercaya sebagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya di antaranya, Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di tepi sungai Batang, Kota Palembang. Dalam prasasti ini berisi ungkapan mengenai Dapunta Hyang yang menaiki perahu dan mengisahkan mengenai kemenangan Sriwijaya. Prasasti Kota Kapur, yang ditemukan di Pulau Bangka mengisahkan tentang kutukan untuk orang yang berani melanggar perintah dari Raja Sriwijaya. Prasasti Telaga Batu, ditemukan di Kolam Telaga Biru, Kecamatan Ilir Timur, Kota Palembang. Berisikan kutukan untuk orang-orang jahat yang berada di wilayah kerajaan Sriwijaya.
Kemudian Prasasti Karang Berahi, yang ditemukan di Desa Karang Berahi, Merangin Provinsi Jambi. Berisikan kutukan untuk orang-orang jahat yang tidak setia terhadap Raja Sriwijaya. Prasasti Ligor, ditemukan di wilayah Thailand sebelah Selatan oleh seorang bernama Nakhon Si Thammarat. Berisikan kisah seorang Raja Sriwijaya yang membangun Tisamaya Caitya untuk Karajaan. Prasasti Talang Tuwo, berisi mengenai doa Buddha Mahayana dan kisahnya mengenai pembangunan taman dari Sri Jayanasa. Selain itu, terdapat pula prasasti lain seperti Prasasti Palas Pasemah, Prasasti Hujung Langit, Prasasti Leiden, dan Candi Muara Takus. Inilah sejarah kerajaan Sriwijaya dan beberapa peninggalannya di Indonesia.