"Biden vs Trump Lagi? Debat Presiden AS Jadi Magnet Pemilih Milenial" 

"Biden vs Trump Lagi? Debat Presiden AS Jadi Magnet Pemilih Milenial" --screenshot dari web.

-Radarmukomukobacakoran.com - Panggung politik Amerika kembali memanas. Setelah pemilu 2020 yang penuh drama, tahun 2025 menyuguhkan babak baru yang tak kalah menarik: Joe Biden dan Donald Trump kembali bertarung memperebutkan kursi presiden dalam pemilu 2024, dengan tensi yang terus bergulir memasuki pertengahan 2025. Namun yang membuat edisi kali ini berbeda bukan hanya wajah-wajah lama yang bersaing, tetapi bagaimana debat mereka berhasil me

mikat perhatian generasi yang dulu cenderung apatis: pemilih milenial dan Gen Z.

Debat pertama yang diselenggarakan pada Juni lalu mencatat rekor penonton tertinggi di platform streaming, bukan di televisi nasional. YouTube, TikTok, dan Twitch menjadi rumah bagi diskusi, meme, komentar reaktif, bahkan livestream debat dengan pemandu selebgram politik. Para pemilih muda, yang biasanya kurang tertarik pada politik formal, justru membanjiri forum daring, menjadikan debat sebagai perbincangan viral. Fenomena ini menunjukkan bahwa format dan saluran komunikasi politik kini tengah berubah secara radikal.

Joe Biden, petahana dari Partai Demokrat yang kini berusia 82 tahun, tampil berusaha meyakinkan publik bahwa stabilitas dan keberlanjutan agenda progresif masih berada dalam jangkauannya. Fokus utamanya dalam debat berkisar pada keberhasilan mengembalikan hubungan internasional pasca-Trump, penurunan angka pengangguran, serta dorongan transisi energi terbarukan yang mulai menampakkan hasil. Namun tantangan terbesarnya tetap soal usianya dan kekhawatiran publik akan stamina serta ketahanannya di masa jabatan kedua.

Sementara itu, Donald Trump, mantan presiden dari Partai Republik yang kini tampil lebih agresif namun terukur, datang dengan narasi restoratif: “membuat Amerika hebat kembali untuk yang terakhir kalinya.” Ia mengkritik keras kebijakan imigrasi Biden, mengklaim perekonomian mengalami stagnasi, dan menjanjikan pemangkasan pajak besar-besaran serta pendekatan lebih keras terhadap Tiongkok. Trump tampil seperti dirinya yang dulu, tapi kali ini dengan strategi komunikasi yang disesuaikan dengan algoritma TikTok dan tren daring.

Yang menarik, pemilih muda tidak lagi memandang debat sebagai sekadar ajang argumen formal antar kandidat. Bagi mereka, ini adalah konten—dan mereka aktif memilah, mengkritik, menyunting, dan membagikannya. Potongan klip Biden yang lupa menyelesaikan kalimat, atau ekspresi Trump saat disanggah moderator, langsung viral dalam hitungan menit. Humor dan kritik bersatu, menjadikan debat sebagai bahan diskusi politik yang lebih inklusif, santai, namun tetap berbobot.

Lembaga riset Pew Research Center menunjukkan bahwa lebih dari 63% pemilih usia 18–35 tahun menonton debat secara daring, dan 40% di antaranya mengaku debat tersebut mempengaruhi pandangan politik mereka. Ini angka yang mengejutkan, mengingat tingkat partisipasi pemuda dalam politik elektoral biasanya rendah. Kini, mereka tidak hanya jadi audiens pasif—mereka aktor aktif yang menentukan narasi kampanye melalui media sosial.

Dalam debat kedua yang dijadwalkan September nanti, KPU AS bahkan mempertimbangkan memasukkan moderator generasi muda dan menyelenggarakan sesi tanya jawab via platform X dan TikTok Live. Tujuannya jelas: menjangkau kelompok pemilih digital native yang selama ini berada di luar jangkauan politik konvensional. Baik Demokrat maupun Republik mulai sadar, kemenangan tahun ini ditentukan bukan di lapangan terbuka, tapi di layar ponsel.

BACA JUGA:BREAKING NEWS - Mobil Tangki Terbalik, Diduga Akibat Hindari Pengendara Tak Pakai Lampu

Selain itu, muncul pula isu-isu yang lebih dekat dengan kehidupan pemilih muda: keadilan iklim, akses pendidikan tinggi yang terjangkau, pinjaman mahasiswa, krisis perumahan, hingga kebebasan berekspresi di era digital. Biden menekankan program penghapusan utang mahasiswa dan insentif rumah pertama, sementara Trump menjanjikan pembukaan lapangan kerja dan pelonggaran regulasi ekonomi digital.

Namun, polarisasi tetap menjadi bayangan besar. Debat yang seharusnya mempertemukan gagasan sering kali berubah menjadi adu sindiran dan saling serang. Ini memberi tantangan baru: bagaimana generasi muda bisa memilah antara substansi dan sensasi? Di sinilah pentingnya literasi politik digital—dan kampanye di TikTok pun mulai diiringi oleh edukasi pemilu dari NGO dan kreator independen.

Yang tak kalah signifikan adalah munculnya tokoh-tokoh muda sebagai pengamat dan penggerak wacana. Nama-nama seperti Olivia Julianna, Maxwell Frost, hingga YouTuber Hasan Piker ikut mengulas debat secara langsung. Mereka menjadi jembatan antara generasi baru dan dunia politik lama yang tengah berjuang relevan.

Amerika Serikat sedang menyaksikan bukan sekadar kontestasi dua tokoh besar, tapi juga pergeseran paradigma bagaimana demokrasi dibicarakan, dipahami, dan dijalankan. Debat Biden dan Trump mungkin terasa seperti ulangan, namun cara publik menyikapinya kini sepenuhnya baru. Tidak lagi hanya soal siapa lebih kuat di panggung, tapi siapa yang paling mampu menggerakkan massa di era digital—khususnya generasi muda yang makin sadar, kritis, dan melek politik.

Dan pada akhirnya, apakah Amerika siap memilih berdasarkan meme, klip viral, atau substansi program? Itu akan terjawab di bulan November nanti. Tapi yang jelas, pemilih milenial kini bukan penonton—mereka adalah pemain utama.

Referensi:

    Pew Research Center. (2025). Millennial and Gen Z Political Engagement Report.

    CNN Politics. (2025). Biden and Trump Clash in First Presidential Debate.

    Politico. (2025). How TikTok Is Changing Presidential Campaigns.

    NPR. (2025). Youth Voters in 2024 Election: Record Turnout and Influence.

    The New York Times. (2025). The New Digital Debate Arena.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan