Abdul Aziz Ad Dabbah Ahli Ibadah, Namanya Tertulis Masuk Neraka Ini Penyebabnya

Penghuni-Neraka.-Ilustrasi -Sceenshot

koranrm.id - Di antara sunyi yang tak terjangkau pandangan manusia, Lauhul Mahfuz menyimpan catatan tentang takdir dan perjalanan setiap hamba. Pada suatu masa yang hanya diketahui oleh Allah, Malaikat memandang sebuah nama yang bersinar karena ketaatan pemiliknya. 

Nama itu adalah Abdul Aziz Ad Dabbah, dikenal sebagai ahli ibadah yang tekun dan tak pernah lalai dalam sujudnya. Namun di samping namanya, tertulis satu ketetapan yang membuat malaikat tertegun: ia tercatat sebagai penghuni neraka.

Keheranan itu mendorong malaikat turun ke bumi. Di sebuah tempat sederhana, ia mendapati Abdul Aziz tengah larut dalam ibadah malam. Wajahnya tenang, gerakannya khusyuk, seolah tak ada beban dunia yang mengganggu. Setelah ia menyelesaikan salatnya, malaikat menampakkan diri dan menyampaikan apa yang dilihatnya di Lauhul Mahfuz.

“Hai Abdul Aziz, untuk apa engkau begitu taat dan rajin beribadah. Aku melihat namamu tertulis sebagai penghuni neraka,” ucap malaikat dengan nada yang tidak menghakimi, melainkan penuh keheranan.

Abdul Aziz tidak tampak terkejut. Ia menundukkan kepala sejenak, lalu menjawab dengan suara yang lembut dan mantap. “Soal surga dan neraka bukan urusanku. Tugasku hanya beribadah sebagaimana firman Allah, bahwa Dia menciptakan jin dan manusia semata-mata untuk menyembah-Nya. Jika namaku tertulis masuk neraka, aku tetap akan taat. Ibadahku bukan untuk mengejar surga atau lari dari neraka, tetapi karena aku adalah hambaya.”

Jawaban itu membuat malaikat kembali ke langit dengan perasaan yang tak biasa. Sesampainya di Lauhul Mahfuz, ia kembali melihat nama Abdul Aziz. Kali ini, ia terperanjat. Catatan di samping nama itu telah berubah. Abdul Aziz kini tertulis sebagai penghuni surga.

Malaikat kembali turun ke bumi untuk kedua kalinya. Abdul Aziz masih dalam rutinitasnya, tenggelam dalam zikir dan doa. Malaikat menyampaikan kabar itu dengan penuh takzim. “Namamu kini tertulis sebagai penghuni surga. Apa yang telah engkau lakukan hingga terjadi perubahan ini.”

Abdul Aziz tersenyum tipis. “Aku tidak melakukan apa-apa selain menjalankan tugasku sebagai hambanya. Aku tetap beribadah, menyembah Allah. Jika memang harus masuk neraka, aku ikhlas dan rido.”

Mendengar itu, malaikat menjelaskan bahwa keikhlasan dan keridaan itulah yang membuat Allah mengubah ketetapan atas namanya. Ketundukan tanpa syarat, penghambaan tanpa pamrih, menjadi sebab rahmat Allah turun.

Namun sebelum malaikat kembali ke langit, Abdul Aziz menyampaikan satu hal yang mengganjal di hatinya. Ia ingin mengetahui sebab mengapa namanya pernah tertulis sebagai penghuni neraka. Malaikat pun membuka satu peristiwa yang telah lama berlalu, ketika Abdul Aziz masih berusia lima belas tahun.

Pada suatu pagi, ibunya berjalan pelan mendekati kamar tempat ia berbaring. Langkah kaki itu terdengar jelas. Sang ibu berniat memintanya pergi ke pasar. Abdul Aziz yang telah terjaga memilih memejamkan mata dan berpura-pura tertidur. Ia enggan beranjak dari tempat tidur. Ibunya akhirnya mengurungkan niat dan  ibunya pergi sendiri.

“Atas sikapmu yang berpura-pura tertidur padahal engkau telah terjaga, Allah murka,” kata malaikat. Peristiwa itu mungkin tampak kecil di mata manusia, tetapi tidak dalam timbangan langit. Mengabaikan panggilan ibu, meski tanpa kata kasar atau bantahan, tetaplah bentuk kelalaian terhadap bakti.

Kisah Abdul Aziz menggambarkan betapa hubungan seorang anak dengan orang tua memiliki kedudukan yang agung. Dalam ajaran Islam, berbakti kepada orang tua ditempatkan setelah perintah menyembah Allah. 

Al-Qur’an dalam Surah Al-Isra ayat 23 menegaskan larangan berkata kasar dan perintah berbuat baik kepada keduanya. Ulama tafsir menjelaskan bahwa bahkan isyarat penolakan halus pun dapat bernilai dosa jika melukai hati orang tua.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan