Cinta Resti dan Cita-Cita Roni

Cinta Resti dan Cita.-AI-Meta Ai

Di sebuah desa kecil di pinggiran sawah yang hijau, tinggal seorang pemuda bernama Roni. Ia anak seorang petani sederhana, yang sehari-hari bekerja membanting tulang di ladang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. 

Ayahnya terbiasa bangun sebelum fajar, sementara ibunya menyiapkan sarapan seadanya dari hasil kebun. Kehidupan mereka sederhana, namun penuh kehangatan.

Sejak kecil, Roni dikenal sebagai anak yang cerdas. Ia selalu menempati peringkat atas di sekolah, rajin membaca, dan tak pernah segan membantu teman-temannya memahami pelajaran. 

Di balik kesederhanaan pakaiannya dan bekal nasi singkong dari rumah, ada tekad besar yang bersemayam di hatinya: ia ingin kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), kampus bergengsi yang baginya ibarat puncak mimpi para pelajar.

Namun, cita-cita itu seringkali dianggap terlalu tinggi oleh orang-orang di sekitarnya. Bagi banyak teman sekelasnya, mimpi Roni terdengar konyol. 

Mereka tahu ekonomi keluarganya pas-pasan, bahkan untuk membeli buku tambahan saja Roni sering harus menunggu hasil panen.

“Roni, kamu mau kuliah di ITB?” celetuk seorang teman kelasnya dengan nada mengejek suatu hari.

“Mana mungkin, Ron. Biaya masuknya aja puluhan juta. Kamu kan cuma anak petani.”

Ejekan itu disambut tawa teman-teman lain. Ada yang menepuk bahu Roni sambil pura-pura prihatin, ada pula yang menertawakannya terang-terangan. 

Roni hanya tersenyum kecut. Ia tak membalas, tak marah, apalagi dendam. Dalam hatinya, ia hanya berbisik, Kalian boleh meremehkanku, tapi aku percaya usaha tak akan mengkhianati hasil.”

Di antara mereka semua, hanya ada satu orang yang berbeda: Resti.

Resti duduk di bangku sebelah kanan kelas, tak jauh dari posisi Roni. Ia gadis yang dikenal ramah, rajin, dan cukup populer di sekolah. 

Meski sering ikut tertawa bersama teman-temannya, dalam hati kecilnya ia selalu merasa iba melihat Roni jadi bahan olok-olokan. Justru di sanalah benih perasaan itu tumbuh: Resti diam-diam jatuh cinta pada Roni.

Bukan semata karena kepintarannya, melainkan karena sikapnya yang rendah hati, tekadnya yang keras, dan cara Roni menghadapi ejekan tanpa pernah membalas. Baginya, itu adalah keteguhan hati yang jarang dimiliki anak seumuran mereka.

 Resti dan Rahasia Hatinya

Resti sering memperhatikan Roni dari jauh. Saat Roni sibuk menyalin catatan di kelas, saat ia menyendiri membaca buku pinjaman dari perpustakaan, bahkan saat ia pulang sekolah dengan berjalan kaki karena tak punya uang naik ojek.

Ia ingin sekali mengungkapkan perasaannya, tapi Resti tahu Roni terlalu sibuk dengan mimpinya. 

Lagipula, ia merasa mengungkapkan cinta di tengah kondisi sulit Roni hanya akan menambah beban. Karena itu, Resti memilih untuk menjadi pendukung dalam diam.

Resti mulai pelan-pelan membantu Roni. Kadang ia pura-pura membawa dua buku catatan tambahan, lalu memberikannya pada Roni dengan alasan “punya lebih.

” Ia juga beberapa kali mengajak Roni belajar kelompok, padahal tujuan utamanya adalah memastikan Roni tidak tertinggal materi untuk persiapan ujian.

Suatu sore di perpustakaan, Resti memberanikan diri bertanya, “Ron, kamu beneran mau daftar ITB?”

Roni mengangguk penuh keyakinan. “Iya, Rest. Aku tahu mungkin kedengarannya mustahil, tapi aku pengin buktikan kalau anak desa kayak aku juga bisa.”

Jawaban itu membuat hati Resti bergetar. Di matanya, Roni bukan hanya cerdas, tapi juga punya keberanian luar biasa. 

Ia pun semakin yakin, apapun yang terjadi, ia ingin berada di sisi Roni, walau hanya sekadar memberi dukungan.

Ujian dan Tekanan

Tahun terakhir sekolah berjalan berat bagi Roni. Sambil mempersiapkan ujian akhir dan seleksi masuk perguruan tinggi, ia tetap harus membantu orangtuanya di sawah. 

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan