Jika Pimpinan Tertinggi Iran Diserang Hizbullah Ancam akan Ikut Berperang

Jika Pimpinan Tertinggi Iran Diserang Hizbullah Ancam akan Ikut Berperang.-Dedi Sumanto-Sceenshot

koranrm.id - Seorang pejabat Hizbullah memperingatkan kelompok tersebut dapat melakukan intervensi militer jika Amerika Serikat menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia mengindikasikan serangan terbatas Amerika Serikat (AS) terhadap Iran tidak akan secara otomatis memicu keterlibatan Hizbullah. Berbicara kepada AFP pada hari Rabu lalu, dengan syarat anonim, pejabat tersebut mengatakan Hizbullah tidak bermaksud terlibat dalam konflik jika aksi militer AS terhadap Iran tetap terbatas cakupannya. Namun, jika serangan Amerika terhadap Iran terbatas, Hizbullah tidak melakukan intervensi militer apapun. Namun, ia mengatakan, situasinya akan berubah jika Washington berupaya menggulingkan rezim Iran atau secara langsung menargetkan Khamenei.

Langkah tersebut sebagai garis merah bagi kelompok Lebanon tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, juga mengatakan Teheran tetap berkomitmen kuat mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat secepat mungkin selama putaran negosiasi saat ini. Menurut kantor berita Iran, Mehr News Agency yang dikutip Sindownews, Araqchi dan delegasinya berangkat dari Teheran pada hari Rabu yang lalu menuju Jenewa untuk berpartisipasi langusng dalam putaran ketiga pembicaraan nuklir Iran-Amerika yang dijadwal pada hari Kamis kemarin.

Di sisi lain, Washington tampaknya terus menggertak Iran dengan kekuatan militer besar-besaran agar menuruti tuntutan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dalam perundingan terkait program nuklir Teheran. Kali ini, kapal induk terbesar di dunia milik Amerika, USS Gerald R. Ford, bergerak ke Israel. Kapal tersebut berangkat dari Kreta pada hari Kamis lalu, dan diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan kekuatan tempur AS di wilayah Timur Tengah jika Trump akhirnya memutuskan untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Sayap udara kapal induk tersebut mencakup 75 jet tempur, termasuk pesawat F-35C, F-16, dan F/A-18. Kapal ini mampu meluncurkan hingga 150 sorti tempur per hari, dibandingkan dengan sekitar 120 sorti pada kapal induk yang lebih tua seperti USS Abraham Lincoln, yang sudah beroperasi di Teluk Oman dengan kelompok serang yang mencakup tiga kapal perusak rudal, sebuah kapal selam, dan kapal tambahan lainnya.

Sebaliknya, kelompok serang Gerald R. Ford mencakup enam kapal perusak rudal. Dinamai sesuai nama presiden ke-38 AS, kapal induk ini memiliki bobot sekitar 100.000 ton dan berukuran panjang 337 meter (1.106 kaki) dan lebar 78 meter (256 kaki) di dek penerbangan. Kapal ini dapat berlayar dengan kecepatan hingga 56 km/jam (35 mph). Kapal ini diperintahkan menuju Timur Tengah dari Karibia sekitar dua minggu yang lalu, di mana pesawat-pesawatnya telah berpartisipasi dalam operasi untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Ribuan pelaut bertugas di atas kapal induk ini. Sistem pertahanannya meliputi peluncur rudal anti-pesawat, sistem Rudal Rangka Pesawat Berputar (Rolling Airframe Missile), susunan radar, dan sistem senjata jarak dekat seperti Phalanx, meriam 25 mm, dan empat senapan mesin berat M2 Browning.

Selain kemampuan militernya, kapal induk ini juga dilengkapi dengan rumah sakit lengkap, empat gimnasium, lift yang menghubungkan ke dek-deknya, sebuah kapel, sebuah toko, sebuah supermarket, dan sebuah kafetaria yang menyajikan empat kali makan sehari, beserta bar jus dan salad. Kapal ini juga dilengkapi dengan lounge yang menyediakan Wi-Fi di seluruh kapal, meja biliar, konsol game, dan layar televisi besar menayangkan berbagai saluran TV dan film Hollywood saat berada di laut. Pengerahan pasukan ini terjadi ketika para mediator dari Oman, pejabat AS dan Iran, menggambarkan putaran negosiasi tidak langsung terbaru di Swiss sebagai konstruktif. Sebelum perundingan berakhir, yang lagi-lagi tanpa kesepakatan. Para pejabat Israel telah menilai bahwa kemungkinan serangan AS terhadap Iran dalam waktu dekat sangat tinggi. Setelah berakhirnya perundingan tersebut, jangka waktu serangan itu mungkin telah diundur. 

Lebih dari seminggu yang lalu, Trump mengatakan dia memberi Iran waktu 10 hingga 15 hari untuk buat kesepakatan. Jika Washington menunggu putaran perundingan lanjutan yang diharapkan minggu depan, tenggat waktu itu untuk potensi serangan dapat bergeser. Seorang pejabat AS menggambarkan perundingan di Jenewa sebagai positif dan mengatakan putaran yang lainnya direncanakan untuk awal minggu depan di Wina. Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, diperkirakan tidak akan menghadiri sesi mendatang. "Kami akan terus berupaya untuk mencapai kesepakatan," kata pejabat itu, seperti dikutip Ynet dilansir Sindownews Jumat (27/2/2026).

Araghchi menyampaikan nada yang lebih optimistis di akhir perundingan di Swiss. Merak mampu mencapai beberapa hal positif terkait sanksi dan isu nuklir. Ini adalah putaran terbaik dan paling serius. Diskusi teknis tingkat ahli akan dimulai pada hari Senin mendatang, menunjukkan keseriusan kedua belah pihak mengenai proses diplomatik. Dia mengatakan konsultasi akan menyusul, mengarah ke putaran keempat perundingan. Pada isu-isu tertentu, mereka hampir mencapai pemahaman. "Ada isu-isu lain yang masih diperdebatkan. Amerika harus memilih antara dialog atau konfrontasi dengan ketegangan. Tidak ada solusi militer untuk masalah nuklir. Pihak lain telah mencoba itu di masa lalu dan gagal," ujar diplomat top Iran tersebut.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan