Ketika Dosen Hilang Integritas, Belajar dari Si Empat Mata dan Si Pahit Lidah
Ketika Dosen Hilang Integritas, Belajar dari Si Empat Mata dan Si Pahit Lidah.-Dedi Sumanto-Sceenshot
koranrm.id - Sudah tidak asing lagi sebuah legendaris dari Sumatera Selatan cerita dua tokoh yang cukup serat filosofi tentang Si Mata Empat Mata dan Si Pahit Lidah. Legenda ini bukan hanya sekedar cerita rakyat belaka.
Namun ada sebuah pancaran kearifan lokal mengandung makna yang sangat mendalam tentang kepemimpinan, pengawasan moral dan tanggungjawab sosial. Si Mata Empat, yang dalam legenda ini memiliki empat mata, melambangkan penglihatan yang tajam dan wawasan yang cukup luas. Ia tahu mana yang benar dan mana yang salah sebelum orang lain menyadarinya. dia bukan hanya melihat dengan mata secara fisik saja, tapi juga melihat dengan mata hati dan mata nurani.
Sementara, Si Pahit Lidah dikenal karena setiap ucapannya menjadi kenyataan. Tapi bukan berarti dia suka mengutuk sembarangan. Justru, ia menjadi penjaga moral, pengingat bagi siapa pun agar tidak bertindak semena-mena. Peran dia adalah sebuah simbol ketegasan moral dan integritas yang tak tergoyahkan.
BACA JUGA:Merawat Mesin Jahit Agar Tetap Berfungsi Baik
Kini, mari menoleh pada dunia akademik masa kini. Di tengah gedung-gedung tinggi ber AC, dengan gelar dan jabatan akademik yang mentereng, adakah yang bertindak sebagai Si Mata Empat atau Si Pahit Lidah.
Yang masih hidup dalam diri para dosen masa kini. Ataukah keduanya telah terkubur oleh rutinitas, ambisi pribadi, dan sikap masa bodoh? Tidak sedikit ad dosen yang menjalankan tugas sekadar melaksnakan kewajiban.
Hadir mengajar, tapi tidak hadir dalam nurani. Memberi nilai, tapi tidak pernah benar-benar membimbing. Menulis untuk kenaikan pangkat, bukan untuk menyumbang ilmu. Ironisnya, mereka tahu yang benar, tapi memilih diam. Tahu ada kecurangan, tapi memilih nyaman.
Padahal, dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat adalah satu kesatuan utuh. Dosen bukan hanya pengajar, tapi pendidik. Dia bukan sekadar pembaca slide PowerPoint, tapi pembentuk karakter. Dalam diri seorang dosen seharusnya hidup mata yang tajam seperti Si Mata Empat, dan lidah yang jujur dan tegas seperti Si Pahit Lidah.
Karakter seorang dosen bukan hanya dinilai dari seberapa banyak dia menerbitkan jurnal atau meraih gelar akademik, tapi dari seberapa dalam dia menyentuh hati para mahasiswa dan menggerakkan nurani masyarakat. Dia menjadi pelita di tengah gelapnya pencarian makna, menjadi teladan dalam ketekunan, kejujuran, dan ketulusan.
BACA JUGA:Tips Mengatur Ruang Kerja di Rumah agar Produktif dan Nyaman
Jika ilmu adalah cahaya, maka integritas adalah lentera yang menjaganya tetap bersinar. Tanpa kepedulian, pendidikan kehilangan jiwa. Tanpa integritas, ilmu kehilangan arah. Mari menjadi dosen yang hadir bukan hanya dalam absensi, tapi juga dalam kehidupan, memberi makna, bukan sekadar materi, karena pendidikan sejatinya tumbuh dari keteladanan, bukan hanya pengajaran. Integritas adalah roh dari profesi dosen.
Tanpa itu, jabatan hanyalah tempurung kosong. Kepedulian terhadap mahasiswa, kolega, dan masyarakat adalah bukti nyata bahwa seorang dosen layak disebut cendekiawan, bukan hanya pengumpul SK atau sertifikat-sertifikat kegiatan.
Profesor Emil Salim pernah berkata "A real teacher is a teacher giving his/her whole heart, mind, soul, for students/Guru sejati adalah guru yang memberikan seluruh hati, pikiran, dan jiwanya untuk para siswanya." (qitepinscience.org).
Guru sejati adalah guru yang memberikan segenap hati, pikiran, jiwa, untuk muridnya./Guru sejati adalah guru yang memberikan seluruh hati, pikiran, dan jiwa untuk para siswanya. Ini menjadi pengingat kuat bahwa seorang pendidik sejatinya bukan hanya menyampaikan materi, tetapi hadir sepenuh jiwa.
Dalam hal ini, dosen bukan hanya guru di kelas, melainkan penjaga harapan pembentuk karakter, lensa moral yang menyentuh sampai ke hati mahasiswa. Mahaiswa butuh dosen-dosen yang bukan hanya cerdas, tapi juga peduli dan jujur, yang tidak hanya unggul dalam akreditasi, tapi juga dalam akhlak, dedikasi integritas.
BACA JUGA:Membuat Rumah Terlihat Lebih Nyaman: Sentuhan Sederhana, Dampak Besar
Menurut Survei Penilaian Integritas Pendidikan (SPI) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tahun 2023. Salah satu tantangan besar dunia pendidikan tinggi di Indonesia adalah minimnya integritas akademik. Masih marak ditemukan perilaku mencontek, plagiarisme, manipulasi data, serta rendahnya keterlibatan dalam pengabdian masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan belum sepenuhnya jadi zona integritas.
"Survei Integritas Pendidikan KPK. Perilaku Masih Koruptif." (kbr.id). Tentu tidak semua dosen seperti itu. Masih banyak sosok-sosok hebat yang memilih jalan sunyi penuh pengorbanan, mendampingi mahasiswa riset hingga larut malam, menulis buku dan publikasi jurnal nasional dan internasional dengan dana pribadi, atau turun langsung membina desa tanpa sorotan media. Mereka inilah pewaris sejati Si Mata Empat dan Si Pahit Lidah.
Harus berani berkata, dosen adalah teladan moral, bukan sekadar pengisi jadwal kuliah. Kepedulian tidak bisa diajarkan lewat modul, tapi ditunjukkan lewat tindakan nyata. Integritas tidak dibangun dalam sehari, tapi dibentuk dalam konsistensi hidup.
Maka, mari bertanya pada diri masing-masing. Apakah saya telah menjadi Si Mata Empat yang melihat dengan jernih dan jujur? Apakah saya telah menjadi Si Pahit Lidah yang berani bersuara saat ada ketidakadilan? Sejatinya, kehormatan seorang dosen tidak hanya ada di gelar dan seremonial. Ia hidup dalam doa-doa tulus mahasiswa yang merasa dibimbing dengan kasih, dan bukan menjual harga diri dengan mahasiswa yang dibimbing.
BACA JUGA:Mengatasi Masalah Air yang Menggenang: Pencegahan dan Solusi
Dosen hidup dalam perubahan kecil di masyarakat yang disentuh oleh pengabdian tulus, dan ia hidup dalam sejarah panjang bangsa yang ingin mencerdaskan kehidupan, bukan hanya menaikkan peringkat universitas. Menjadi dosen sejati adalah menjadi penjaga harapan.
Setiap pertemuan di kelas adalah kesempatan menyalakan obor masa depan. Setiap bimbingan adalah ladang keikhlasan, tempat karakter dibentuk perlahan. Dosen bukan hanya profesi, tapi panggilan jiwa untuk membangun peradaban. Ketika dunia sibuk mencari keuntungan, dosen hadir menghidupkan nilai. Ketika kejujuran langka, dosen mesti menjadi contoh keberanian.
Kita bukan hanya mendidik pemikiran, tapi juga menanamkan nurani, bukan untuk menakuti, tetapi untuk menuntun, karena bangsa yang besar dibangun oleh guru yang teguh dan dosen yang berhati jernih. Semoga kita semua, para dosen, senantiasa tergerak untuk menjadi mata yang melihat jauh, dan lidah yang berkata benar.
BACA JUGA:Tips Memilih Tanaman Hias yang Tepat untuk Rumah Anda
Melalui semangat warisan Si Mata Empat dan Si Pahit Lidah yang bukan hanya legenda, tapi panggilan moral untuk kita semua. Marilah kita merenung dan menumbuhkan kembali motivasi menjadi pendidik yang bermakna dan bermartabat. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com.