Kewajiban Salat Jumat Bagi Kaum Lelaki dan Konsekuensinya Bagi yang Meninggalkannya

Kewajiban Salat Jumat Bagi Kaum Lelaki dan Konsekuensinya Bagi yang Meninggalkannya--screenshot dari web.

Koranrm.id - Ketika waktu menjelang tengah hari di hari Jumat, gema azan kedua mengudara, menyapu masjid dan jalan-jalan di sekitarnya. 

Bagi kaum lelaki Muslim yang telah balig dan berakal, panggilan ini bukan sekadar seruan rutin mingguan, tetapi perintah ilahi yang mengandung makna mendalam dan konsekuensi nyata. 

Salat Jumat bukan hanya ibadah, tetapi penegas identitas, kedisiplinan, dan kepatuhan terhadap perintah Allah yang tak bisa ditawar.

Kewajiban salat Jumat telah ditetapkan dengan tegas dalam Al-Qur’an surah Al-Jumu’ah ayat 9: “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. 

Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Ayat ini menjadi fondasi yang memperjelas bahwa salat Jumat adalah perintah, bukan anjuran, bagi kaum lelaki Muslim yang tidak memiliki uzur syar’i.

Di masa Rasulullah SAW, pelaksanaan salat Jumat sudah menjadi praktik utama. 

Beliau melaksanakan salat ini secara konsisten di Madinah, bahkan saat kondisi politik, sosial, maupun cuaca tidak selalu mendukung. 

Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Hendaklah orang-orang itu menghentikan meninggalkan salat Jumat, atau Allah benar-benar akan menutup hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan menjadi orang yang lalai.

BACA JUGA:Malam Jumat dan Tradisi Membaca Surah Yasin serta Al-Kahfi dalam Kehidupan Umat Islam

” Ancaman ini tidak datang tanpa alasan. Salat Jumat bukan hanya ritual, tapi pengokoh keimanan kolektif yang memperkuat hubungan umat dengan Tuhannya dan antar sesama Muslim.

Salah satu alasan mengapa salat Jumat memiliki posisi istimewa adalah karena ia bukan sekadar pengganti salat zuhur. 

Di dalamnya terkandung khutbah yang berfungsi sebagai pengingat dan pengarah umat dalam konteks spiritual maupun sosial. Ia menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu barisan, tanpa membedakan pangkat atau status. 

Momentum ini menjadikan Jumat sebagai hari yang penuh keberkahan dan evaluasi diri, sebuah momen jeda yang menghidupkan kembali kesadaran akan tujuan hidup yang hakiki.

Namun, di balik keagungan tersebut, terdapat peringatan keras bagi yang meremehkan. Dalam hadis riwayat Ahmad dan An-Nasa’i, Rasulullah bersabda, “Barang siapa meninggalkan salat Jumat tiga kali berturut-turut tanpa uzur, maka Allah akan mengunci hatinya.

” Ini bukan sekadar ancaman, melainkan isyarat bahwa mengabaikan salat Jumat secara sengaja menandakan kerapuhan iman dan menjurus pada kemunafikan. 

Sebab, mereka yang hatinya telah terkunci tak lagi peka terhadap seruan kebaikan, dan pelan-pelan kehilangan cahaya petunjuk dalam hidupnya.

Pelaksanaan salat Jumat pun tidak boleh asal-asalan. Ia harus dilakukan berjamaah, didahului khutbah yang memenuhi rukun, dan dilaksanakan pada waktu yang telah ditetapkan. 

Di tengah kesibukan dan godaan dunia yang kian kuat, meluangkan waktu untuk salat Jumat bukan hanya kewajiban, tetapi pernyataan bahwa seorang Muslim menempatkan Tuhan di atas segalanya. Menundukkan dunia demi satu rakaat suci adalah simbol kemuliaan iman.

Salat Jumat, pada akhirnya, bukan sekadar kewajiban hukum. Ia adalah kebutuhan ruhani yang menyelamatkan hati dari kebekuan. 

Ia melatih kedisiplinan, menumbuhkan kepedulian sosial, dan meneguhkan arah hidup. 

Bagi lelaki Muslim yang sadar akan makna keberadaannya, salat Jumat adalah panggilan mulia yang tidak akan pernah disia-siakan.**

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan