Sawit dan Perubahan Iklim: Bagaimana Perkebunan Bisa Jadi Solusi, Bukan Ancaman

Sawit dan Perubahan Iklim: Bagaimana Perkebunan Bisa Jadi Solusi, Bukan Ancaman--screenshot dari web.

 

KORANRM.ID - Selama ini, kelapa sawit kerap dikaitkan dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Tuduhan bahwa ekspansi perkebunan sawit menyebabkan deforestasi, degradasi lahan, dan emisi karbon tinggi telah menjadi tantangan serius bagi citra komoditas andalan Indonesia ini. Namun, narasi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan. Dalam praktik yang berkelanjutan dan tata kelola yang bijak, perkebunan sawit justru berpotensi menjadi bagian dari solusi perubahan iklim, bukan semata-mata sumber masalah.

BACA JUGA:Lebih dari Sekadar Minyak, Melihat Ragam Produk Turunan Kelapa Sawit

Sawit memiliki karakteristik biologis yang menjadikannya tanaman dengan efisiensi karbon yang tinggi. Tanaman ini mampu menyerap karbon dalam jumlah besar melalui fotosintesis dan menyimpannya dalam bentuk biomassa serta di dalam tanah. Menurut studi yang dilakukan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), sawit memiliki produktivitas minyak tertinggi per hektare dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak lainnya, sehingga membutuhkan lahan lebih sedikit untuk hasil yang sama. Ini artinya, bila dikelola dengan benar, sawit dapat mengurangi tekanan terhadap pembukaan lahan baru.

Selain itu, perkebunan sawit yang telah mapan, terutama yang ditanami ulang dengan sistem agroforestri atau interkoneksi lanskap hijau, dapat berperan sebagai penyeimbang ekologis. Beberapa model integrasi seperti tumpangsari sawit dengan tanaman penutup tanah (cover crop), penggunaan sistem pengelolaan air terpadu, dan pelestarian area bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value – HCV) menunjukkan hasil positif terhadap peningkatan keanekaragaman hayati dan penyerapan karbon tanah.

BACA JUGA:Minyak Sawit dalam Produk Harian Apa Saja yang Kita Gunakan Tanpa Sadar

Transformasi pengelolaan perkebunan sawit menuju sistem rendah emisi juga telah dimulai. Inisiatif seperti penerapan praktik tanpa pembakaran saat land clearing, penggunaan pupuk organik dan biochar, serta pengelolaan limbah cair (POME) menjadi energi biogas turut menekan emisi gas rumah kaca. Bahkan, melalui program REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation), beberapa perusahaan sawit di Indonesia mulai mengintegrasikan pendekatan konservasi dalam manajemen perkebunan mereka.

BACA JUGA:Tantangan dan Peluang Industri Sawit di Era Globalisasi

Pemerintah Indonesia juga telah menyelaraskan kebijakan sawit dengan agenda perubahan iklim nasional. Dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) tahun 2022, sektor kehutanan dan lahan, termasuk sawit, diposisikan sebagai kunci dalam pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca. Sertifikasi ISPO yang kini diwajibkan bagi semua pelaku industri sawit juga menjadi instrumen penting untuk memastikan praktik produksi yang ramah iklim.

Namun, agar sawit benar-benar menjadi solusi iklim, diperlukan sinergi lintas sektor. Petani, perusahaan, pemerintah, dan masyarakat sipil perlu bahu-membahu dalam memperkuat tata kelola perkebunan yang transparan, berkeadilan, dan berbasis lanskap. Investasi dalam riset dan teknologi juga dibutuhkan, misalnya pengembangan varietas sawit rendah emisi, pemantauan karbon digital berbasis drone, dan penguatan sistem pelaporan lingkungan berbasis data terbuka.

Perubahan iklim adalah tantangan kolektif umat manusia. Industri sawit Indonesia, dengan segala potensinya, bisa menjadi bagian dari jawaban — bukan dengan menghindari kritik, melainkan dengan membuktikan melalui praktik bahwa pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan bisa berjalan beriringan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan