Rakyat Kongo Terjajah di Tengah Ladang Emas dan Berlian

Rakyat Kongo Terjajah di Tengah Ladang Emas dan Berlian.-Deni Saputra-Sceenshot

koranrm.id - Dalam kisah peradaban umat manusia, tanah yang kaya akan sumber daya alam seringkali dianggap sebagai suatu Anugerah. Sebuah berkah yang menjanjikan kemakmuran dan kekayaan. Padahal aliran minyak, kilauan emas dan berlian, fenomena ini ibarat Fatamorgana di padang pasir yang menawarkan kesegaran. Namun faktanya Ia hanya membawa bencana yang tidak terelakkan. Bayangkan sebuah negara yang baru saja menemukan ladang minyak terbesar di dunia. Alih-alih merayakan penemuan ini sebagai jalan menuju kemakmuran.

Negara itu justru terjebak dalam ketergantungan yang absolut terhadap satu komoditas. Ketika sumber daya alam menjadi satu-satunya tumpuan bagi mereka, sektor-sektor lain seperti, pertanian, manufaktur dan teknologi diabaikan. Akhirnya negara tersebut tidak lebih dari sebatang pohon yang akarnya hanya tertancap pada satu sisi yang dengan demikian ia rentan terhadap badai yang bisa datang sewaktu-waktu. Saat harga komoditas anjlok di pasaran, di sisi lain kekayaan alam adalah godaan yang memabukkan yang dengan segera akan menarik mereka yang haus akan kekuasaan uang yang mengalir bagai air dari hasil tambang. Di saat yang bersamaan aliran itu berubah menjadi lautan korupsi yang menenggelamkan integritas dan keadilan. Para penguasa yang seharusnya menjadi pelindung rakyat, malah berlomba untuk memperkaya diri sendiri dalam pusaran perebutan kendali atas kekayaan alam ini. Negara kehilangan arah dan rakyat menjadi korban terpinggirkan dalam bayang-bayang keserakahan sebuah ladang emas di tengah gurun dapat menjadi medan pertempuran bukan karena kelangkaan, tetapi karena keserakahan. Sumber daya alam memicu konflik bersenjata, perang saudara serta perebutan wilayah dan dalam kegelapan malam desingan peluru dan lendakan Bom menjadi nyanyian tragis bagi mereka yang tinggal di bawah naungan ketakutan ini. Bukannya membawa perdamaian, kekayaan alam justru menciptakan perpecahan dan penderitaan yang tidak pernah berujung. Republik demokratik Kongo adalah negara yang terjajah oleh kutukan sumber daya alam. Dilansir dari channel youtube "Kendati Demikian" negara ini diberkahi dengan kekayaan alam yang luar biasa. Dimana setiap jengkal tanahnya menyimpan emas yang berharga, berlian dan mineral langka yang menopang peradaban modern.

Dibawah hutan lebat dan pegunungan yang menjulang dengan gagah, tersembunyi koltan serta kobal dua mineral penting yang menjadi denyut nadi bagi industri elektronik dunia. Republik demokratik Kongo terjebak dalam sebuah Ironi yang menghancurkan. Dimana tanah yang kaya raya dan diberkahi dengan karunia alam justru melahirkan darah kemiskinan serta penderitaan sejak masa penjajahan. Ketika negara ini masih berada di bawah kekuasaan brutal Raja leopol 2 dari Belgia, sumber daya alam kongo telah menjadi objek kerakusan. Penjajahan telah mengeruk setiap jengkal tanah negara ini. Memperbudak rakyat dan mengalirkan kekayaannya ke Eropa. Kemudian sisa dari penjajahan itu adalah luka yang terus menganga dan tidak pernah kering. Kongo memang telah merdeka pada tahun 1960, tetapi kutukan yang tertinggal di tanah ini tetaplah hidup. Sebuah kutukan yang merusak dari dalam, menebarkan konflik dan memperdalam penderita rakyatnya. Pasca kemerdekaan, harapan kongo untuk bangkit dan hidup dengan sejahtera seakan pupus di tengah. Perpecahan dan kekuasaan yang disalahgunakan. Josep mobutu sang diktator yang memerintah dengan kejam selama lebih dari dekade menjadi wajah baru penjajahan yang beroperasi dari dia menyerap kekayaan mineral kongo untuk memperkaya diri sendiri dan koninya. Memperkuat cengkaman kekuasaan dan menindas rakyat sendiri.

Dibawah kekuasaannya, kekayaan alam kongo terus dieksploitasi. Hanya untuk kepentingan segelintir elit, sedangkan rakyat yang menjadi pemilik sah tanah itu terus tenggelam dalam kemiskinan. Korupsi di negara kongo tidak hanya menjadi noda moral, tetapi juga racun yang merusak fondasi ekonomi serta sosial. Bangsa hasil tambang yang seharusnya menjadi bahan bakar pembangunan nasional justru menguap dalam kantong-kantong pribadi para pejabat kobal yang sangat penting bagi industri baterai juga koltan yang menggerakkan perangkat elektronik menjadi komoditas yang berdarah. Keuntungan dari sumber daya ini hilang dalam transaksi kotor dan rantai gelap perdagangan global yang berlumuran dengan darah di Kongo. Tanah yang subur dengan sumber daya mineral berubah menjadi medan perang yang tidak berujung dalam beberapa dekade terakhir. Negara ini terseret dalam konflik bersenjata yang seringkali disebut sebagai perang dunia Afrika. Perang ini telah merenggut lebih dari 5 juta nyawa yang diwarnai oleh perebutan kendali atas tambang-tambang yang berharga. Kelompok-kelompok bersenjata, baik lokal maupun asing saling bertempur untuk menguasai sumber daya alam.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan