Demo Meluas, Korban Tewas Meningkat Iran Putuskan Akses Internet dan Telepon
Demo Iran. -Dedi Sumanto-Screenshot
koranrm.id - Demo protes republik Iran mencuat setelah mata uang Iran menurun tajam sejak 28 Desember 2026 lalu. Bahkan saat ini, jumlah korban jiwa dalam demonstran tersebut meningkat menjadi 41 jiwa. Untuk meredam aksi demon, Iran sempat memutuskan akses internet dan telepon semalaman, hal itu dilakukan setelah ribuan demonstran dilaporkan turun ke jalan diseluruh sudut negeri, termasuk ibu kota Teheran.
Kantor Berita Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS, memantau unjuk rasa dan aktivitas para aktivis politik di negeri Iran, juga melaporkan bahwa jumlah koran jiwa dalam aksi demo itu meningkat. Dimana situasi di negara salah satu anggota OPEC tersebut, semakin rumit dan makin parah akibat korupsi dan penurunan harga minyak selama setahun terakhir.
Aksi protes ini telah berubah menjadi tantangan paling serius bagi pemimpin tertinggi airan, Ayatollah Ali Khamenei (86 tahun), dan pemerintahan teokratisnya sejak pemberontakan nasional pada 2022 lalu. Video yang diunggah di akun X dan Instagram semalam menunjukkan ribuan orang berkumpul di beberapa jalan utama di berbagai wilayah ibu kota. Satu klip tampak memperlihatkan ratusan orang di jalan utama di kawasan Karim Khan meneriakkan (matilah diktator) Setidaknya satu unggahan, terdengar teriakan (Hidup Shah,) merujuk pada Shah Iran yang digulingkan dan putranya, Reza Pahlavi, yang tinggal di pengasingan di AS. Pahlavi, 65 tahun, mengatakan ingin memimpin transisi Iran menuju demokrasi dan mendesak warga Iran untuk berdemonstrasi. Dia menyerukan agar warga memperbesar jumlah massa.
Pada Kamis tempo hari, kelompok pemantau Netblocks melaporkan adanya pemadaman internet nasional di Iran. Warga Teheran mengatakan panggilan telepon sama sekali tidak berfungsi atau terputus-putus, dan pesan SMS sangat dibatasi. Otoritas Iran sering gunakan taktik semacam ini selama kerusuhan, untuk mencegah orang menyebarkan gambar kekerasan yang dilakukan pemerintah terhadap warga sipil. Media berita resmi juga dibatasi, di mana saluran Telegram TV pemerintah dan lembaga semi-resmi berhenti beroperasi sejak sebelum tengah malam waktu setempat hingga dini hari Jumat. Selain itu, pemblokiran internet juga terjadi beberapa jam setelah Trump kembali memperingatkan Republik Islam Iran agar tidak membunuh para demonstran. "Mereka diperingatkan dengan tegas, bahkan lebih tegas daripada yang saya sampaikan kepada Anda saat ini, bahwa jika mereka melakukannya, mereka akan menanggung akibat yang sangat berat," kata Trimo dikutip Bloomberg Tecnoz.
Analis Eurasia Group mengatakan pemerintah mungkin akan mampu mengatasi gelombang kerusuhan terbaru ini, tetapi akan kesulitan mengatasi akar masalah perekonomian, dan ada risiko signifikan terjadinya demonstrasi yang lebih besar dan penindakan yang lebih brutal. Kesepakatan dengan AS yang memberi keringanan sanksi adalah cara tercepat untuk mengatasi masalah ekonomi di negara tersebut. Namun, Iran kemungkinan besar tidak akan membuat konsesi apapun pada isu-isu utama selama Khamenei tetap di posisinya sebagai pemimpin rezim saat ini.
Pemberitaan Sebelumnya pada tanggal 6 Januari 2026, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan berencana melarikan diri ke Rusia, jika demonstrasi yang sedang berlangsung di negara itu tak mampu diatasi pasukan keamanannya. Melansir The Independent, Selasa (6/1/2026) dikutip Bloomberg Tecnoz. Sumber intelijen mengungkap bahwa pemimpin berusia 86 tahun itu akan melarikan diri dari Teheran bersama 20 ajudan dan keluarganya, bila tentara dan pasukan keamanan, yang bertugas menekan demo, terbukti membelot atau gagal mengikuti perintahnya. "Rencana Khamenei dan lingkaran terdekatnya, termasuk putranya dan calon pewaris takhta, Mojtaba," ungkap sumber The Times tersebut.
Berdasarkan data terbaru dari kelompok pemantau berbasis di AS, setidaknya 35 orang tewas dalam demonstrasi tersebut. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) mengatakan empat anak termasuk di antara korban tewas dan lebih dari 1.200 orang ditahan selama protes yang berlangsung sepekan. Protes meletus dipicu oleh amblasnya mata uang rial, para demonstran menyerukan penggulingan Ayatollah. Senin malam, kantor berita semi-resmi Fars, yang memiliki hubungan dekat dengan paramiliter Korps Garda Revolusi (IRGC), melaporkan sekitar 250 petugas polisi dan 45 anggota pasukan sukarelawan Basij IRGC terluka dalam unjuk rasa tersebut. Upaya Teheran untuk meredam gelombang demonstrasi anti-pemerintah sejauh ini gagal, dan kini semakin rumit akibat ancaman Donald Trump campur tangan mendukung para demonstran.
Namun, demo tersebut belum mencapai skala kerusuhan yang melanda Iran pada 2022-2023 atas kematian Mahsa Amini, perempuan muda yang meninggal dalam tahanan polisi moral Iran karena diduga melanggar hukum hijab. Unjuk rasa tersebut dengan cepat meluas dari isu ekonomi ke rasa frustrasi. Sejumlah demonstran meneriakkan Hancurkan Republik Islam atau Matilah diktator, merujuk pada Khamenei. Pihak yang berwenang mengatakan protes masalah ekonomi legal, dan akan ditanggapi dengan dialog, tetapi pasukan keamanan bereaksi brutal. Kelompok hak asasi manusia menuduh mereka melakukan penyerangan terhadap warga sipil tanpa pandang bulu. Kesenjangan semakin lebar antara rakyat Iran biasa dan elite ulama serta keamanan yang memiliki hak istimewa, ditambah dengan masalah, inflasi dan korupsi, memicu kemarahan publik.