Ini Alasan Petani Sawit Banyak Memburu Motor Honda Revo Lama 2007

Ini Alasan Petani Sawit Banyak Memburu Motor Honda Revo Lama 2007--screenshot dari web.

KORANRM.ID - Di sudut-sudut desa yang dikelilingi kebun kelapa sawit, suara knalpot motor terdengar bersahut-sahutan sejak pagi.

Mereka adalah para petani yang siap menempuh jalur tanah merah yang licin, menanjak, dan terkadang penuh genangan lumpur.

Di antara kendaraan roda dua yang berlalu-lalang,  ada satu jenis motor tampak paling sering melintas, membawa dua hingga tiga karung penuh tandan buah sawit. Itulah Honda Revo lama rakitann 2007, motor bebek  satu ini  telah menjelma menjadi sahabat setia para pekebun sawit ang anyak dicari.

Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi cermin dari adaptasi masyarakat terhadap alat kerja yang ekonomis, tangguh, dan bisa diandalkan.

Honda Revo lama rakita 2007, yang semula dirancang sebagai kendaraan harian untuk kebutuhan kota maupun desa, kini banyak dimodifikasi oleh masyarakat menjadi motor grandong  untuk mengangkut beban berat di perkebunan sawit.

Tanpa mengganti kerangka utama, petani cukup menambahkan rangka besi di sisi kanan dan kiri jok, memperkuat suspensi, dan mengubah ban menjadi tipe dual-purpose atau pacul. Hasilnya adalah motor ringan yang sanggup memikul tugas berat.

Salah satu keunggulan utama dari Honda Revo lama tahun 2007 terletak pada efisiensi bahan bakar yang sangat irit. Dengan konsumsi sekitar 60 kilometer per liter, motor ini menjadi pilihan cerdas bagi petani yang harus menempuh jarak belasan kilometer dari rumah ke kebun dan kembali dengan membawa muatan.

Mesin 110 cc-nya memang kecil, tetapi cukup bertenaga untuk jalur tanjakan ringan hingga sedang. Kecepatan bukanlah tujuan utama; yang dicari adalah kekuatan bertahan di medan sulit dan kemampuan menembus jalur sempit antarblok kebun da tanjjaka ektrim.

Dibandingkan kendaraan roda tiga atau pikap kecil, biaya perawatan Honda Revo lama  jauh lebih rendah.

Suku cadangnya mudah didapat dan teknisi lokal pun mahir memperbaikinya. Jika terjadi kerusakan di tengah kebun, pemilik bisa langsung membuka bagian mesin hanya dengan alat seadanya.

Kesederhanaan inilah yang menjadikan Revo lama tak tergantikan. Tak ada sistem elektronik yang rumit atau sensor digital yang mudah rusak karena lumpur dan air. Semuanya mekanis, praktis, dan bisa diandalkan di lingkungan ekstrem.

Faktor lain yang memperkuat popularitas Honda Revo lama di kalangan petani sawit adalah bobotnya yang ringan dan rangka yang cukup fleksibel untuk mudah ntuk  dimodifikasi.

Dengan berat kosong sekitar 98 kilogram, motor ini mudah dikendalikan bahkan saat melewati jalan menanjak atau turunan curam dengan muatan penuh.

BACA JUGA:Tanam Sawit di Pekarangan Rumah Bisa Picu Banjir dan Gangguan Kesehatan

Dalam beberapa kasus, Revo lama tahun 2007 bahkan digunakan untuk mengangkut bibit sawit dan pupuk dalam jumlah banyak, menjadikannya kendaraan multifungsi di luar tujuan awal pabrikan.

Hal ini  bisa dilihat di wilayah seperti Mukomuko, Bengkulu Utara dan Selatan seerta Bengkulu Tengah dan lunang Pesel. Tak jarang, bengkel-bengkel lokal tumbuh khusus untuk melayani kebutuhan modifikasi motor bebek menjadi kendaraan pengangkut sawit.

Variasi yang dibuat pun makin beragam, mulai dari bak samping, bak belakang seperti pikap mini, hingga sistem penyangga khusus untuk menjaga keseimbangan saat membawa buah segar yang beratnya bisa mencapai 50–150 kilogram.

 

Masyarakat di lapangan membuktikan bahwa teknologi tidak selalu harus canggih untuk menjadi solusi. Dalam konteks pertanian rakyat, nilai guna jauh lebih penting daripada sekadar fitur modern.

Di sinilah Honda Revo lama memainkan perannya dengan elegan mengisi celah kebutuhan masyarakat dengan bentuk yang sederhana, tetapi memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas petani.

Para akademisi dan pengamat sosial melihat fenomena ini sebagai bentuk kreativitas lokal yang layak diapresiasi. Dalam kajian Journal of Rural Development Studies (2021), disebutkan bahwa adaptasi alat transportasi seperti Honda Revo lama mencerminkan kecakapan komunitas dalam menghadapi keterbatasan infrastruktur dan dukungan logistik di daerah tertinggal.

Dengan mengandalkan kendaraan roda dua, petani mampu mengurangi biaya produksi, mempercepat waktu panen ke pengepul, serta meningkatkan daya tawar mereka di pasar.**

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan