Suriname, Saudara Jauh Indonesia di Amerika Selatan

Suriname, Saudara Jauh Indonesia di Amerika Selatan.--Sceenshot

koranrm.id - Suriname merupakan salah satu negara terkecil di Amerika Selatan dengan luas 163.820 km2 atau sedikit lebih kecil dibandingkan Sulawesi. Meski terletak jauh di benua Amerika tepatnya di Amerika Selatan, Suriname memiliki kedekatan khusus dengan Indonesia. Dilansir dari channel youtube Doczon. ni

Demikian ini karena keduanya merupakan negara yang sama-sama pernah dijajah oleh Belanda. Di samping itu sebagian populasinya adalah etnis Jawa. Etnis Jawa yang tinggal di Suriname diperkirakan mencapai 75.000 jiwa dan menariknya penduduk yang berasal dari Jawa itu hingga kini masih menuturkan bahasa jawa untuk berkomunikasi, bahkan terdapat wilayah bernama Sidorejo di Suriname dan juga terdapat banyak warung Jawa yang menjual aneka makanan khas, seperti soto sapi, pecel hingga rempeyek. Banyaknya etnis Jawa di Suriname bermula ketika pemerintah Hindia Belanda menguasai Indonesia, mereka mengirimkan sekitar 32.965 tenaga kerja asal pulau Jawa ke Suriname yang saat itu juga dijajah oleh Belanda. Pengiriman tersebut berlangsung pada tahun 1890 hingga tahun 1939. Pengiriman tenaga kerja ke Suriname bertujuan untuk menambah kekurangan tenaga kerja pada beberapa perkebunan di Suriname yang saat itu sedang mengalami krisis.

Tenaga kerja mengurangi tenaga kerja di Suriname disebabkan dihapus dan dibebaskannya sistem perbudakan pada tanggal 1 Juli tahun 1863. Sehingga ekonomi Suriname yang semula sangat bergantung pada hasil pertanian yang digarap oleh para budak mengalami penurunan secara drastis. Selain karena kurangnya tenaga kerja di siriname alasan pengiriman tenaga lerja Indonesia juga didasarkan pada faktor rendahnya perekonomian di Pulau Jawa.

BACA JUGA:Ini Sasaran Utama Tim Monev Kecamatan Sungai Rumbai

Itulah sebabnya kebanyakan tenaga kerja yang dikirim ke Suriname berasal dari Jawa yang sebagian besarnya berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan sedikit dari Jawa Barat. Pengiriman tenaga kerja ke Suriname berlangsung dalam beberapa gelombang pengiriman. 

Gelombang pertama diberangkatkan dari Batavia atau Jakarta pada tanggal 21 mei tahun 1890. Tenaga kerja gelombang pertama itu berjumlah 94 orang yang terdiri dari 61 orang pria, 31 orang wanita dan dua orang anak dan sampai di Suriname pada tanggal 9 Agustus tahun 1890.

Kemudian tenaga kerja gelombang kedua sebanyak 582 orang diberangkatkan dan tiba di Suriname pada tanggal 16 juni tahun 1894 pengiriman tenaga kerja ini terus berjalan sepanjang tahun. Sampai dengan pengiriman yang terakhir sebanyak 990 orang yang tiba di Suriname pada tanggal 13 Desember tahun 1939.

Sebelum menjadi Suriname negara ini dikenal dengan nama guyana Belanda. Tetapi setelah memperoleh kemerdekaannya pada 25 November tahun 1975 namanya berubah menjadi Suriname dan sebanyak sepertiga dari populasinya dilaporkan bermigrasi ke Belanda. Meski dinobatkan sebagai negara terkecil di Amerika Selatan, Suriname dihuni oleh etnis yang beragam populasi. Suriname terdiri dari beberapa kelompok minoritas berdasarkan sensus tahun 1990 sekitar 143.640 orang atau sekitar 34% adalah keturunan Hindustani, 132.300 orang atau sekitar 31% adalah kreol 95.740 orang atau sekitar 22% adalah orang Jawa. Kemudian 35.700 orang atau sekitar 8,5% merupakan keturunan bus negro dan 7560 orang atau sekitar 1,8% adalah amerindian. Kemudian sisanya yaitu 540 orang atau sekitar 1,2% merupakan keturunan Tionghoa, Portugis, Belanda dan Inggris.

BACA JUGA:Vietnam Incar Indonesia Ekspor Beras

Kemudian Yahudi berhasil dan Lebanon Karena itu negara ini memadukan antara budaya Amerika, Asia, Eropa dan Afrika. Keragaman etnis yang besar di Suriname berkontribusi terhadap kekayaan budaya yang mencakup berbagai perayaan dan festival sepanjang tahun. Orang Suriname merayakan hari holi, Hari Natal, hari kedatangan Jawa, hari kedatangan India hari marun. Diwali Idul Fitri, Jumat Agung dan banyak Lagi festival dan upacara sekuler dan keagamaan.

Sensus tahun 2012 menunjukkan bahwa Suriname memiliki populasi 541.638 individu, karena itu Sudi nama menjadi negara terkecil di Amerika Selatan baik dari segi luas maupun populasinya dan hampir setengah dari total penduduknya tinggal di paramaribo yang merupakan ibu kota Suriname. Dan uniknya di seluruh Suriname hanya terdapat satu bioskop yang terletak di ibu kota paramaribo. Bahasa resmi Suriname adalah bahasa Belanda yang merupakan warisan dari pemerintahan kolonial Belanda.

Di negara tersebut lebih dari 60% orang Suriname berbicara bahasa Belanda, sebagai bahasa Ibu, mereka sementara penduduk lainnya berbicara bahasa Belanda. Sebagai bahasa kedua Suriname adalah satu-satunya negara di luar Eropa yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa resmi. Meski demikian sebagian populasi Suriname mempelajari bahasa Belanda. Sebagai bahasa Kedua mereka bahasa lain yang juga dituturkan di Suriname adalah sarana tongo, yaitu bahasa Inggris dengan campuran Belanda. Kemudian bahasa Inggris, Jawa dan Sarnami. 

BACA JUGA:Vietnam Incar Indonesia Ekspor Beras

Suriname adalah contoh negara yang berhasil melestarikan alam dengan sangat baik. Sebagian besar tanah negara ini ditutupi oleh hutan hujan tropis yang masih asli yang menampung keanekaragaman flora dan fauna. 

Sebagian besar kawasan hutan ini dilindungi dalam bentuk taman alam, cagar alam dan lain-lain. 

Negara tropis yang sedikit lebih kecil dari pulau Sulawesi ini kaya akan sumber daya alam, perekonomian Suriname bergantung pada sumber daya mineral, terutama minyak emas dan bijih aluminium. Selain dari sumber daya alam, sumber pendapatan utamanya adalah pertanian. Karena lebih dari separuh lahan pertanian di Suriname ditanami dengan padi yang merupakan makanan pokok bagi warganya. Bahkan sebagian beras asal Suriname diekspor ke negara tetangga dan selain beras barang ekspor penting lain yang diproduksi oleh Suriname adalah pisang, kelapa dan juga minyak sawit.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan