BULAN RAMADAN ADALAH BULAN KARANTINA
Puasa Anti-Haus Seharian, Rahasia Sehat dan Bugar di Bulan Ramadan--screnshoot dari web
Oleh: WANDRI, S.Sos.I
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Sungai Rumbai
Bulan Ramadan, merupakan bulan karantina, adapaun yang dikarantina adalah Nafsu dan perbaikan Moral Manusia, Pejalan umat Islam dalam melewati bulan Ramadan tentu banyak pelajaran penting di dalamnya. Karena selama sebulan penuh umat Islam melatih diri agar menjadi insan yang bertaqwa. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَععَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “ Hai orang-oarang yang beriman diwajibakan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (Q.S Al-baqarah : 183).
Ayat ini dapat dipahami bahwa berpuasa adalah salah satu bentuk ibadah yang dilakukan oleh umat terdahulu sebagai jalan menuju takwa. Kata KUTIBA menurut sebagaian ulama tafsir dapat diartikan sebagai syariat bagi umat terdahulu. Sebab ibadah puasa merupakan ibadah yang dilakukan umat terdahulu, ada yang puasa sehari semalam, berpuasa tidak boleh makan makanan yang bernyawa, berpuasa dua hari berturut-turut dan lain sebaginya. Kemudian ketika Islam datang dan ayat perintah puasa Ramadan turun, maka puasa yang diperintahkan berbeda dengan puasa umat terdahulu. Islam mewajibkan puasa dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan menahan semua perkara yang dapat membatalkan nilai puasa. Dalam tingkatan tertentu, puasa adalah usaha untuk menjauhi perkara yang dapat mengotori hati. Misalnya, mereka yang kerap melakukan kemungkaran, caci maki, mencuri, menggunjing, seketika menghentikan caciannya, kebohongannya, penggunjingannya, bahkan mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik, sehingga tergolong hamba yang bertakwa.
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Artinya : “ betapa banyak orang yang berpuasa akan tetapi tidak mendapakan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus. (HR. An-Nas’I dan Ibnu Majjah).
Oleh karena itu, dalam rangka menuju insan yang bertakwa, salah satu doa yang sering dibaca selama Ramadan adalah :
Allahumma Innaka ‘afwwun kariim tuhibbul ‘afwa faa’fu ‘anni
Artinya : “ Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha Pemaaf lagi Mulia, Engkau menyukai sifat maaf. Maka maafkan aku.”
Kata Afuwwun termasuk salah satu Asmaul Husna yang diartikan Allah Maha Pemaaf kepada hambaNya yang bertaubat, Allah maha menyembunyikan aib, dan Allah Maha menghapus kesalahan hambaNya. Di sisi lain, dalam konteks seorang hamba, kata Afuwwun merupakan hal penting untuk mengimplementasikan ketakwaan kepada Allah SWT (hablun minallah), sebab harus betul-betul meninggalkan perbuatan yang dilarang oleh Allah, harus bertaubat agar diampuni oleh Allah. Sedangkan Al-Afwu dalam syarah hadits dijelaskan, Allah menyukai nama-nama dan sifat-sifatnya, juga menyukai hambaNya yang suka memaafkan kesalahan orang lain.
Dengan demikian, bulan Ramadan memberikan dua pesan penting bagi orang yang berpuasa yaitu perbaikan moral seorang hamba kepada Allah (hambun minallah) dan perbaikan moral seorang hamba kepada sesamanya (hablun minannas). Seorang hamba yang memiliki kesalah dan berdosa kepada Allah akan mudah diampuni melaui Istighfar dan taubatan Nasuha. Lain halnya dengan hamba yang memiliki kesalahan kepada sesamanya, ia harus meminta maaf terlebih dahulu kepada orang yang dianiaya, sebab meminta maaf atau memaafkan itu membutuhkan kelapang dada. Mengapa demikian ? karena kesalahan yang menyesakkan dada dan memberikan goresan dihati berat untuk dimaafkan. Dari sinilah peran penting berpuasa. Disaat hati tidak menerima akan perlakuan orang yang menzalimi, kita berusaha untuk berdamai dengan diri kita sendiri, mengedepkan kelembutan, perbaikan dengan kebaikan. Bukan keburukan dengan keburukan. Makian dengan cemoohan.
Firman Allah :
اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ
Artinya :” Sesunguhnya kebaikan akan menghapus keburukan.” (QS. HUd : 114)