Inilah Nabi yang Bertemu Nabi Muhammad di Langit Pertama hingga Ketujuh Ketika Mikraj

Peringatan hari besar islam Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW di Musholla Baitul Jannah, Perumahan Danau Nibung Asri.-KIRA-Radar Mukomuko

Dalam kesunyian Makkah, Nabi Muhammad SAW menjalani sebuah perjalanan yang melampaui batas ruang dan nalar manusia. Isra dan Mikraj bukan sekadar kisah spiritual, melainkan peristiwa agung yang meneguhkan posisi Rasulullah sebagai penutup para nabi. 

Di langit demi langit, beliau tidak berjalan sendirian. Ada pertemuan-pertemuan sakral dengan para nabi terdahulu, yang masing-masing membawa pesan, makna, dan kesinambungan risalah tauhid sejak awal penciptaan manusia.

Peristiwa Mikraj terjadi pada masa sulit dalam kehidupan Rasulullah, setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Dalam situasi duka dan tekanan dakwah, Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu mengangkatnya menembus tujuh lapis langit. 

Al-Qur an mengabadikan peristiwa ini dalam Surah Al-Isra ayat 1, sementara detail perjalanannya dijelaskan dalam berbagai hadis sahih, di antaranya riwayat Imam Bukhari dan Muslim.

Langit pertama menjadi gerbang awal perjalanan tersebut. Di sana, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Adam AS, bapak seluruh manusia. Dalam hadis disebutkan bahwa Nabi Adam menyambut Rasulullah dengan penuh penghormatan, seraya berkata,  Selamat datang anak yang saleh dan nabi yang saleh.  Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pertemuan ini menandakan kesinambungan misi kemanusiaan dan tauhid, dari manusia pertama hingga penutup para nabi. 

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, sahabat terdekat Rasulullah, memaknai pertemuan ini sebagai isyarat bahwa dakwah Islam berakar kuat pada fitrah manusia sejak awal penciptaan.

Perjalanan berlanjut ke langit kedua. Di lapisan ini, Rasulullah bertemu dua nabi sekaligus, Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS. Keduanya dikenal sebagai sosok yang lembut, zuhud, dan penuh kesabaran dalam menghadapi penolakan kaumnya. 

Umar bin Khattab RA pernah menyampaikan bahwa pertemuan ini mencerminkan ujian berat yang akan terus dihadapi Rasulullah dalam dakwahnya, sebagaimana dialami para nabi sebelumnya. 

Tafsir Al-Qurthubi menekankan bahwa kehadiran Nabi Isa dan Nabi Yahya menunjukkan garis perjuangan yang sama dalam menegakkan kebenaran meski harus menghadapi penentangan.

Di langit ketiga, Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Yusuf AS, yang dianugerahi separuh ketampanan dunia. Namun, lebih dari sekadar rupa, Nabi Yusuf adalah simbol kesabaran dan keteguhan iman.

Utsman bin Affan RA, yang dikenal dengan sifat malunya yang luhur, sering mengaitkan kisah Nabi Yusuf dengan pentingnya menjaga kesucian diri dan keteguhan moral. Pertemuan ini dipahami para ulama sebagai pengingat bahwa keindahan sejati terletak pada akhlak dan kesabaran dalam menghadapi cobaan.

Langit keempat mempertemukan Rasulullah dengan Nabi Idris AS, nabi yang dikenal dengan kedalaman ilmu dan ketaatannya. Al-Qur an menyebut Nabi Idris sebagai sosok yang diangkat ke tempat yang tinggi. 

Tafsir Ath-Thabari menjelaskan bahwa pertemuan ini mengisyaratkan keutamaan ilmu dalam perjalanan kenabian. Ali bin Abi Thalib RA menegaskan bahwa ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia menuju kedekatan dengan Allah, sebagaimana Nabi Idris dimuliakan karena keilmuannya.

Di langit kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Harun AS, saudara Nabi Musa. Nabi Harun dikenal sebagai figur yang lembut dan dicintai kaumnya. Pertemuan ini membawa pesan tentang pentingnya kepemimpinan yang penuh kasih. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan