Erosi Sungai Manjuto, 5 Hektar Sawah di Desa Resno Terancam Hanyut

Terdampak Longsor, 5 Hektar Sawah di Desa Resno Terancam Hanyut.-Deni Saputra-Radar Mukomuko

koranrm.id – Longsor di bibir Sungai Manjuto, tidak hanya berdampak buruk terhadap pemukiman, tapi juga persawahan. Setidaknya ada 5 hektar sawah di Desa Resno, Kecamatan V Koto, yang sekarang terancam hilang akibat longsor bibir Sungai Manjuto yang terus terjadi. Sawah tersebut milik petani dari kelompok tani (poktan) Tanjung Semetung Desa Resno. Sebagaimana disampaikan Kades Resno ke wartawan media ini. Pada Rabu 11 Februari 2026. 

Mardalius mengatakan, sebagai salah satu desa yang berada di tepi Sungai Manjuto, Resno juga ikut menjadi salah satu yang terkena dampak longsong bibir sungai. Tapi longsor di desa Resno bukan menyasar ke pemukiman, tapi persawahan. Setidaknya ada lima hektar sawah milik petani Resno yang terancam hilang akibat longsor. Sawah tersebut milik para anggota Poktan Tanjung Sementung yang berada di Daerah Irigasi (DI) Manjuto Kanan. Posisi saat ini aliran Sungai Manjuto dengan sawah hanya berjarak tidak lebih dari 1 meter (m). 

“Persawahan di desa kami seluas lebih kurang lima hektar terdampak longsor bibir Sungai Manjuto,”kata Kades.

Padahal dahulu, jarak aliran sungai tersebut sangat jauh dari persawahan. Bahkan seingat para petani, sawah mereka dengan aliran sungai dibatasi oleh perkebunan sawit dengan jarak lebih dari 50 meter. Tapi karena terus terjadi penggerusan bibir sungai akibat longsor, kebun sawit perlahan hanyut satu-persatu. Bahkan sekarang kebun sawit yang membatasi sungai dengan sawah sudah hilang total, tanpa tersisah satu batang pun. Sehingga pematang sawah para petani hampir tidak berbatas dengan sungai.

“Jarak sawah dengan sungai hanya sekitar 1 meter, padahal dahulu masih ada pembatas kebun sawit dengan jarak sekitar 50 meter lebih,”tuturnya.

Maka dari itu, para petani melalui pemerintah desa berharap ada tindakan dan upaya dari pemerintah daerah (pemda) maupun Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VII Bengkulu. Menurut mereka, upaya yang bisa dilakukan berupa normalisasi aliran sungai. Dilakukan pengerukan dan mengembalikan aliran Sungai Manjuto ke posisi semula. Seperti yang telah dilakukan oleh BWSS VII di Desa Pondok Panjang yang terdampak longsor. Karena posisi saat ini aliran sungai sudah jauh bergeser. 

“Kita berharap ada tindakan secepatnya dari pemerintah daerah maupun BWS. Upaya yang bisa mereka lakukan, yakni normalisasi pengerukan agar aliran sungai kembali ke posisi semula,”demikian Mardalius.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan