Baru Tau, Ini Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jumat Menurut Ulama
Baru Tau, Ini Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jumat Menurut Ulama--screenshot dari web.
KORANRM.ID - Dimasjid dan surau baik disudut kota ataupun didesa ketika menuju hari Jumat banyak kaum muslimin menghidupkan hari itu dengan ibadah yang istimewa.
Di antara amalan yang diwariskan dari generasi ke generasi adalah membaca surat Al-Kahfi, salah satu surat agung dalam Al-Qur'an yang menyimpan keutamaan luar biasa.
Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tanpa ruh, melainkan bentuk penghayatan terhadap warisan Rasulullah dan petunjuk para ulama yang meresapi makna ayat demi ayat dengan ketundukan penuh iman.
Dalam khazanah Islam, para ulama salaf maupun kontemporer menempatkan surat Al-Kahfi sebagai salah satu bacaan utama pada hari Jumat.
Surat yang terdiri dari 110 ayat ini tak hanya sarat kisah inspiratif, namun juga menjadi perisai bagi hati dan pemikiran umat di tengah zaman yang penuh fitnah dan kebingungan.
Membacanya bukanlah tindakan simbolik, melainkan upaya menyegarkan kembali ruh keimanan, memperkuat keyakinan, dan menumbuhkan kesadaran akan tujuan hidup sejati.
Imam Nawawi, seorang ulama besar dari mazhab Syafi’i, menjelaskan dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, bahwa di antara amalan sunah pada hari Jumat adalah membaca surat Al-Kahfi.
Pendapat ini juga ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam dalam kitab Fathul Bari, yang menyebut bahwa membaca surat ini memiliki landasan kuat dalam hadis sahih.
Keduanya mengacu pada sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
"Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya antara dua Jumat." (HR. Muslim)
BACA JUGA:Menciptakan Suasana Romantis di Rumah: Sentuhan-sentuhan Kecil untuk Momen-momen Istimewa
Hadis ini menjadi titik tumpu utama dalam menjelaskan keutamaan surat Al-Kahfi.
Pancaran cahaya yang dimaksud oleh Nabi bukan hanya dalam pengertian metaforis sebagai keberkahan, tapi juga sebagai benteng spiritual yang melindungi seorang Muslim dari kegelapan hidup.
Ulama seperti Imam Al-Qurthubi menafsirkan cahaya itu sebagai petunjuk dan perlindungan dari fitnah dunia, terutama fitnah Dajjal yang sangat dahsyat.
Surat Al-Kahfi sendiri memuat kisah yang menjadi pelajaran besar tentang keteguhan iman dalam menghadapi berbagai ujian: pemuda Ashabul Kahfi yang lari dari tirani demi mempertahankan akidah, kisah dua pemilik kebun yang mengandung pelajaran tentang kesombongan harta, petualangan Nabi Musa dan Khidir sebagai simbol pencarian ilmu, serta kekuasaan Dzulqarnain yang adil.
Keempat kisah itu, menurut ulama tafsir seperti Ibn Katsir, mewakili empat jenis fitnah besar dalam kehidupan manusia: fitnah agama, fitnah harta, fitnah ilmu, dan fitnah kekuasaan.
Membaca dan merenungkannya pada hari Jumat berarti menanamkan kembali akar keimanan, agar tetap teguh menghadapi realitas hidup yang penuh godaan.
Tidak hanya pada hari Jumat, keutamaan surat ini juga berkaitan langsung dengan fitnah Dajjal. Dalam riwayat sahih dari Imam Muslim dan Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, ia akan terlindungi dari Dajjal." (HR. Muslim)
Hadis ini menjadi dalil penting bahwa surat Al-Kahfi bukan sekadar bacaan mingguan, melainkan tameng yang membentengi akidah dan pemikiran dari infiltrasi fitnah paling dahsyat yang akan muncul menjelang kiamat.
Dalam penjelasan para ulama, Dajjal tidak hanya dipahami sebagai sosok fisik, tapi juga bisa dimaknai sebagai segala bentuk kekuatan yang menyesatkan akidah manusia mulai dari ideologi sesat hingga propaganda yang merusak iman.
Karena itu, membaca surat Al-Kahfi bukan hanya ritual, melainkan bentuk kesadaran akan pentingnya menjaga benteng diri.
Hari Jumat menjadi momen paling tepat untuk itu, sebab ia adalah hari agung yang diistimewakan oleh Allah SWT. Dalam satu riwayat sahih, Rasulullah bersabda:
"Hari terbaik di mana matahari terbit adalah hari Jumat." (HR. Muslim)
Di hari itulah, seorang muslim dianjurkan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa.
Surat Al-Kahfi menjadi rangkaian sempurna untuk menyemarakkan hari mulia itu.
Tradisi ini tidak berhenti di masjid-masjid atau majelis taklim, tetapi hidup dalam sunyi kamar-kamar pribadi, dalam suara hati yang melafazkan ayat demi ayat sebagai bentuk taqarrub kepada Sang Pencipta.
Banyak umat Islam yang menjadikan pembacaan surat ini sebagai bagian dari rutinitas spiritual mingguan.
Di berbagai penjuru dunia Islam, termasuk Indonesia, fenomena ini terasa hidup dari pesantren hingga komunitas muslim di kota-kota besar, surat Al-Kahfi menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan ruhani di tengah pusaran dunia yang terus bergerak cepat.
Ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf Al-Qaradawi bahkan menekankan perlunya kaum muslimin memahami kandungan surat ini, bukan sekadar membacanya, agar dampaknya betul-betul terasa dalam kehidupan.
Mengamalkan surat Al-Kahfi dengan kesadaran dan pemahaman bukanlah tugas yang sulit.
Cukup dengan meluangkan waktu sejenak di antara hiruk-pikuk rutinitas Jumat, duduk tenang, membuka mushaf atau aplikasi digital, dan membiarkan ayat-ayat itu berbicara kepada hati.
Di sanalah keutamaan itu tumbuh: dalam ketulusan, dalam kesungguhan, dalam kerinduan akan petunjuk Ilahi.**