Media Sosial Menggeser Televisi: 54% Orang AS Kini Dapat Berita Lewat Sosmed

Media Sosial Menggeser Televisi: 54% Orang AS Kini Dapat Berita Lewat Sosmed--screenshot dari web.

KORANRM.ID - Suasana di ruang tamu Amerika Serikat tampak berubah drastis. Dulu, sebuah keluarga berkumpul di sekitar televisi untuk mencari kabar dunia; kali ini, mereka lebih memilih jari–jari yang menggulir layar ponsel, menyapu jejeran foto, teks, dan video berdurasi singkat. Sebuah studi terbaru dari Reuters Institute menunjukkan bahwa 54% orang Amerika kini mendapatkan berita melalui media sosial, menggeser dominasi televisi yang berada di angka 50%

aljazeera.com+3theguardian.com+3reutersinstitute.politics.ox.ac.uk+3

. Fenomena ini bukan sekadar angka—ia menjadi cermin bagaimana lanskap informasi kini berubah dalam hitungan detik, menjangkau setiap lapisan masyarakat melalui teknologi yang dapat digenggam.

Perpindahan ini bukan tiba-tiba. Sepanjang beberapa tahun terakhir, platform seperti Facebook, YouTube, Instagram, dan terutama TikTok, tumbuh pesat sebagai sumber utama untuk berita cepat dan kontekstual . Kalangan muda—usia 18–24—menjadi ujung tombak perubahan. Lebih dari separuh mereka kini menjadikan media sosial sebagai sumber berita primer aljazeera.com

. TikTok bahkan berhasil memperluas perannya bukan sekadar sebagai sumber hiburan semata, melainkan portal informasi yang disajikan melalui perspektif influencer dan kreator konten .

Di balik statistik tersebut terdapat operasi raksasa algoritma. Platform membantu menyaring berita sesuai minat pengguna, menciptakan ruang personal yang terasa akrab dan relevan. Namun, paket kenyamanan ini tak lepas dari efek samping: misinformasi, echo chamber, dan distraksi informasi yang fragmentaris . Kini, hingga 73% warga AS mengaku sulit membedakan mana informasi asli atau palsu

BACA JUGA:Metaverse 2.0 & Realitas VR di Media Sosial: Era Interaksi Imersif

aljazeera.com+11theguardian.com+11reuters.com+11.

Tokoh seperti Joe Rogan dan Tucker Carlson mengambil bagian penting dalam perubahan ini. Mereka bukan wajah televisi klasik, tetapi selebriti digital yang membentuk opini publik lewat konten podcast dan klip pendek

reuters.com+1aljazeera.com+1

. Konten mereka menyentuh segmen milenial dan Gen Z dengan cara yang berbeda: tidak formal, langsung, dan penuh narasi pribadi. Namun hal ini sekaligus memunculkan kekhawatiran: ketika opini personal disamaratakan sebagai fakta, kapasitas kritis audiens diuji secara berat.

Pergeseran ke platform digital juga dipicu oleh keberadaan AI. Tren penggunaan chatbot seperti ChatGPT dan Gemini meningkat, terutama di kalangan muda, sebagai alternatif akses cepat terhadap informasi

theguardian.com

. Sekilas menjanjikan—informasi instan tanpa harus scroll panjang—namun berpotensi menggoyahkan para penerbit tradisional. Jika berita dirangkum AI, branded content diminati via mesin, lalu siapa yang membaca laporan lengkap dan mendalam?

Para ahli menyebut perubahan ini sebagai “disruption yang tak bisa dibendung.” Nic Newman dari Reuters Institute mencatat bahwa media tradisional kini berhadapan dengan tantangan: keterhubungan baru via video cepat dan influencer telah membuat jalur berita resmi tertutup dari audiens muda

theguardian.com+1reuters.com+1

. Alih-alih menyajikan laporan panjang, banyak orang kini puas dengan narasi singkat yang mengandung opini dan sensasi emosional.

Ketergantungan pada media sosial juga memicu fenomena "news avoidance"—ketika audiens menghindar dari bleketan berita karena terlampau banyak kabar negatif. Temuan Reuters menunjukkan 40% orang di berbagai negara melaporkan melakukan hal yang sama . Ini menandakan krisis emosional yang tidak hanya berakar pada pesan pemberitaan, tetapi cara penyampaiannya: cepat, intens, namun tidak berarti.

Meski demikian, tidak semua kabar negatif. Banyak jurnalis dan platform tradisional berevolusi—mengintegrasikan media sosial ke strategi distribusi mereka. Mereka mendorong verifikasi keamanan (@checkthisfan), memvisualkan informasi melalui infografis, dan menggunakan feed singkat untuk menjangkau pengguna muda. Wil Wheaton, seorang editor digital, mengatakan bahwa televisi dan surat kabar kini menjadi katalis yang mengarahkan orang ke konten jangka panjang. Fungsinya bukan hilang, melainkan berubah.

Perang informasi—antara berita resmi dan opini influencer—boleh terjadi, namun audiens tetap mencari kejelasan. Tugas kini beralih pada pembuat konten dan platform media: siapa yang bisa menyeimbangkan antara kecepatan, kedekatan, dan akurasi. Mereka harus menciptakan usaha digital yang menyediakan kedalaman dan konteks tanpa kehilangan perhatian generasi digital.

Ada satu hal yang tak terbantahkan: televisi tidak punah pada satu malam akibat pergeseran ke media sosial. Masyarakat Amerika masih menggunakan TV—khususnya yang berusia tua—untuk liputan live dan dokumenter panjang . Namun integrasi dengan streaming, platform OTT, dan interaktivitas digital adalah fakta baru.

Di era ini, platform berita dan penyedia informasi harus menjawab panggilan perubahan: bagaimana menyajikan berita yang cepat tapi tetap bermakna, mengandung fakta, dan tahan diuji di tengah jutaan posts harian. Pengembangan AI, kebijakan verifikasi fakta, serta pendidikan literasi digital menjadi bagian dari solusi. Tanpa itu, pergeseran ke media sosial dapat membekas sebagai ironi: informasi ada di mana-mana, namun kebenaran semakin sulit digenggam.

Social media kini bukan sekadar medium baru; ia telah menjadi ruang utama dalam kehidupan informasi. Di situ, berita bersinggungan langsung dengan budaya, opini, dan gaya hidup. Transformasi ini bukan sekadar pergantian platform, tetapi revolusi cara kita berpikir, meresapi, dan menanggapi dunia. Dalam menghadapi risiko misinformasi dan fragmentasi, masyarakat, media, dan penyelenggara platform harus bersinergi agar ekosistem berita tidak tercerai berai.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan