“Kulit Jengkol Kering: Obat Herbal Tak Terduga untuk Masalah Asam Urat”
“Kulit Jengkol Kering: Obat Herbal Tak Terduga untuk Masalah Asam Urat” --screenshot dari web.
-Radarmukomukobacakoran.com - Di balik reputasinya yang sering dipandang sebelah mata karena bau menyengat, jengkol ternyata menyimpan potensi pengobatan yang belum banyak diketahui masyarakat luas. Bukan bijinya, melainkan kulit luarnya—kulit jengkol yang telah dikeringkan—kini mulai mencuri perhatian kalangan herbalis dan peneliti tanaman obat. Di tengah tren pengobatan alami yang terus berkembang, kulit jengkol kering muncul sebagai alternatif terapi tradisional untuk mengatasi asam urat yang selama ini menjadi keluhan umum di kalangan usia dewasa dan lanjut usia.
Dalam pengobatan tradisional nusantara, jengkol memang telah lama dikenal sebagai tanaman yang dapat memengaruhi kesehatan ginjal dan metabolisme. Namun, baru belakangan ini bagian kulitnya dikaji secara lebih serius. Penelitian awal menunjukkan bahwa kulit jengkol mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, tanin, dan alkaloid yang memiliki efek antiinflamasi, diuretik, dan antihiperurisemia—yakni kemampuan menurunkan kadar asam urat dalam darah. Senyawa-senyawa ini bekerja secara sinergis untuk meningkatkan pembuangan asam urat melalui urin dan mengurangi peradangan pada sendi.
Asam urat sendiri adalah kondisi di mana kadar asam urat dalam darah meningkat dan membentuk kristal yang mengendap di sendi, menyebabkan nyeri, bengkak, dan peradangan. Umumnya, penderita mengandalkan obat kimia seperti allopurinol untuk mengontrolnya. Namun, penggunaan jangka panjang obat sintetis kerap menimbulkan efek samping seperti gangguan hati atau ginjal. Di sinilah kulit jengkol kering hadir sebagai opsi yang lebih alami, ringan, dan bersifat preventif bagi mereka yang mencari solusi herbal yang aman.
Tradisi masyarakat Betawi dan Sunda misalnya, telah menggunakan rebusan kulit jengkol sebagai ramuan alami untuk mengobati pegal linu, encok, dan gejala mirip asam urat. Rebusan ini biasanya dikonsumsi hangat dua kali sehari selama beberapa hari berturut-turut. Meski belum menjadi bagian dari pengobatan medis arus utama, praktik ini bertahan karena dirasakan manfaatnya secara empiris oleh banyak orang.
Dari sisi ilmiah, beberapa laboratorium penelitian di Indonesia sudah mulai mengeksplorasi lebih jauh manfaat kulit jengkol. Penelitian yang dilakukan oleh universitas negeri di Jawa Tengah menunjukkan bahwa ekstrak etanol dari kulit jengkol kering mampu menurunkan kadar asam urat secara signifikan pada hewan uji yang diinduksi hiperurisemia. Mekanisme kerjanya diketahui berkaitan dengan peningkatan ekskresi asam urat melalui ginjal dan penurunan aktivitas enzim xantin oksidase, enzim kunci dalam pembentukan asam urat dari purin.
BACA JUGA:Ramuan Herbal Penghilang Nyeri Sendi dan Pegal Linu
Proses pengolahan kulit jengkol menjadi ramuan herbal terbilang sederhana. Setelah biji jengkol diambil, kulit luarnya dijemur hingga benar-benar kering, kemudian disimpan dalam wadah tertutup. Saat hendak digunakan, kulit ini direbus dalam air mendidih selama 15–20 menit hingga air berubah warna menjadi cokelat kemerahan. Rebusan ini dapat diminum secara rutin dengan takaran dan waktu yang tepat sesuai kondisi tubuh. Dalam penggunaannya, konsumen dianjurkan untuk tetap memperhatikan asupan makanan tinggi purin dan menjaga hidrasi tubuh sebagai bagian dari manajemen asam urat secara menyeluruh.
Minat terhadap pengobatan herbal dengan kulit jengkol kering juga meningkat seiring dengan gaya hidup back to nature yang melanda masyarakat urban. Banyak individu yang mulai menjauhi obat kimia karena khawatir efek jangka panjangnya, dan mulai melirik pengobatan tradisional yang lebih bersifat holistik. Di pasar-pasar herbal, terutama di daerah Jawa Barat dan Sumatra, kulit jengkol kering kini dijual dalam kemasan siap seduh dengan label “ramuan penurun asam urat alami”. Meskipun belum semua produk memiliki izin resmi atau standar mutu yang ketat, tren ini menunjukkan adanya permintaan pasar yang nyata.
Namun, pemanfaatan kulit jengkol sebagai obat tetap membutuhkan pengawasan dan riset lebih lanjut. Belum ada standar dosis resmi yang ditetapkan secara nasional, dan data klinis pada manusia masih terbatas. Oleh karena itu, pengembangan obat berbasis kulit jengkol harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah yang komprehensif, termasuk uji toksisitas, efikasi, serta kemungkinan interaksi dengan obat lain. Sinergi antara peneliti, industri jamu, dan regulator sangat diperlukan agar potensi ini dapat dikembangkan menjadi produk kesehatan yang aman dan terpercaya.
Potensi ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani dan pelaku usaha kecil. Limbah kulit jengkol yang selama ini dibuang bisa diolah menjadi bahan baku bernilai ekonomis tinggi. Dengan pengolahan sederhana dan permintaan yang meningkat, usaha pengeringan dan pengemasan kulit jengkol dapat menjadi alternatif penghasilan tambahan di daerah-daerah penghasil jengkol. Pemerintah daerah dapat turut mendorong pengembangan UMKM berbasis herbal dengan memberikan pelatihan, pembiayaan mikro, dan akses ke pasar daring.
Perlu diingat bahwa konsumsi herbal bukanlah pengganti mutlak pengobatan medis, tetapi dapat menjadi pelengkap jika dikonsumsi secara bijak. Dengan pemahaman yang tepat dan pengawasan profesional, kulit jengkol kering dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan asam urat secara komprehensif. Di masa depan, bukan tidak mungkin kita akan melihat kapsul ekstrak kulit jengkol sebagai suplemen yang dijual bebas di apotek atau masuk dalam daftar tanaman obat terstandar nasional.
Transformasi kulit jengkol dari limbah menjadi sumber pengobatan adalah contoh nyata bagaimana warisan lokal dan pengetahuan tradisional dapat bersinergi dengan sains modern untuk menjawab tantangan kesehatan masa kini. Di saat dunia medis mencari pendekatan yang lebih alami dan ramah organ tubuh, Indonesia punya potensi besar dalam bahan baku lokal yang belum tergali secara optimal. Kulit jengkol hanyalah salah satu dari sekian banyak harta karun fitofarmaka yang tersimpan di dapur-dapur rakyat.
Referensi:
Prasetyo, A., & Kusnandar, A. (2022). Potensi Kulit Jengkol sebagai Antihiperurisemia pada Mencit Putih Jantan. Jurnal Fitofarmaka Indonesia, 9(1), 23–29.
Suhendar, H., & Mardiani, R. (2021). Aktivitas Ekstrak Kulit Jengkol terhadap Penurunan Asam Urat Serum. Jurnal Biomedis Nusantara, 8(2), 56–62.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya: Seri Tanaman Herbal Indonesia. Jakarta: Balitbangkes.
Nugroho, F. (2023). Flavonoid Sebagai Agen Antiinflamasi dan Antihiperurisemia: Review Literatur. Jurnal Penelitian Farmasi dan Herbal, 7(3), 101–109.