BPBD Mukomuko Susun Kajian Risiko Bencana

Kepala Pelaksana BPBD Mukomuko, Ruri Irawandi, ST., MT.,-Venty Zulia Wati-Radar Mukomuko

Kurangi Dampak Bencana Alam

koranrm.id - Menurut laporan dari Pusat Data Laporan Operasional (Pusdalop) setiap tahunnya, wilayah Kabupaten Mukomuko menjadi salah satu daerah di Provinsi Bengkulu yang cukup sering mengalami bencana alam, terutama banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Mengantisipasi hal ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mukomuko sedang menyusun dokumen Kajian Risiko Bencana khusus untuk wilayah Mukomuko. Dokumen ini akan menjadi acuan penting bagi para pemangku kepentingan (stakeholder) dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan, khususnya dalam upaya pengurangan risiko bencana.

"Dalam kajian itu nanti tergambarkan secara detail potensi ancaman yang ada, mulai dari yang tinggi hingga rendah. Jadi kita bisa mengetahui wilayah-wilayah mana saja yang rawan bencana,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Mukomuko, Ruri Irawandi, ST., MT., ditemui pada Selasa (19/8).

BACA JUGA:Pendidikan di Indonesia Transformasi dan Tantangan di Masa Depan

Ia menyebutkan beberapa daerah yang cukup sering terdampak bencana di antaranya Kecamatan V Koto, Lubuk Gedang, Penarik dan Ipuh. Daerah-daerah ini umumnya berada di bantaran sungai, yang rawan terhadap banjir dan tanah longsor.

"Kita ini rata-rata, wilayah Kabupaten Mukomuko dari geografis dan topografisnya itu memiliki anak-anak sungai, sungai hampir di seluruh Kecamatan. Dan itu berpotensi untuk terjadinya tanah longsor," jelasnya.

Meski air cepat naik saat hujan deras, tetapi kondisi itu memungkinkan air cepat surut. Namun, hal ini tetap tidak bisa dianggap remeh, sebab volume air yang tiba-tiba meningkat dapat menyebabkan longsor atau banjir.

Ia juga menekankan bahwa pengurangan risiko bencana bukan hanya tanggung jawab BPBD semata, melainkan perlu melibatkan seluruh masyarakat dan instansi terkait.

“Semuanya harus ikut terlibat, mulai dari pra-bencana, saat terjadi, hingga pasca-bencana. Kita semua harus berjibaku bersama-sama. Ketika bencana terjadi, kita tanggap darurat. Setelah itu pemulihan kita berkolaborasi, bersinergi dengan stakeholder terkait,” ujarnya.

BACA JUGA:Kesehatan Masyarakat di Indonesia: Tantangan dan Solusi

Mukomuko juga dikenal sebagai wilayah rawan gempa dan tsunami. Karena itu, Kepala Pelaksana BPBD menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, termasuk pemantapan jalur evakuasi dan peningkatan kesadaran dari individu, keluarga, hingga lingkungan sekitar.

“Dalam pengurangan risiko bencana ini, kita harus mulai dari diri sendiri. Waspada itu penting. Kita harus tahu potensi ancaman di sekitar, peka terhadap lingkungan, dan terus bersinergi,” pungkasnya.

Dengan adanya kajian risiko bencana ini, diharapkan seluruh pihak dapat memiliki panduan yang jelas dalam menghadapi dan mengurangi dampak bencana, serta menjadikan Mukomuko sebagai daerah yang lebih tangguh terhadap bencana alam.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan