Rebutan Tapal Batas, Perang Thailand dan Kamboja Pecah
Rebutan Tapal Batas, Perang Thailand dan Kamboja Pecah.--Sceenshot
koranrm.id - Perang lintas batas antara militer Thailand dan Kamboja terus bergulir di sepanjang perbatasan kedua negara tersebut. Hingga Jumat (25/7) pagi, setidaknya sudah 14 orang tewas, yang sebagian besar adalah warga sipil Thailand. Kedua belah pihak saling menembakkan senjata ringan, artileri, dan roket. Bahkan, Thailand juga melancarkan serangan udara menggunakan enam jet tempur F-16 buatan Amerika Serikat (AS). Pertempuran terjadi setidaknya di enam wilayah pecah sejak Kamis,(24/7) tempo hari.
Menurut juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri. Perang ini terjadi sehari setelah ledakan ranjau darat di sepanjang perbatasan melukai lima tentara Thailand dan menyebabkan Bangkok menarik duta besarnya dari Kamboja serta mengusir utusan Kamboja untuk Thailand.
Pejabat tinggi Kamboja di provinsi Oddar Meanchey, Jenderal Khov Ly, mengatakan pertempuran kembali terjadi dini hari di dekat kuil kuno Ta Muen Thom. Jurnalis Associated Press yang ada di perbatasan melaporkan telah mendengar suara tembakan artileri sejak dini hari.
Pejabat itu juga mengatakan bahwa setidaknya ada empat warga sipil terluka dalam pertempuran hari Kamis tersebut. Dan lebih dari 4.000 orang telah mengungsi dari desa-desa mereka di sepanjang perbatasan ke pusat-pusat evakuasi. Ini adalah laporan pertama tentang korban jiwa dari pihak Kamboja.
Eskalasi ini merupakan contoh langka konflik militer antara negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), meskipun Thailand sebelumnya pernah berselisih dengan Kamboja di perbatasan dan telah terlibat dalam pertempuran sporadis dengan negara tetangga di barat, Myanmar.
"Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri semaksimal mungkin dan menyelesaikan masalah apa pun melalui dialog," kata wakil juru bicara PBB Farhan Haq.
Thailand dan Kamboja Saling Menyalahkan atas pertempuran tersebut, kedua negara menuduh bahwa warga sipil menjadi sasaran.
Di Bangkok, Kementerian Kesehatan Masyarakat mengatakan seorang tentara Thailand dan 13 warga sipil, termasuk anak-anak, tewas sementara 14 tentara dan 32 warga sipil lainnya terluka. Menteri Kesehatan Masyarakat, Somsak Thepsuthin mengutuk apa yang disebutnya sebagai serangan terhadap warga sipil dan sebuah rumah sakit sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional dan Konvensi Jenewa.
"Kami mendesak pemerintah Kamboja untuk segera menghentikan tindakan kejahatan perang ini, dan kembali menghormati prinsip-prinsip koeksistensi damai," ujarnya.
Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, mengatakan pertempuran tersebut mempengaruhi empat provinsi. Kementerian Dalam Negeri diperintahkan mengevakuasi penduduk setidaknya 50 kilometer (30 mil) dari perbatasan.
Di Kamboja, ratusan penduduk desa pindah dari rumah mereka di dekat perbatasan ke sekitar 30 kilometer (18 mil) lebih dalam di Provinsi Oddar Meanchey. Banyak warga yang melakukan perjalanan bersama seluruh keluarga dan sebagian besar harta benda mereka dengan traktor rakitan, sebelum menetap di tempat tidur gantung dan tempat penampungan sementara.
Dari perkemahan dekat kota Samrong, seorang ibu empat anak berusia 45 tahun, Tep Savouen, mengatakan semuanya bermula sekitar pukul 08.00 pagi. Tiba-tiba saya mendengar suara keras. Anak saya memberi tahu saya bahwa itu mungkin guntur dan saya berpikir, Apakah itu guntur atau keras, lebih seperti suara tembakan? Saat itu saya sangat takut.
Di Ibu Kota Kamboja, Phnom Penh, juru bicara Kementerian Pertahanan, Letnan Jenderal Maly Socheata, mengatakan negaranya mengerahkan pasukan bersenjata karena tidak punya pilihan selain mempertahankan wilayahnya dari ancaman Thailand.
Serangan Kamboja difokuskan pada lokasi militer, bukan pada lokasi lain. Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menulis surat kepada Dewan Keamanan PBB untuk meminta pertemuan darurat untuk menghentikan agresi Thailand. Dewan tersebut menjadwalkan pertemuan darurat tertutup pada pukul 15.00 di New York pada hari Jumat.
Thailand juga menutup semua perlintasan perbatasan darat sambil mendesak warganya untuk meninggalkan Kamboja. Para pejabat mengatakan ketujuh maskapai penerbangan Thailand menyatakan kesediaan membantu memulangkan warga negara Thailand yang ingin pulang dari Kamboja.
Ribut Masalah Perbatasan, kedua negara tetangga di Asia Tenggara ini telah lama berselisih mengenai perbatasan, yang secara berkala berkobar di sepanjang perbatasan mereka yang membentang sepanjang 800 kilometer (500 mil) dan biasanya berujung pada konfrontasi singkat, jarang sekali melibatkan penggunaan senjata. Pertempuran besar terakhir terkait masalah ini terjadi pada tahun 2011, yang menewaskan 20 orang.
Namun, hubungan memburuk tajam sejak konfrontasi pada bulan Mei menewaskan seorang tentara Kamboja. Bentrokan pada hari Kamis tersebut intensitasnya luar biasa besar. Bentrokan pertama pada Kamis pagi terjadi di dekat kuil Ta Muen Thom di sepanjang perbatasan Provinsi Surin, Thailand, dan Provinsi Oddar Meanchey, Kamboja.
Bentrokan ini mendorong penduduk desa untuk berlindung di bunker beton. Militer Thailand dan Kamboja masing-masing menyatakan bahwa pihak lawan sudah mengerahkan drone sebelum maju ke posisi lawan dan melepaskan tembakan.
Kedua belah pihak kemudian menggunakan persenjataan yang lebih berat seperti artileri, yang menyebabkan kerusakan dan korban yang lebih besar. Thailand menyatakan bahwa mereka merespons dengan serangan udara terhadap roket yang dipasang di truk yang diluncurkan oleh Kamboja. Artikel ini sudah terbit di Sindonews.com.