Dikampus Ini Jejak Cinta Leo Dan Darah Di Antara Debat Dan Takdir

Dikampus Ini Jejak Cinta Leo Dan Darah Di Antara Debat Dan Takdir.-AI-Meta Ai

LANGKAH kaki Leo terdengar mantap saat ia melangkah memasuki gedung perkuliahan Fakultas Hukum di salah satu universitas ternama di ibu kota. 

Pemuda desa itu masih ingat bagaimana ia meninggalkan kampung halamannya deretan sawah membentang, aroma tanah basah, dan wajah ayahnya yang legam terbakar matahari. 

Leo adalah anak sulung dari keluarga petani sederhana. Sejak SMA, ia dikenal cerdas, rajin, dan memiliki pandangan luas. Bagi orang-orang di kampungnya, Leo adalah kebanggaan. Kini, ia berdiri di sebuah kampus elit yang selama ini hanya ia lihat lewat brosur dan televisi.

Di lingkungan baru itu, Leo tidak hanya mengandalkan kecerdasannya, tetapi juga pesonanya. Wajahnya yang tegas, kulit sawo matang khas anak desa, ditambah sorot mata yang tenang namun dalam, membuatnya mudah dikenali di antara mahasiswa lain. 

Tak jarang dosen wanita senior sekalipun tersenyum lebih lama padanya, meski Leo sendiri tak pernah menanggapi berlebihan. Baginya, fokus utamanya adalah belajar dan membawa pulang gelar untuk membanggakan orang tua.

BACA JUGA:Kodim Mukomuko Terima Kunjungan Tim Masev TMMD Ke-125

Namun, takdir kadang datang tanpa rencana.

Hari itu, di kelas Pengantar Hukum, seorang dosen meminta mahasiswa membentuk kelompok debat. Leo kebagian melawan tim yang dipimpin seorang gadis bernama Dara. 

Gadis itu segera menarik perhatiannya. Kulitnya putih bersih, rambut hitam panjang terurai rapi, dan matanya berbinar seperti embun pagi. Penampilannya sederhana, tetapi sikapnya memancarkan wibawa dan kesopanan.

Ia berbicara tenang, namun setiap kata terasa tegas dan penuh keyakinan. Tidak heran jika banyak teman satu kelas menyayanginya.

Debat pun dimulai. Leo dan Dara saling beradu argumen, bukan dengan nada tinggi, tetapi dengan logika yang tajam. Leo kagum pada cara Dara merangkai kalimat, sementara Dara terkesan pada keluwesan Leo menjawab setiap serangan argumen. 

BACA JUGA:Gelombang Panas Eropa 2025 Pecahkan Rekor Suhu Dunia

Diskusi itu berlangsung sengit namun menyenangkan. Sesekali, senyum tipis terselip di bibir keduanya.

Hari-hari berikutnya, pertemuan mereka semakin sering. Awalnya hanya di kelas atau forum diskusi, lalu merambah ke perpustakaan, kantin, bahkan duduk bersama di taman kampus sambil membicarakan topik-topik hukum yang rumit. 

Namun entah bagaimana, obrolan mereka perlahan menjalar ke hal-hal ringan tentang masa kecil, keluarga, hingga mimpi-mimpi di masa depan.

Bagi Leo, Dara bukan sekadar teman diskusi. Ia seperti cahaya yang membuat ibu kota terasa lebih ramah. Sedangkan bagi Dara, Leo adalah sosok yang selalu mendengarkan tanpa menghakimi, sesuatu yang jarang ia temui di lingkungan kampus yang penuh persaingan.

Mereka mulai terbiasa berjalan bersama sepulang kuliah. Leo sering membawakan buku Dara atau sekadar membukakan pintu kelas. Hal-hal kecil itu membuat Dara merasa nyaman. Sementara di hati Leo, benih-benih rasa tumbuh, perlahan tetapi pasti.

Suatu sore, saat hujan rintik membasahi halaman kampus, mereka berteduh di bawah pohon flamboyan. Dara memegang payung kecil, namun tidak cukup untuk menampung keduanya. Leo berdiri dekat, merasakan aroma samar parfum Dara bercampur wangi tanah basah.

 Kamu tahu, Dar,  ucap Leo pelan,  dulu aku nggak pernah membayangkan bisa kuliah di sini. Apalagi bertemu orang seperti kamu. 

Dara menoleh, bibirnya melengkung,  Orang seperti aku itu yang bagaimana? 

BACA JUGA:\Uber & Waymo Siapkan Robotaksi Listrik di Indonesia 2025

Leo tersenyum, menatap lurus ke matanya,  Orang yang bikin aku lupa sama segala beban dan ingat lagi kalau hidup itu indah. 

Dara terdiam. Hujan terus turun, seolah memberi jeda pada hatinya yang mulai berdebar.

Sejak saat itu, hubungan mereka semakin dekat. Bukan dalam arti pacaran resmi, tetapi semua orang tahu ada sesuatu di antara mereka. Bahkan teman-teman mereka kerap menggoda, dan keduanya hanya membalas dengan senyum.

Tiga tahun kuliah terasa cepat. Mereka melewati banyak momen menjadi rekan satu tim lomba debat tingkat nasional, belajar bersama hingga larut malam, dan saling mendukung ketika salah satu merasa lelah. Dalam diam, Leo menabung keberanian untuk suatu hari mengungkapkan perasaannya.

Namun takdir kembali memainkan perannya.

Menjelang kelulusan, Dara tampak lebih sering termenung. Suatu sore, ia mengajak Leo bertemu di taman kampus yang biasa mereka datangi. Mata Dara terlihat sendu, dan senyumnya tak selebar biasanya.

 Leo,  katanya lirih,  ada hal yang harus aku kasih tahu. Mungkin ini akan mengubah segalanya. 

Leo menatapnya penuh tanya.

 Ayahku... sudah lama menjodohkan aku dengan anak sahabatnya. Dia tinggal di kota ini. Selama ini aku diam, karena kupikir aku bisa menolak. Tapi setelah lulus, orang tuaku ingin aku segera menikah dengannya. 

Dunia Leo terasa berhenti sejenak. Ia mencoba memahami kata-kata Dara, tapi dadanya terasa sesak.

Dan kamu... setuju?  suaranya serak.

BACA JUGA:AI Veganism: Tren Etika Baru dalam Dunia Teknologi

Dara menunduk, menahan air mata.  Aku... aku nggak mau mengecewakan orang tuaku. Mereka sudah banyak berkorban untukku. Aku nggak tahu harus bagaimana, Leo. 

Hening panjang membentang di antara mereka. Angin sore meniup dedaunan, seolah ikut merasakan beratnya perpisahan yang tak diinginkan.

Leo ingin marah, ingin memohon, tapi ia tahu Dara adalah orang yang selalu mengutamakan keluarga. Dan itulah salah satu alasan ia mencintainya kesetiaan, tanggung jawab, dan kebaikan hati Dara.

Hari kelulusan tiba. Mereka duduk bersebelahan, mengenakan toga dan senyum yang dipaksakan. Setelah acara selesai, Dara mendekat, menyerahkan sebuah buku pada Leo.

 Ini buku yang dulu kita rebutkan di perpustakaan,  katanya sambil tertawa kecil.  Aku ingin kamu simpan. Anggap saja sebagai kenangan dari teman debatmu. 

Leo menerima buku itu.  Terima kasih, Dara. Kamu tahu kan, aku selalu mendoakan yang terbaik buatmu, walau bukan aku yang menemanimu nanti. 

Dara menatapnya lama, seakan ingin menghafal wajah itu untuk terakhir kalinya. Lalu mereka berpelukan singkat hangat, namun penuh luka yang tak terlihat.

BACA JUGA:Skincare Routine untuk Pemula: Panduan Lengkap Langkah demi Langkah

Setelah hari itu, Leo kembali ke kampungnya. Ia membantu ayah mengurus sawah, sambil sesekali membuka buku yang diberikan Dara. Di halaman terakhir, ia menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan halus:

"Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku, Leo. Kalau takdir memberi kita kesempatan lain, aku harap kita bisa bertemu lagi tanpa ada yang harus dipilih selain hati kita sendiri."

Leo tersenyum pahit. Ia tahu, cinta mereka mungkin tak berakhir bersama, tetapi kenangan itu akan selalu menjadi bagian yang indah dalam hidupnya. Seperti debat pertama mereka, yang memulai segalanya tanpa mereka sadari.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan