Menunggu Kabar Cinta di Tepi Sungai

Menunggu Kabar Cinta di Tepi Sungai.-AI-Meta Ai

Kisah cinta anak SMP kelas VII B

Dirunag kelas VII B SMP Negeri itu selalu riuh. Deru suara tawa, gumaman obrolan, dan dentingan bangku yang bergeser seolah menjadi musik latar setiap hari. 

Di tengah hiruk pikuk itu, Alex remaja tampan duduk di bangku paling depan, menunduk khusyuk menulis catatan. 

Rambutnya hitam sedikit berantakan, kemeja putihnya rapi meski sudah sedikit memudar warnanya. Alex bukan anak orang kaya, bahkan sepatu yang dipakainya sudah mulai mengelupas di bagian ujung dan tapaknya sudah tiis. Namun, berkat  ketekunan dan kecerdasannya membuatnya selalu berada di peringkat pertama setiap ujian.

Di sudut  kelas, duduk Laily gadis manis dengan dengan warna kulit swo matang  senyum cerah, rambut hitam panjang yang selalu diikat pita warna pastel, dan kemeja putih yang wangi sabun mahal. 

Laily adalah anak tunggal keluarga berada di kampung itu. Semua yang dia inginkan, orang tuanya siap menyediakan. Namun, di balik sifat manjanya, ada kelembutan yang jarang dimiliki  orang lain.

Wati,  sebagai sahabat  akrab Laily sekaligus gadis paling cerewet di kelas, sering kali memergoki Laily yang diam-diam memperhatikan Alex ketika ia sedang mengerjakan soal di papan tulis.  Eh, Lay... jangan melotot gitu, nanti Alex meleleh,  bisik Wati sambil terkekeh.

BACA JUGA:Pakaian Adat Suku Baduy: Simbol Kesederhanaan dan Harmoni dengan Alam

Laily tersipu, mencoba menutupi wajahnya dengan buku.  Apaan sih, Ti   gumamnya. Tapi Wati tahu, ada sesuatu di hati Laily. Maka, ia pun mulai memainkan perannya sebagai mak comblang.

Hari demi hari, Wati mengatur cara agar Laily dan Alex sering berdekatan. Saat kerja kelompok, Wati sengaja memasangkan mereka. Saat istirahat, ia menyeret Laily duduk di bangku panjang dekat lapangan, di mana Alex biasanya membaca buku. 

Awalnya canggung, tapi perlahan, Laily mulai berani menyapa, dan Alex meski pemalu selalu menjawab dengan senyum tipis yang membuat pipi Laily hangat.

Mereka tak pernah resmi mengungkapkan perasaan, tapi semua orang di kelas VII B tahu, ada benang merah yang perlahan terjalin di antara keduanya.

Namun, awal semester berikutnya membawa kabar yang membuat suasana berubah. Laily akan pindah sekolah ke kota. 

Ayahnya mendapat pekerjaan baru, dan mereka sekeluarga harus ikut. Kabar itu seperti angin dingin yang mematikan bunga yang baru mekar.

Hari terakhir Laily di sekolah, langit mendung. Mereka tak sempat berbicara banyak hanya saling menatap di gerbang sekolah.  Jaga dirimu, ya, Alex   ucap Laily pelan. Alex hanya mengangguk, menelan semua kata yang ingin ia ucapkan.

BACA JUGA:Tari Sigeh Penguten: Ikon Budaya Lampung yang Memadukan Tradisi dan Keanggunan

Sejak hari itu, sore-sore Alex lebih sering menghabiskan waktu di tepi sungai dekat rumahnya. 

Sungai itu mengalir tenang, memantulkan cahaya senja yang keemasan. Di sanalah ia duduk, menatap arus air, seolah menunggu kabar yang tak kunjung datang. Kadang ia membayangkan Laily berjalan di tepi sungai itu lagi, tertawa sambil mengibaskan rambutnya yang harum.

Namun, yang datang hanyalah angin sore, membawa suara gemericik air dan rindu yang tak pernah sampai.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan