Ekonomi Digital Iran: Bangkitnya Startup Lokal di Tengah Sanksi dan Krisis

Ekonomi Digital Iran: Bangkitnya Startup Lokal di Tengah Sanksi dan Krisis--screenshot dari web.

KORANRM.ID - Dalam bayang-bayang sanksi internasional yang menghimpit dan krisis ekonomi berkepanjangan, Iran justru menyimpan kisah yang jarang tersorot: kebangkitan ekonomi digital yang dipimpin oleh generasi muda berjiwa inovatif. Ketika jalur ekspor minyak terhambat, transaksi perbankan dibatasi, dan akses terhadap platform global dipangkas, ekosistem startup lokal justru menemukan cara untuk tumbuh dan bertahan melalui kreativitas, teknologi, dan ketahanan digital. Iran kini menegaskan bahwa inovasi bisa tumbuh bahkan dari tanah yang paling keras.

Banyak yang mengira bahwa sanksi akan membekukan kemajuan teknologi. Namun kenyataannya, keterbatasan justru mendorong kemandirian dan eksplorasi lokal. Ketika Google, Apple, dan Amazon tidak bisa beroperasi di Iran, lahirlah versi-versi lokal mereka. Sebut saja Cafe Bazaar, toko aplikasi lokal yang kini digunakan lebih dari 40 juta orang—menyaingi Google Play di pasar domestik. Di sektor ride-hailing, Snapp dan TAPSI hadir sebagai jawaban atas ketidakhadiran Uber dan Grab. Layanan seperti Aparat menggantikan YouTube, dan Digikala tumbuh menjadi e-commerce raksasa ala Amazon versi Iran.

Kebangkitan ini tidak terjadi dalam semalam. Ia lahir dari kebutuhan mendesak untuk membangun solusi yang tidak tergantung pada luar negeri. Generasi milenial dan Gen Z Iran yang melek teknologi menjadi ujung tombak perubahan ini. Mereka membangun platform dengan pendekatan “by Iranians, for Iranians” yang tidak hanya meniru, tetapi juga menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan lokal. Misalnya, platform pembayaran seperti ZarinPal dan IDPay berkembang karena sistem global seperti PayPal atau Stripe tidak bisa digunakan. Kebutuhan akan solusi lokal mempercepat pertumbuhan teknologi finansial (fintech) domestik.

Salah satu kunci keberhasilan ekonomi digital Iran terletak pada kekuatan pendidikannya. Meskipun terisolasi, Iran memiliki salah satu sistem pendidikan teknik terbaik di kawasan Timur Tengah. Universitas Teknologi Sharif di Teheran secara konsisten menghasilkan lulusan teknik dan ilmu komputer dengan kualitas tinggi. Banyak dari mereka yang sempat bekerja di Silicon Valley, namun kembali ke tanah air untuk membangun perusahaan sendiri. Dalam iklim yang tertutup, kemampuan inovasi internal justru menjadi sumber daya paling berharga.

Pemerintah Iran, di tengah tekanan ekonomi, mulai melihat sektor digital sebagai motor alternatif pertumbuhan. Pada 2020, Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi Iran meluncurkan program Digital Economy Development Plan, yang memfokuskan pada perluasan infrastruktur internet, inkubasi startup, dan dukungan terhadap industri game, kecerdasan buatan, serta e-commerce. Kebijakan ini mempercepat pertumbuhan perusahaan rintisan di berbagai kota, tidak hanya di Teheran, tetapi juga di Mashhad, Isfahan, hingga Shiraz.

Bahkan di bidang kecerdasan buatan dan blockchain, Iran menunjukkan ketertarikan besar. Beberapa startup kini tengah mengembangkan teknologi berbasis AI untuk sektor kesehatan, keamanan siber, dan bahasa alami berbahasa Persia. Di sisi lain, keterbatasan sistem keuangan konvensional membuat blockchain menjadi alternatif yang menjanjikan, meskipun penuh dengan tantangan regulasi. Iran juga dikenal sebagai salah satu negara dengan pertambangan kripto (cryptocurrency mining) terbanyak di dunia, terutama karena biaya listrik yang rendah dan populasi muda yang adaptif terhadap teknologi baru.

Namun jalan yang ditempuh tidak selalu mulus. Isolasi dari sistem pembayaran internasional, seperti SWIFT, membuat perusahaan digital Iran sulit berekspansi ke luar negeri. Mereka juga tidak bisa dengan mudah menggunakan layanan cloud global seperti AWS atau Google Cloud. Untuk mengatasi ini, banyak startup yang mengembangkan sistem komputasi awan sendiri, dan membangun ekosistem layanan pendukung dari nol. Ketangguhan ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal mentalitas bertahan hidup dan daya cipta dalam keterbatasan.

BACA JUGA:Konflik Iran-Israel, Bayangan Panjang di Atas Palestina
Ekonomi Digital Iran: Bangkitnya Startup Lokal di Tengah Sanksi dan Krisis--screenshot dari web.

Salah satu cerita sukses paling mencolok adalah Digikala, marketplace lokal yang lahir pada 2007 dan kini mempekerjakan lebih dari 8000 orang. Dalam kondisi normal, Digikala mungkin hanya akan menjadi pemain kecil di tengah dominasi Amazon atau Alibaba. Namun justru karena tidak ada pemain global yang masuk, Digikala berhasil membangun kerajaan e-commerce dengan logistik, sistem pembayaran, dan big data buatan sendiri. Ia menjadi bukti bahwa pasar lokal bisa dibangun dan ditumbuhkan dengan kekuatan domestik penuh.

Transformasi digital juga menyentuh sektor pendidikan dan kesehatan. Aplikasi Shad yang diluncurkan pemerintah untuk pembelajaran jarak jauh saat pandemi COVID-19 kini berkembang menjadi platform edukasi online permanen. Startup lain seperti DrDr dan Paziresh24 menawarkan layanan konsultasi medis daring, menciptakan akses layanan kesehatan yang lebih inklusif di tengah keterbatasan fasilitas rumah sakit. Keberhasilan ini tidak hanya memperluas layanan, tapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi ribuan tenaga profesional muda.

Dalam skema global, Iran mungkin belum menjadi kekuatan utama dalam ekonomi digital, tetapi di tingkat kawasan, posisinya semakin diperhitungkan. Dengan populasi 88 juta jiwa, mayoritas berusia muda dan terdidik, Iran menawarkan pasar domestik yang besar dan aktif. Potensi ini menarik perhatian investor dari negara-negara tetangga seperti Turki, Armenia, serta mitra-mitra di Asia Tengah yang melihat Iran sebagai hub digital yang berkembang di luar dominasi platform Barat.

Namun Iran juga menyadari pentingnya perlindungan data dan kedaulatan digital. Pemerintah mendorong pembangunan National Information Network, jaringan internet nasional yang bisa berfungsi mandiri dari jaringan global. Meski sempat dikritik karena kekhawatiran terhadap sensor, sistem ini dimaksudkan untuk menjaga kestabilan layanan digital lokal jika terjadi pemutusan akses internasional. Langkah ini mencerminkan tren global menuju internet yang makin terfragmentasi dan nasionalistik.

Di tengah semua tantangan, narasi Iran berubah. Dari negara yang selama ini dikaitkan dengan konflik, sanksi, dan embargo, kini mulai muncul wajah baru sebagai pusat inovasi teknologi digital. Generasi muda Iran tidak menunggu dunia membuka pintu, tetapi justru menciptakan ruang-ruangnya sendiri. Mereka merintis bisnis, membangun ekosistem, dan membuktikan bahwa dunia digital bisa menjadi jalan keluar dari tekanan ekonomi dan politik.

Tentu saja, masa depan masih penuh tantangan. Ketidakpastian geopolitik, tekanan sanksi baru, hingga fluktuasi ekonomi dalam negeri bisa mengganggu momentum pertumbuhan ini. Namun jika tren saat ini terus berlanjut, dan dukungan terhadap startup semakin kuat, bukan tidak mungkin Iran menjadi salah satu kekuatan digital baru di kawasan, yang muncul bukan karena bantuan global, tapi karena ketangguhan internal.

Iran telah membuktikan bahwa bahkan dalam isolasi, inovasi tetap bisa hidup. Ekonomi digital yang kini tumbuh di bawah tekanan, perlahan membentuk wajah baru Iran—lebih modern, mandiri, dan berdaya saing tinggi di era digital global yang semakin terdesentralisasi.

________________________________________

Referensi:

• Bazyar, M., & Rahmani, S. (2023). Digital Entrepreneurship under Sanctions: Case Study of Iranian Startups. Middle East Journal of Innovation and Technology, 8(2), 99–118.

• Rahbar, H., & Esfahani, K. (2022). The Role of Tech Education in Iran’s Digital Economy Growth. Iranian Economic Review, 26(4), 331–352.

• Digikala Report. (2024). Annual Business Insights & Growth. Teheran: Digikala Press.

• Ministry of ICT Iran. (2023). Digital Economy Development Roadmap 2025. Teheran.

• Khosravi, L. (2024). Startups in Sanctioned Countries: Lessons from Iran. Journal of Global South Innovation, 5(1), 22–40.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan