Indonesia Genjot Hilirisasi Kelapa
Indonesia Genjot Hilirisasi Kelapa--screnshoot dari web
KORANRM.ID - Pemerintah negara Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Koalisi Pemerintah Kabupaten Penghasil Kelapa sepakat untuk mempercepat hilirisasi dan industri kelapa dalam negeri. Percepatan hilirisasi ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk kelapa yang ditargetkan kedepan bisa menjadi komoditas handal Indonesia. Tidak hanya itu, hilirisasi ini dikebut bertujuan untuk menumbuhkan produk ekspor Indonesia. Mengingat saat ini kebutuhan kelapa secara global juga terus meningkat. Sehingga membuat harga kelapa otomatis naik signifikan. Oleh karena itu pemerintah Indonesia melalui Kementan berupaya melakukan percepatan hilirisasi kelapa dalam negeri.
BACA JUGA:Pruning Salah Satu Langkah Penting Merawat Sawit, Ini 4 Manfaat Pruning Pada Tanaman Sawit
BACA JUGA:Revolusi Sawit Berkelanjutan, Menuju Produksi yang Ramah Lingkungan
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan, kesepakatan itu tercapai dalam rapat antara Kementan dan Kopek. Kelapa RI sendiri diminati China dan Malaysia. Langkah ini sejalan juga dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas (ratas) pada Jumat (23/5/25) di Istana Merdeka beberapa hari lalu. Dalam Ratas tersebut, Prabowo membahas percepatan proyek hilirisasi nasional dan tindak lanjut proyek prioritas, termasuk sektor pertanian. "Kelapa Indonesia sekarang ini lagi diminati dunia, di mana China itu mengimpor dan beberapa negara lainnya termasuk Malaysia mengimpor kelapa dari Indonesia. Atas perintah Bapak Presiden, kami akan membangun industri hilirisasi, insyaallah mulai tahun ini," ujar Amran dalam keterangan tertulisnya, Minggu (25/5/25) dikutip dteikfinance.
BACA JUGA:Termasuk Megawati, 3 Pemain Ini Batal Tampil di AVC Women's Nations Cup 2025
Lanjutnya, permintaan kelapa global yang saat ini terus meningkat turut mendorong kenaikan harga kelapa secara signifikan. Dia memastikan, pemerintah akan terus mengakselerasi pembangunan industri kelapa dari hulu hingga hilir terutama di sentra-sentra penghasil. Ia juga meminta daerah penghasil kelapa lebih aktif dan mendorong program hilirisasi dan investasi di industri pengolahan kelapa. "Harga kelapa naik tinggi dari Rp1.300 menjadi Rp4.000, Rp5.000, bahkan Rp7.000 per kilo. Jadi sekarang, selamat bagi petani kelapa Indonesia. Momentum ini tidak boleh kita lewatkan. Petani harus sejahtera, dan nilai tambah harus tinggal di daerah," tegasnya.
BACA JUGA:Pekerjaan Selesai, Bangunan DD Tahap I Talang Sepakat Diserahterimakan
Ditambahkan, sistem tumpang sari di kawasan kelapa. Ia meminta agar di lahan kelapa juga ditanami padi, jagung, cacao dan komoditas pangan lainnya yang cocok secara agroklimat. Langkah ini diyakini meningkatkan pendapatan petani serta mendukung ketahanan pangan nasional. Sejauh ini terdapat 10 kabupaten atau kota sentra kelapa di Indonesia yakni Kabupaten Indragiri Hilir (Riau), Tanjung Jabung Timur (Jambi), Banggai (Sulawesi Tengah), Tanjung Jabung Barat (Jambi), Sumenep (Jawa Timur), Halmahera Utara ( Maluku Utara), Banyuasin (Sumatera Selatan), Minahasa Selatan (Sulawesi Utara), Pandeglang (Banten), Padang Pariaman ( Sumatera Barat). "Kita harus maksimalkan lahan. Di bawah kelapa bisa ditanam padi, bisa juga jagung. Jadi petani panen kelapa, panen juga jagung dan padi. Ini cara percepat swasembada dan naikkan pendapatan petani," pungkasnya.