Harga Cabai Turun 20.000/kg, Senyum Ibu-Ibu Mengembang, Petani Menahan Resah

Harga Cabai Turun 20.000kg, Senyum Ibu-Ibu Mengembang, Petani Menahan Resah.-Ahmad Kartubi-Radar Mukomuko

koranrm.id - Pagi itu, Pasar Hari Rabu di Desa Lubuk Sanai, Kecamatan XIV Koto,kab Mukomuko tampak berbeda dari biasanya. Deretan lapak sayur yang sejak subuh disesaki ibu-ibu rumah tangga menyuguhkan warna merah cabai yang mencolok, seolah menjadi penanda perubahan suasana. 

Rabu, 21 Januari 2026, pasar tradisional yang hidup seminggu sekali itu mencatat sebuah momen yang lama dinanti para konsumen: harga cabai merah keriting turun tajam hingga Rp20.000 per kilogram, sementara cabai setan masih bertahan di angka Rp40.000 per kilogram.

Penurunan harga cabai merah keriting menjadi catatan tersendiri bagi para pengunjung pasar, terutama kaum ibu. Setelah berbulan-bulan mengeluhkan harga cabai yang melambung, pagi itu percakapan mereka terdengar lebih ringan, diselingi senyum dan tawa kecil. 

Bagi banyak keluarga di pedesaan, cabai bukan sekadar pelengkap dapur, melainkan bagian dari keseharian yang tak terpisahkan dari cita rasa masakan.

Ibu Mei, salah satu pengunjung pasar yang datang sejak matahari belum sepenuhnya naik, memanfaatkan momen ini dengan penuh perhitungan. 

Di tangannya, tiga kilogram cabai merah keriting tampak telah siap dibawa pulang.  Jarang-jarang harganya bisa turun sampai segini. Saya beli agak banyak, nanti digiling dan disimpan di freezer,  ujarnya sambil merapikan belanjaannya. 

Menurutnya, cara ini sudah lama ia lakukan untuk menyiasati fluktuasi harga cabai, terlebih menjelang bulan puasa dan Lebaran yang biasanya diiringi lonjakan harga bahan pokok.

Bagi ibu-ibu seperti Mei, strategi menyimpan cabai dalam bentuk gilingan beku bukan sekadar soal penghematan, tetapi juga rasa aman. Mereka belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, ketika harga cabai bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat dalam waktu singkat.  Kalau sudah puasa dan dekat Lebaran, biasanya susah ditebak. Jadi sekarang mumpung murah,  katanya dengan nada lega.

Namun, kegembiraan di sisi konsumen tidak sepenuhnya sejalan dengan perasaan para petani dan pedagang kecil. Yadi, penjual cabai eceran yang menjajakan hasil kebun sendiri di pasar itu, mengaku penurunan harga cabai merah keriting justru membuatnya gundah. 

Baginya, angka Rp20.000 per kilogram terlalu rendah jika dibandingkan dengan biaya perawatan tanaman yang harus ia keluarkan.  Harga cabai merah jatuh sekali. Biaya pupuk, obat, dan tenaga tidak seimbang,  tuturnya dengan wajah lelah.

Yadi menjelaskan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, biaya produksi cenderung meningkat, sementara harga jual di tingkat pasar tidak selalu berpihak pada petani. Ketika panen melimpah, harga kerap jatuh drastis. 

Sebaliknya, saat produksi menurun, harga melonjak tinggi dan sering kali hanya dinikmati oleh rantai distribusi yang lebih panjang.  Kami di kebun sering tidak kebagian untungnya,  katanya lirih.

Kondisi ini memperlihatkan wajah ganda dari fluktuasi harga pangan. Di satu sisi, penurunan harga membawa kebahagiaan bagi konsumen yang selama ini tertekan oleh mahalnya kebutuhan dapur. 

Di sisi lain, petani kecil harus berhadapan dengan risiko kerugian akibat harga yang tak menutup ongkos produksi. Cabai setan yang masih bertahan di harga Rp40.000 per kilogram sedikit memberi napas bagi sebagian petani, namun tidak semua menanam jenis cabai tersebut.

Pasar Hari Rabu di Lubuk Sanai menjadi panggung kecil dari dinamika besar sektor hortikultura nasional. Fluktuasi harga cabai kerap dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari musim tanam, cuaca, ketersediaan pasokan, hingga distribusi. 

Ketika panen serempak terjadi, harga cenderung turun karena pasokan melimpah. Sebaliknya, gangguan cuaca atau hama bisa dengan cepat mengerek harga ke titik yang membebani konsumen.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan