Sumber Daya Air, Ancaman Perang Masa Depan

Sumber Daya Air, Ancaman Perang Masa Depan.-Deni Saputra-Radar Mukomuko

koranrm.id - Selama ratusan tahun manusia telah berperang secara sengit untuk memperebutkan sumber daya alam. Kebutuhan terhadap tanah ,minyak, mineral berlian dan jalur perdagangan telah menyebabkan banyak konflik mematikan. Dilansir dari channel youtube Kendati Demikian, sumber minyak di kawasan Timur Tengah hingga Afrika barat, sumber daya alam telah menjadi bahan bakar. Beberapa konflik paling berdarah dan brutal dalam sejarah dunia modern. Perang kongo yang juga disebut sebagai perang dunia Afrika karena melibatkan negara dan sekitar 20 kelompok bersenjata adalah salah satu konflik paling mematikan di dunia. 

Sejak perang dunia 2 konflik ini yang berlangsung dari tahun 1998 hing 2003 oleh kekayaan sumber daya alam kongo seperti koltan timbal hingga emas dan berlian dampaknya lebih dari 5,4 juta orang kehilangan nyawa. Selama konflik yang sebagian disebabkan oleh kelaparan dan penyakit. Di sisi lain terdapat puluhan ribu wanita dan anak-anak yang diruda paksa oleh kelompok-kelompok bersenjata sebagai bagian dari taktik perang. Sementara itu di beberapa kawasan milisi bersenjata mengendalikan tambang-tambang sembari memaksa para pekerja untuk bekerja dalam kondisi yang memilukan. Laporan International Rescue menunjukkan bahwa terdapat sekitar 45.000 orang meninggal setiap bulan. Selama periode perang karena dampak tidak langsung dari konflik seperti kelaparan dan kurangnya akses pada layanan kesehatan.

Tetapi beberapa tahun dari sekarang perang bukan lagi tentang sumber daya alam mineral dan tampaknya kita akan melihat lebih banyak pertikaian untuk perebutan sumber daya paling mendasar bagi kelangsungan hidup manusia. Air sumber kehidupan yang tidak dapat tergantikan akan menjadi pusat perhatian dunia di tengah krisis perubahan iklim organisasi dan pertumbuhan populasi Global yang meningkat dengan tajam. Ketegangan terhadap akses air bersih semakin menemukan momentumnya. Seperti minyak pada abad ke-20, air kini dipandang sebagai komoditas strategis yang dapat memicu konflik antar bangsa. Sebuah narasi yang dulu mungkin terasa seperti fiksi ilmiah, tetapi kini mulai mendekati kenyataan. Pada tahun 1995 mantan Wakil Presiden Bank Dunia Dr Ismail seragaldin berkata jika perang di abad ini terjadi karena minyak. Maka perang pada abad berikutnya akan terjadi karena air, kecuali kita mengubah pendekatan kita dalam mengelola sumber daya berharga dan sangat penting ini. Kalimat ini merupakan peringatan dari sebuah ancaman nyata mengenai sumber daya air yang fundamental bagi kehidupan umat manusia yang berpotensi menjadi pemicu konflik global jika tidak dikelola dengan bijaksana. Memang seiring dengan perubahan iklim pertumbuhan populasi yang pesat urbanisasi dan eksploitasi sumber daya yang berlebihan, air menjadi komoditas yang semakin langka di berbagai belahan dunia. Badan perserikatan bangsa-bangsa memperkirakan bahwa pada tahun 2025 sekitar 1,8 miliar orang akan hidup di daerah dengan kelangkaan air yang parah dan 2/3 dari populasi dunia dapat menghadapi tekanan terkait air dan faktanya lebih dari 2 miliar orang saat ini sudah tinggal di negara-negara yang mengalami masalah terkait akses air bersih. 

Perubahan iklim telah memperburuk situasi air di seluruh duni. Peningkatan suhu Global telah menyebabkan lebih banyak air yang menguap dari tanah dan permukaan air serta mengubah pola curah hujan. Beberapa wilayah mengalami banjir yang lebih INT sementara wilayah lain menderita ringan berkepanjangan. Di Afrika subsahara misalnya perubahan iklim telah menyebabkan Danau cat menyusut hingga lebih dari 90% sejak tahun 1960-an yang berdampak buruk pada lebih dari 30 juta orang yang bergantung pada danau ini untuk kehidupannya. Sungai-sungai besar dunia yang menjadi sumber utama air bagi miliaran orang mengalami tekanan besar akibat eksploitasi berlebihan serta perubahan pola cuaca. 

Sungai nil yang menjadi tumpuan bagi sekitar 280 juta orang di 11 negara Afrika seringkali menjadi sumber ketegangan geopolitik etiiopia Mesir dan Sudan. Negara-negara yang berbagi Sungai Nil telah terlibat dalam sengketa panjang mengenai pembangunan Bendungan renaisan besar etiiopia yang menjadi ancaman serius bagi ketersediaan air di kawasan Hilir Timur Tengah yang memang dikenal sebagai salah satu kawasan paling kering di dunia telah mengalami konflik politik dan kemanusiaan dikarenakan kekeringan. 

Michael t penulis buku resour Wars berpendapat bahwa konflik masa depan kemungkinan besar akan dipicu oleh persaingan untuk mengamankan sumber daya air yang semakin langka. Menurutnya air akan menjadi alasan utama bagi banyak negara untuk membangun kekuatan militer di sepanjang perbatasan. Terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber daya konflik terkait air semakin mengkhawatirkan di masa depan, karena ia adalah sumber daya esensial yang tidak dapat digantikan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan